alexametrics

Ilmuwan Samakan Long Covid-19 dengan Gejala yang Dirasakan Penyintas Ebola

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
Ilmuwan Samakan Long Covid-19 dengan Gejala yang Dirasakan Penyintas Ebola
Ilustrasi kelelahan (Pixabay/nastya_gepp)

Selain itu, penyintas cikungunya juga mengalami gejala yang sama.

Suara.com - Para ilmuwan sedang mempelajari kesamaan antara gejala long Covid-19 dan gejala yang sedang dialami penyintas virus Ebola dan Cikungunya dengan harapan dapat menemukan pengobatan baru.

Seperti penyintas Covid-19, orang-orang yang juga pernah terinfeksi virus lain, virus manusia yang relatif baru, sering mengalami gejala yang menetap. Hal ini tentu memengaruhi aktivitas dan kesehatan mereka sehari-hari.

Dilansir The Guardian, sekitar tiga perempat penyintas Ebola masih mengalami gejala seperti nyeri sendi dan otot, sakit kepala seperti migrain, masalah penglihatan, serta kelelahan.

Gejala-gejala itu pun mereka alami selama setahun setelah infeksi awal, dan terkadang lebih lama.

Baca Juga: Mengetahui Penularan Virus Chapare, Bisa Melalui Cairan Tubuh Mirip Ebola

Hal serupa dialami penyintas Cikungunya. Virus yang ditularkan oleh nyamuk ini dapat menyebabkan demam dan nyeri sendi yang melemahkan.

Ilustrasi kelelahan. [Shutterstock]
Ilustrasi kelelahan. [Shutterstock]

Sekitar sepertiga penyintas masih mengalami artritis atau radang sendi yang bisa bertahan selama bertahun-tahun. Gejala lainnya adalah kelelahan.

"Ini adalah jenis diskusi yang sama seperti yang kami lakukan pada Covid. Orang-orang hidupnya tidak pernah sama lagi, yang menggambarkan nyeri sendi dan kelelahan serta masalah kognitif dan semua daftar yang sudah dikenal," kata Danny Altmann, profesor imunologi di Imperial College London.

Ia menambahkan bahwa kasus Cikungunya dan Ebola seharusnya menjadi peringatan, sebab sebagian besar infeksi virus akan berakhir sama.

"Imunologi sangat dibutuhkan untuk memahami apa yang sedang terjadi," sambungnya.

Baca Juga: Virus Mirip Ebola Ditemukan, Sudah Bisa Tewaskan 3 Orang

Beberapa studi telah dilakukan, salah satunya oleh Yves Lévy dari Paris-Est Créteil University dan rekannya. Mereka menganalisis korban Ebola di Guinea, dua tahun setelah penyintas terinfeksi, yang menyebabkan demam berdarah parah dan seringkali fatal.

Komentar