Pengobatan Pasien Penyakit Kronis Bermanfaat untuk Pasien Covid-19?

Rabu, 10 Februari 2021 | 20:17 WIB
Pengobatan Pasien Penyakit Kronis Bermanfaat untuk Pasien Covid-19?
Ilustrasi penularan pasien Covid-19. [Shutterstock]

Suara.com - Penyakit infeksi biasanya sembuh ketika virus yang masuk ke dalam tubuh mati. Namun pada infeksi Covid-19, penelitian membuktikan adanya dampak jangka panjang bagi pasien yang sudah sembuh.

Hal ini membuat sekelompok ilmuwan mencoba membandingkan penanganan pasien penyakit kronis, seperti depresi dan fibromyalgia, untuk pasien Covid-19.

Dilansir Medical Express, sebuah makalah terbaru oleh Oxford University Press yang terbit di jurnal Oxford Open Immunology, membahas temuan yang mengembangkan strategi pengobatan potensial untuk pasien yang menderita gejala jangka panjang dari virus COVID-19.

Meskipun COVID-19 pada awalnya yang diyakini sebagai penyakit jangka pendek dan berlangsung antara satu dan tiga minggu, namun sejumlah besar pasien mengalami masa infeksi yang lebih lama, dengan beberapa pasien bahkan sakit selama lebih dari 12 minggu.

Fakta lainnya, pasien yang dirawat di rumah sakit 80 persennya melaporkan setidaknya satu gejala bertahan lebih dari satu bulan pertama.

Gejala infeksi COVID-19 jangka panjang sangat bervariasi mulai dari batuk, demam ringan, kelelahan, nyeri dada, sesak napas, sakit kepala, nyeri dan kelemahan otot, gangguan pencernaan, ruam, gangguan metabolisme, depresi, dan gangguan kesehatan mental.

Gejala-gejala ini memiliki hubungan yang kuat dengan sistem kekebalan tubuh. Jika terjadi dalam waktu lama, bahkan infeksi dan juga peradangan ringan dapat menyebabkan depresi.

Para peneliti mengeksplorasi dampak jangka panjang infeksi berulang, dan pengaruhnya terhadap sistem kekebalan tubuh. Merujuk pada bukti ilmiah dari beberapa dekade terakhir, penelitian skala besar tentang sindrom kelelahan kronis, fibromyalgia, depresi, dan gangguan kesehatan mental lainnya yang menunjukkan adanya kelainan dalam sistem kekebalan.

Dengan demikian, pengobatan untuk pasien depresi saat ini juga turut menggunakan obat anti-inflamasi. Faktor psikososial juga sangat penting dalam mengatur aktivasi kekebalan tubuh, seperti strategi mengatasi tingkat stres pasien dengan peningkatan dukungan sosial, latihan fisik, dan diet yang disesuaikan yang dapat berguna mengelola gejala jangka panjang yang terkait dengan COVID-19.

Baca Juga: Pasien Kanker Padat Bisa Dapat Vaksinasi Covid-19, Ini Syaratnya

"Kami menyarankan untuk mengambil manfaat dari apa yang telah kami pelajari selama bertahun-tahun, yaitu tentang bagaimana otak dan sistem kekebalan berkomunikasi, dan pengaruhnya untuk sistem kekebalan tubuh terhadap perkembangan gejala COVID jangka panjang dan kondisi medis lainnya," ungkap pemimpin studi, Valeria Mondelli.

Menurutnya, ini akan mempercepat pemahaman terhadap mekanisme yang mendasari infeksi COVID-19 jangka panjang dan metode pengobatan yang efektif.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI