alexametrics

Studi CISDI Sebut Kasus Covid-19 DKI Jakarta 12 Kali Lebih Banyak Dibanding Data Resmi

Risna Halidi | Dini Afrianti Efendi
Studi CISDI Sebut Kasus Covid-19 DKI Jakarta 12 Kali Lebih Banyak Dibanding Data Resmi
Warga melintas di trotoar jalan Sudirman, Jakarta, Senin (14/9). [Suara.com/Oke Atmaja]

Sebuah studi terbaru menunjukkan bagaimana kasus Covid-19 di DKI Jakarta nyatanya 12 kali lebih banyak dibanding data yang dilaporkan saat ini.

Suara.com - Sebuah studi terbaru menunjukkan bagaimana kasus Covid-19 di DKI Jakarta nyatanya 12 kali lebih banyak dibanding data yang dilaporkan saat ini.

Studi ini dilakukan oleh Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), dengan metode tes serologi, yakni sampel darah, serum, ataupun plasma keseluruhan.

Responden diperiksa untuk melihat tanda atau riwayat adanya virus penyebab sakit Covid-19 dengan mengetahui kandungan antibodi yang terbentuk dalam tubuh.

"Laporan ini secara garis besar menyebut prevalensi serologi terhadap antibodi melawan SARS CoV 2 di Kecamatan Tanjung Priok pada periode studi adalah 29,9 persen atau 12 kali lebih tinggi dari kasus positif kumulatif yang terlacak dan terlaporkan ketika itu," ujar Direktur Kebijakan CISDI - Olivia Herlinda saat memaparkan hasil penelitian, Kamis (17/6/2021).

Baca Juga: Sebut Varian Baru Corona Mungkin Hilangkan Efek Vaksin, Ini Jawaban Dokter Paru

Fakta kasus infeksi yang 12 kali lipat lebih tinggi ini, kata Olivia, terkait erat dengan kasus asimtomatik atau orang positif Covid-19 tanpa bergejala, yang tidak memeriksakan diri atau bahkan tidak terdeteksi.

Fakta ini, juga mengartikan kasus Covid-19 di Indonesia selaiknya fenomena gunung es yang menunjukkan di permukaan kasus terlihat sedikit, tapi kenyataanya masih banyak yang belum terungkap atau terlaporkan.

"Peningkatan test atau pengoptimalan pelacakan kasus masih banyak dibutuhkan. Meskipun tes di DKI Jakarta sudah sangat tinggi, tapi memang data menunjukan demikian (masih banyak kasus tidak terlaporkan)," terang Olivia.

Adapun penelitian tes serologi ini dilakukan di Kecamatan Tanjung Priok, berasal dari 42 RW di 7 kelurahan di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, selama periode 23 November 2020 hingga 19 Februari 2021.

Dari data itu juga, pada tingkat RT di Tanjung Priok berdasarkan gejala, dari 956 responden reaktif (pernah positif Covid-19) 34 persen di antaranya memiliki gejala keluhan kesehatan dalam 14 hari terakhir. Di mana gejala paling banyak itu batuk, sakit kepala dan hidung berair.

Baca Juga: Kasus Covid-19 Jakarta Meroket, Tahanan Koruptor di KPK Dilarang Dibesuk Langsung Keluarga

"Percepatan vaksinasi kepada kelompok yang lebih rentan juga perlu menjadi fokus untuk meminimalisir dampak Covid-19," pungkas Olivia.

Komentar