Angka Stunting Tinggi di NTT Karena Bumil Tidak Periksa ke Dokter

Vania Rossa, Lilis Varwati

Kamis, 24 Desember 2020 | 06:02 WIB
Angka Stunting Tinggi di NTT Karena Bumil Tidak Periksa ke Dokter
Ilustrasi ibu hamil. (Shutterstock)

Suara.com - Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi provinsi dengan angka stunting paling banyak di Indonesia. Lembaga 1000 Days Fund menemukan bahwa salah satu penyebab banyaknya anak stunting di NTT lantaran ibu hamil tidak memeriksakan kandungannya ke puskesmas.

Melalui program Stunting Center of Excelence bersama Roche Indonesia, diketahui bahwa lantaran tidak memeriksakan kandungannya, kebanyakan ibu hamil di NTT hanya mengira-ngira usia janinnya dan tidak mengetahui kesehatan si bayi.

"Kalau kita keliling di desa, kalau saya ketemu ibu hamil, saya tanya sudah berapa bulan, mereka jawab 'oh mungkin 7 bulan'. Beberapa tidak tahu karena tidak pernah memeriksakan kandungan," kata Lead Strategist 1000 Days Fund, Zack Petersen, dalam wawancara virtual, Rabu (23/12/2020).

Menurut Zack, pemahaman masyarakat NTT mengenai stunting dan pentingnya memeriksakan kandungan masih kurang. Sehingga, edukasi perlu dilakukan dan masyarakat didorong agar mau memeriksakan kesehatan kehamilan kepada tenaga kesehatan.

Namun begitu, kendala yang terjadi memang infrastruktur juga akses informasi di NTT tidak semudah di Jakarta. Terlebih dalam situasi Pandemi Covid-19, Zack mengatakan hanya sedikit puskesmas yang tetap beroperasi.

"Di Nusa Tenggara Timur, masyarakatnya tidak mendapatkan akses informasi seperti di Jakarta. Padahal puskesmas sangat penting dalam memberikan informasi dan edukasi. Setiap ibu hamil perlu mendapatkan akses terhadap informasi kesehatan," ucap Zack.

Program stunting center of Excelence pertama kali diresmikan pada 23 November 2020. Head of Access, Policy, and Government Affair Roche Indonesia Lucia Erniawati mengatakan, Labuan Bajo dipilih sebagai tempat pertama dilakukan program tersebut karena memang memiliki angka stunting paling besar di Indonesia.

"Pak Menkes ketika itu dokter Terawan juga mengatakan, sangat pas kalau stunting center dilakukan di NTT. Karena angkanya sangat tinggi hampir 43 persen pada 2018, menjadi angka stunting tertinggi di Indonesia," ucapnya.

Menurut Lucia, menyelesaikan persoalan stunting bukan hanya tugas pemerintah, tapi juga pihak swasta dan masyarakat.

baca juga

"Stunting merupakan salah satu isu prioritas pemerintah Indonesia yang perlu diselesaikan secara bersama-sama. Perlu upaya kerja sama, dan kolaborasi multisektor, termasuk dari sektor swasta," pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Penting, Status Gizi Ibu Bisa Cegah Risiko Stunting Pada Anak

Penting, Status Gizi Ibu Bisa Cegah Risiko Stunting Pada Anak

Health | Selasa, 22 Desember 2020 | 21:39 WIB

Lebih 151 Ribu Anak di Sulawesi Selatan Menderita Stunting

Lebih 151 Ribu Anak di Sulawesi Selatan Menderita Stunting

Sulsel | Jum'at, 27 November 2020 | 15:38 WIB

Cegah Stunting, Kecamatan Ini Tanam 10 Ribu Pohon Kelor

Cegah Stunting, Kecamatan Ini Tanam 10 Ribu Pohon Kelor

Sulsel | Jum'at, 27 November 2020 | 10:26 WIB

Terkini

Nasib Kasus Febrie Adriansyah Kini di Tangan Kuntadi, Akankan Diusut Tuntas?

Nasib Kasus Febrie Adriansyah Kini di Tangan Kuntadi, Akankan Diusut Tuntas?

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:45 WIB

Rumah Dosen di Klungkung Dibobol, 12 Sertifikat Tanah Raib Dicuri

Rumah Dosen di Klungkung Dibobol, 12 Sertifikat Tanah Raib Dicuri

Bali | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:41 WIB

Pegawai Bank di Jember Bakar Kantor demi Tutupi Korupsi Rp3 Miliar

Pegawai Bank di Jember Bakar Kantor demi Tutupi Korupsi Rp3 Miliar

Jatim | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:37 WIB

QRIS Indonesia Makin Mendunia, BI Kebut Kerja Sama Pembayaran dengan Arab Saudi dan Hong Kong

QRIS Indonesia Makin Mendunia, BI Kebut Kerja Sama Pembayaran dengan Arab Saudi dan Hong Kong

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:35 WIB

Cak Imin Pastikan Prabowo Hadiri Puncak Harlah ke-28 PKB Malam Ini: Pasti Berpidato!

Cak Imin Pastikan Prabowo Hadiri Puncak Harlah ke-28 PKB Malam Ini: Pasti Berpidato!

News | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:34 WIB

Mesin Mobil Bergetar Saat RPM Rendah? Jangan Panik, Ini Penyebab dan Solusi Praktisnya

Mesin Mobil Bergetar Saat RPM Rendah? Jangan Panik, Ini Penyebab dan Solusi Praktisnya

Otomotif | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Pemerintah Siapkan Otoritas Pelindungan Data Pribadi Independen, Jadi Fondasi Regulasi AI Nasional

Pemerintah Siapkan Otoritas Pelindungan Data Pribadi Independen, Jadi Fondasi Regulasi AI Nasional

Tekno | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:30 WIB

Petaka di Ujung Tol Kalianda: Perjalanan Pikap Berakhir Duka, 2 Orang Tewas

Petaka di Ujung Tol Kalianda: Perjalanan Pikap Berakhir Duka, 2 Orang Tewas

Lampung | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:29 WIB

Cabai Makin Murah, Tapi Daging Sapi dan Telur Ayam Terus Naik, Ini Update Harga Pangan

Cabai Makin Murah, Tapi Daging Sapi dan Telur Ayam Terus Naik, Ini Update Harga Pangan

Bisnis | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:27 WIB

Ensiklopedia Digital Open Source Berbasis MediaWiki Siap Perkuat Dokumentasi Pengetahuan Indonesia

Ensiklopedia Digital Open Source Berbasis MediaWiki Siap Perkuat Dokumentasi Pengetahuan Indonesia

Tekno | Kamis, 23 Juli 2026 | 08:25 WIB

×