alexametrics

Markis Kido Meninggal, Jangan Lakukan Ini Saat Beri Pertolongan Pertama Serangan Jantung

M. Reza Sulaiman | Dini Afrianti Efendi
Markis Kido Meninggal, Jangan Lakukan Ini Saat Beri Pertolongan Pertama Serangan Jantung
Markis Kido (Instagram @badminton.ina)

Dokter jantung berpesan agar pertolongan pertama serangan jantung tidak melakukan hal-hal ini.

Suara.com - Meninggalnya Markis Kido, Legenda Bulutangkis Tanah Air mengagetkan masyarakat Indonesia. Ia meninggal di usia terbilang muda yakni 36 tahun, karena serangan jantung.

Dokter Spesialis Jatung dan Pembuluh Darah, dr. Vito Anggarino Damay berpesan pertolongan pertama serangan jantung atau orang yang sedang kolaps tanpa benturan dilarang untuk didudukkan.

"Orang yang kolaps, pingsan atau tidak sadarkan diri jangan didudukkan harusnya dibaringkan," ujar dr. Vito dalam keterangannya kepada suara.com, Selasa (15/6/2021).

Alih-alih didudukan, dr.Vito mengatakan saat seseorang tidak sadarkan diri atau pingsan tanpa benturan, maka langkah pertama adalah cek napas dari mulut dan hidung, cek kesadaran apakah dia merespon panggilan atau bersuara.

Baca Juga: Jenazah Markis Kido Tinggalkan Rumah Duka

"Untuk medis segera cek denyut nadi, jika tidak ada respon (tidak bernapas, tidak merespon panggilan, nadi tidak berdenyut) maka CPR harus dilakukan," jelas dr. Vito.

CPR (cardiopulmonary resuscitation) atau dikenal RJP (resusitasi jantung paru), adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang mengalami henti napas.

Tujuan CPR dilakukan adalah untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup dengan teknik pemijatan atau penekanan di dada.

Larangan kedua, ialah jangan berikan pasien yang sedang tidak sadar tersebut makan atau minum.

Makan dan minum boleh diberikan apabila pasien tersebut sudah benar-benar sadar, lalu bisa melakukannya sendiri.

Baca Juga: Dokter Ingatkan Pentingnya Kemampuan CPR Pada Atlet dan Orang Sekitar Atlet

"Jadi dua prinsip yang harus diketahui penolong," pungkas dr. Vito.

Komentar