Suara.com - Memaknai Hari Pahlawan tahun 2020 sangat berbeda dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Tenaga kesehatan menjadi pahlawan sesungguhnya, saat Indonesia dan dunia tengah dilanda pandemi virus Corona Covid-19.
Peran tenaga kesehatan bukan sekadar mengobati dan menyembuhkan pasien yang terinfeksi Covid-19. Tenaga kesehatan juga berperan besar dalam pencegahan penularan penyakit, lewat metode preventif dan promotif.
Namun sayangnya virus corona jenis baru nama resminya adalah SARS CoV 2 itu begitu cepat menular dan begitu ganas ketika ilmu pengetahuan tentang virus tersebut masih belum banyak dihimpun oleh para ahli.
Alhasil, korban meninggal akibat Covid-19 begitu banyak dan tak terelakkan juga menimpa para tenaga medis, termasuk dokter dan perawat.
Berdasarkan data dari Tim Mitigasi Covid-19 Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI), sebanyak 159 dokter Indonesia yang gugur karena terpapar Covid-19 per tanggal 8 November 2020.
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Muhadjir Effendy menyebutkan bahwa pandemi Covid-19 yang diibaratkan perang, sementara tenaga kesehatan seperti dokter adalah ratu dari pertempuran yang harus dilindungi agar tidak gugur lebih dulu karena virus.
Sebab, hilangnya nyawa seorang dokter akan berdampak pada pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat agar setiap penduduk Indonesia dapat mengakses layanan kesehatan.
Ketua Tim Mitigasi PB IDI dr Adib Khumaidi mengatakan pandemi Covid-19 yang merupakan perang melawan virus harus menjaga paramedis sebagai pasukan khusus.
"Apa yang harus dijaga? Ya, kesehatannya. Kalau bisa, jangan sampai ada lagi yang meninggal. Karena satu dokter yang meninggal dipersepsikan dengan 265 juta penduduk, maka sekitar 30.000 orang akan kehilangan," kata Adib, menjelaskan.
Adib mengatakan pada minggu lalu sebanyak 152 dokter yang meninggal akibat Covid-19. Namun pada awal pecan ini bertambah menjadi 159 dokter meninggal karena Covid-19. Menurutnya, masih terdapat tenaga medis dan tenaga kesehatan yang terpapar Covid-19 terkait protokol kesehatan.
Berdasarkan data dari Tim Mitigasi IDI, beberapa penyebab paparan Covid-19 pada dokter terjadi saat menangani pasien Covid-19 secara langsung, saat menangani pasien umum di fasilitas kesehatan, maupun tertular di lingkungan komunitasnya.
"Ada satu, dua, tiga rekan sejawat kami yang dirawat dalam waktu bersamaan karena terpapar Covid-19. Kami coba telusuri problemnya apa? Kendornya protokol kesehatan yang terjadi di masyarakat juga kemungkinan terjadi pada kita tenaga medis, tenaga kesehatan," kata Adib.
"Pesan tetap waspada itu harus selalu disampaikan. Jangan sampai nanti ada persepsi bahwa Covid-19 ini takdir. Yang namanya penyakit nanti juga ada yang sakit, ada yang meninggal," kata Adib melanjutkan.
Berdasarkan data dari Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) Tahun 2020, dokter yang dimiliki Indonesia sebanyak 230.685 orang. Dari data tersebut, sebanyak 149.231 orang merupakan dokter umum, 34.466 orang merupakan dokter gigi, 4.480 orang merupakan dokter gigi spesialis, dan 42.528 orang merupakan dokter spesialis. Namun data tersebut kini dipastikan menjadi berkurang lantaran banyaknya tenaga dokter yang meninggal di masa pandemi Covid-19.