alexametrics

Studi Ungkap Pentingnya Dukungan Kesehatan Jiwa Bagi Perawat Saat Pandemi

M. Reza Sulaiman | Aflaha Rizal Bahtiar
Studi Ungkap Pentingnya Dukungan Kesehatan Jiwa Bagi Perawat Saat Pandemi
Ilustrasi tenaga kesehatan mengalami burnout karena pandemi. (Dok. Elements Envato)

Dukungan kesehatan jiwa sangat diperlukan di tengah bencana, termasuk pandemi Covid-19.

Suara.com - Dukungan kesehatan jiwa sangat diperlukan di tengah bencana, termasuk pandemi Covid-19.

Penelitian dari NYU Rory Meyers College of Nursing mengungkap, saat gelombang pertama COVID-19 terjadi di New York, para perawat mengalami kecemasan dan depresi. Namun, dukungan kesehatan jiwa yang diberikan oleh rumah sakit cukup membantu.

"Bagian yang paling penting dari respon kesehatan terhadap pandemi COVID-19, ialah harus mendukung kesehatan mental petugas kesehatan sebagai garda terdepan," ungkap Christine T. Kovner, RN, Ph.D, bersama rekan studinya yakni Profesor Mathey Mezey, dari perawatan geriatric di NYU Meyers.

Melansir dari Medical Express, pandemi COVID-19 telah membebani sistem kesehatan di seluruh dunia. Krisis kesehatan masyarakat yang terjadi juga telah membuat para perawat mengalami stres. Sebab, perawat tidak hanya bekerja demi pasien yang sakit, melainkan juga cemas karena takut tertular virus tersebut.

Baca Juga: Ratu Entok Dipolisikan Usai Viral Lecehkan Profesi Perawat

Ilustrasi perawat (Unsplash)
Ilustrasi perawat (Unsplash)

Penelitian ini menunjukkan, perawat yang merespons bencana juga dapat mengalami kecemasan dan juga depresi. Diterbitkan oleh Nursing Outlook, studi ini meneliti faktor yang menyebabkan COVID-19 yang mengganggu kesehatan mental para perawat.

Lewat survei yang dilakukan Christine T. Kovner bersama rekannya, ada 2.495 perawat di empat rumah sakit di wilayah New York City, yang merupakan bagian dari NYU Langone Health. Survei ini dilakukan mulai dari Mei hingga Juli 2020, sejak gelombang pertama pandemi terjadi.

Temuan studi ini meliputi:

  1. Sekitar 27 persen perawat melaporkan adanya 17 persen mengalami kecemasan dan juga depresi.
  2. Semakin banyak perawat merawat pasien dengan COVID-19, semakin tinggi risiko depresi dan juga kecemasan.
  3. Perawat berusia muda cenderung merasa cemas dan depresi, dibanding dengan perawat berusia tua.
  4. Perawat yang bekerja di unit perawatan intensif, lebih mungkin mengalami depresi dibanding tempat unit lain.

Selain itu, perawat yang mengalami dampak COVID-19 tidak hanya di tempat kerjanya, melainkan juga di tempat tinggal mereka. Bahkan, 13 persen perawat melaporkan telah tertular COVID-19. Diikuti 24 persen yang memiliki keluarga atau teman dekat yang ikut tertular.

Hampir setengahnya, perawat yang disurvei harus mengisolasi diri, seperti isolasi lewat rumah yang disediakan dari rumah sakit.

Baca Juga: Mantap! Adakan Kajian Ramadhan, KBRI Canberra Bahas Kesehatan Mental

"Rumah sakit perlu memainkan peran dalam membangun dan mempertahankan tenaga kesehatan. Sehingga dapat meminimalisir faktor-faktor seperti stres, depresi, dan kecemasan selama masa krisis," imbay Kovner.

Komentar