Penderita Rabun Jauh Memiliki Kualitas Tidur yang Lebih Buruk

Vania Rossa, Aflaha Rizal Bahtiar

Rabu, 26 Mei 2021 | 06:29 WIB
Penderita Rabun Jauh Memiliki Kualitas Tidur yang Lebih Buruk
Ilustrasi rabun jauh dan gangguan tidur. (Elements Envato)

Suara.com -
Penelitian baru dari Flinders University di Australia menunjukkan orang dengan miopia atau rabun jauh lebih cenderung mengalami kualitas tidur yang lebih buruk daripada orang dengan penglihatan normal.

Studi tersebut menunjukkan bahwa orang dengan rabun jauh memiliki ritme sirkadian yang lebih lambat dan produksi melatonin yang lebih rendah, dibandingkan orang dengan penglihatan normal.

Dilansir dari MedicalXpress, ahli kacamata Dr. Ranjay Chakraborty, dari Flinders University Caring Futures Institute, mengatakan penelitian tersebut menambah bukti yang berkembang tentang hubungan potensial antara gangguan ritme sirkadian dan perkembangan miopia.

"Gangguan pada ritme sirkadian dan tidur karena munculnya cahaya buatan dan penggunaan perangkat elektronik yang memancarkan cahaya untuk membaca dan hiburan telah menjadi masalah kesehatan yang diakui di beberapa bidang, tetapi dampaknya terhadap kesehatan mata belum dipelajari secara ekstensif," dia berkata.

"Temuan ini memberikan bukti penting bahwa tidur yang optimal dan ritme sirkadian tidak hanya penting untuk kesehatan umum, tetapi juga untuk penglihatan yang baik," tambahnya.

Dalam studi yang dilakukan bekerja sama dengan Flinders University Sleep Institute, waktu sirkadian dan produksi melatonin diukur pada orang dengan miopia dan orang dengan penglihatan normal. Semua peserta adalah mahasiswa, berusia dua puluhan.

Melatonin adalah hormon yang dikeluarkan oleh kelenjar pineal di otak untuk menjaga siklus tidur-bangun tubuh dan ritme sirkadian. Hormon ini diproduksi segera setelah dimulainya kegelapan, dan produksinya memuncak antara pukul 2-4 pagi.

Dr. Chakraborty mengatakan tingkat melatonin diukur pada peserta melalui sampel air liur dan urin, dan bahwa orang dewasa muda dengan miopia telah secara signifikan memperlambat ritme sirkadian dan keluaran melatonin yang lebih rendah dibandingkan dengan peserta yang terlihat normal.

Miopia adalah gangguan penglihatan yang paling umum terjadi di antara anak-anak dan dewasa muda, dan dalam kasus yang parah menjadi predisposisi mereka untuk beberapa penyakit yang menyilaukan di masa dewasa seperti robekan dan lepasnya retina, glaukoma, dan katarak.

baca juga

Miopia umumnya terjadi pada anak-anak di sekitar tahap pubertas, tetapi juga dapat muncul pada usia berapa pun di masa kanak-kanak. Kasus miopia global sedang meningkat, dengan beberapa penelitian menunjukkan hubungan antara penggunaan layar yang berlebihan sebagai permulaan kondisi.

Dr. Chakraborty mengatakan kebiasaan tidur anak-anak dan paparan waktu layar harus dievaluasi ulang untuk mengurangi kemungkinan miopia berkembang pada orang muda.

Tidur yang cukup sangat penting untuk pembelajaran, ingatan, perhatian berkelanjutan, prestasi akademis di sekolah, dan kesehatan secara umum anak-anak selama perkembangan awal, "katanya.

Banyak perangkat digital yang memancarkan cahaya biru, yang dapat menekan produksi melatonin dan menyebabkan keterlambatan ritme sirkadian di malam hari, yang mengakibatkan keterlambatan dan tidur yang buruk. Sehingga penting bagi orangtua untuk membatasi paparan perangkat digital pada anak-anak, terutama di malam hari, untuk memastikan mereka tidur nyenyak dan memiliki penglihatan yang sehat.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jarang Disadari, Ini 3 Kebiasaan yang Memicu Penuaan Dini

Jarang Disadari, Ini 3 Kebiasaan yang Memicu Penuaan Dini

Your Say | Sabtu, 08 Mei 2021 | 15:13 WIB

Mendengarkan Musik sebelum Tidur Punya Banyak Manfaat, Apa Saja?

Mendengarkan Musik sebelum Tidur Punya Banyak Manfaat, Apa Saja?

Health | Senin, 26 April 2021 | 09:15 WIB

Studi Sebut Kebiasaan Nyemil di Malam Hari Sebabkan Kualitas Kerja Menurun

Studi Sebut Kebiasaan Nyemil di Malam Hari Sebabkan Kualitas Kerja Menurun

Health | Kamis, 08 April 2021 | 08:49 WIB

Terkini

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

WHO Sebut Pengobatan Gigi Jadi Beban Kesehatan Terbesar Ketiga Secara Global

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:05 WIB

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Tak Hanya Fisik, Polusi Udara Juga Mengancam Kesehatan Mental

Health | Senin, 22 Juni 2026 | 10:00 WIB

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Makin Banyak Anak Puber Sebelum Waktunya, Dokter Kandungan Waspada Gangguan Hormon!

Health | Minggu, 21 Juni 2026 | 10:41 WIB

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Bukan Sekadar Haus, Ini Alasan Mengapa Air Putih Saja Tidak Cukup Saat Latihan Intens

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:51 WIB

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Informed Consent Bukan Sekadar Formalitas: Mengapa Dokter Wajib Bicara Langsung dengan Anda?

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 16:03 WIB

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Sering Dianggap Ganas, Padahal Sebagian Besar Tumor Otak Bersifat Jinak

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 15:14 WIB

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Kasus Dermatitis pada Bayi dan Anak Terus Meningkat, Ini Cara Cegah Eksim Si Kecil Kambuh

Health | Sabtu, 20 Juni 2026 | 09:45 WIB

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Terapi Stem Cell Kian Berkembang, untuk Peremajaan Kulit hingga Pemulihan Cedera Sendi

Health | Jum'at, 19 Juni 2026 | 17:01 WIB

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Mata Merah dan Buram Tak Boleh Dianggap Sepele, Bisa Jadi Tanda Kerusakan Kornea

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 22:00 WIB

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Kesehatan Penglihatan Tak Boleh Diabaikan, Ini Pentingnya Koreksi Refraksi yang Tepat

Health | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:32 WIB