WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang akan Alami Gangguan Pendengaran pada 2050

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Rabu, 03 Maret 2021 | 16:30 WIB
WHO Prediksi 2,5 Miliar Orang akan Alami Gangguan Pendengaran pada 2050
Ilustrasi telinga, gangguan pendengaran. (Shutterstock)

Suara.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa miliaran orang diperkirakan akan mengalami gangguan pendengaran pada tahun 2050 mendatang.

Sekitar 2,5 miliar orang di seluruh dunia atau sekitar 1 dari 4 orang akan alami gangguan pendengaran pada 2050 nanti. Karena itu, WHO menyerukan metode pencegahan dan pengobatan terbaik di seluruh dunia.

Di sebagian besar negara, perawatan telinga dan pendengaran memang masih belum terintegrasi dalam sistem kesehatan nasional.

Lalu, mengakses layanan perawatan medis merupakan tantangan bagi mereka yang menderita masalah telinga dan gangguan pendengaran.

Selain itu, akses ke perawatan telinga dan pendengaran tidak didengarkan dan didokumentasikan dengan baik. Sehingga indikator yang tidak relevan tidak tersedia dan sistem informasi kesehatan kurang mendalam.

Ilustrasi telinga (shutterstock)
Ilustrasi telinga (shutterstock)

WHO telah mencatat bahwa kurangnya akses ke perawatan medis, terutama di negara berpenghasilan rendah menunjukkan bahwa kondisi ini berkontribusi besar pada masalah kesehatan pendengaran.

Misalnya di negara berpenghasilan rendah sekitar 78 persen memiliki kurang dari 1 spesialis telinga, hidung dan tenggorokan (THT) per satu juta penduduk.

"Bahkan di negara dengan proporsi profesional perawatan telinga dan pendengaran yang relatif tinggi, terdapat distribusi spesialis yang tidak merata," kata WHO dikutip dari Fox News.

Hal ini tidak hanya menjadi tantangan bagi semua orang yang membutuhkan perawatan medis telinga, tetapi juga pemerintah.

Kehilangan pendengaran atau gangguan pendengaran bisa dicegah dengan strategi intervensi yang lebih baik. Misalnya pada anak-anak, hampir 60 persen gangguan pendengaran bisa dicegah melalui vaksinasi tertentu dan peningkatan perawatan ibu dan bayinya.

Perawatan medis dan bedah dapat menyembuhkan sebagian besar penyakit yang menyebabkan gangguan pendengaran.

Tapi, jika gangguan pendengaran tidak bissa disembuhkan, rehabilitasi juga pilihan yang terbaik untuk mencegah dampaknya.

"Anda bisa memanfaatkan teknologi pendengaran, seperti alat bantu dengar, implan koklea jika dilengkapi dengan kayanan medis dukungan tepat. Tapi, terapi rehabilitasi lebih efektif dan hemat biaya," jelasnya.

Jika masalah gangguan pendengaran ini diabaikan, jumlah orang menderita penyakit ini bisa meningkat lebih dari 1,5 kali lipat selama 3 tahun mendatang atau 2,5 miliar orang.

Dalam konteksnya, sekitar 1,6 miliar orang yang menderita gangguan pendengaran pada 2019. Sekitar 700 juta dari 2,5 miliar kemungkinan akan membutuhkan perawatan medis untuk gangguan pendengarannya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Stop Korek Telinga Pakai Cotton Bud, Ini Bahayanya!

Stop Korek Telinga Pakai Cotton Bud, Ini Bahayanya!

Health | Rabu, 03 Maret 2021 | 14:46 WIB

Jangan Dikorek, Begini Beda Perawatan Telinga Dewasa dan Anak

Jangan Dikorek, Begini Beda Perawatan Telinga Dewasa dan Anak

Health | Rabu, 03 Maret 2021 | 12:38 WIB

Indonesia Belum Mampu Skrining Bayi Lahir Tuli, Apa Sebab?

Indonesia Belum Mampu Skrining Bayi Lahir Tuli, Apa Sebab?

Health | Rabu, 03 Maret 2021 | 12:13 WIB

Terkini

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Apakah Alat Traksi Leher Aman? Ini Penjelasan Medis dan Cara Menggunakannya

Health | Rabu, 01 April 2026 | 10:55 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB