alexametrics

Hubungan Antara Obesitas dengan Kematian Covid-19 di Seluruh Dunia Makin Jelas

Rima Sekarani Imamun Nissa | Rosiana Chozanah
Hubungan Antara Obesitas dengan Kematian Covid-19 di Seluruh Dunia Makin Jelas
Ilustrasi perempuan mengalami obesitas. (Shutterstock)

Obesitas meningkatkan risiko kematian pada penderita Covid-19.

Suara.com - Sebuah studi baru dari The University of Texas, San Antonio, dan University of Wisconsin-Milwaukee semakin memperjelas hubungan antara obesitas dengan kematian.

Sejak pandemi virus corona terjadi, kelompok peneliti ini menyelidiki apakah kelebihan berat badan sangat berkaitan dengan kematian Covid-19 di seluruh dunia.

Penulis juga menjelaskan bahwa secara klinis kelebihan berat badan terkait beberpa penyakit komorbid yang meningkatkan Covid-19 parah hingga kematian.

Selain itu, obesitas juga membuat waktu penularan lebih lama, sehingga menyebabkan tingkat paparan virus corona yang tinggi.

Baca Juga: LaporCovid-19: Masyarakat Dininabobokan Pemerintah dengan Data Manis Covid-19

Untuk mengidentifikasi pola potensial dalam data, para peneliti menggunakan teknik analisis statistik mutakhir, lapor Medical Xpress.

Ilustrasi obesitas. [unsplash]
Ilustrasi obesitas. [unsplash]

"Temuan utama dari analisis ini adalah hubungan positif yang tinggi secara statistik antara kematian Covid-19 dengan proporsi orang dewasa di 154 negara. Asosiasi ini berlaku di seluruh negara, termasuk pada kelompok pendapatan yang berbeda dan tidak sensitif terhadap usia, rata-rata populasi, jumlah orang tua, dan/atau proporsi wanita," kata Peneliti utama Hamid Beladi.

Beladi melihat ketika proporsi penderita obesitas di suatu negara satu poin persentase lebih tinggi dari jumlah kelebihan berat badan di negara kedua, kematian Covid-19 akan meningkat di negara pertama.

"Rata-rata lebih kecil kemungkinannya untuk meninggal karena Covid-19 di negara dengan proporsi penderita obesitas dewasa, daripada di negara dengan jumlah obesitas relatif tinggi," sambung Beladi.

Temuan ini membuat penelti mendorong penegakan peraturan kebijakan di industri makanan, terutama yang hanya menguntungkan penjualan, biasanya makanan olahan yang mengandung garam, gula dan lemak jenuh tinggi.

Baca Juga: Dirut PT Transjakarta Meninggal Dunia, Manajemen Pastikan Bukan karena Covid-19

Komentar