alexametrics

Apakah Kebiasaan Membaca Buku Bisa Merusak Mata?

Risna Halidi | Lilis Varwati
Apakah Kebiasaan Membaca Buku Bisa Merusak Mata?
Ilustrasi membaca buku. (pexels.com/George Milton)

Jika menatap layar dapat merusak mata, bagaimana dengan membaca buku?

Suara.com - Aktivitas membaca buku tidak akan merusak jaringan pada mata yang bisa menyebabkan penyakit serius.

Hal itu dikatakan oleh Dokter Spesialis Mata Konsultan RSCM Dr. dr. Gitalisa Andayani, Sp.M(K). Dokter Gitalisa menjelaskan, membaca hanyalah sebuah kegiatan sensorik. 

Sehingga gangguan pada mata umumnya masih bisa diatasi dengan sederhana seperti penggunaan kacamata.

"Tindakan membaca itu mungkin disertai melihat laptop jadi kedip berkurang, selain itu otot berkontraksi, paling yang terjadi adalah kelelahan mata atau mata kering," jelasnya saat Virtual Media Briefing memperingati Hari Penglihatan Sedunia 2021, Kamis (14/10/2021).

Baca Juga: Buat Acara Baby Shower, Ibu Muda Ini Sedih Tak Ada Satupun yang Hadir ke Pestanya

Ia menambahkan, kebiasaan banyak orang saat sedang serius melakukan sesuatu jadi kurang mengedipkan mata. Padahal kondisi tersebut berisiko sebabkan mata kering. 

Meski begitu, tidak akan sampai mengganggu fungsi organ mata bagian dalam.

"Jadi tidak menyebabkan katarak, tidak menyebabkan gangguan retina, tidak menyebabkan AMD (Age-related macular degeneration atau penyakit degenerasi makula)," jelas lebih lanjut.

Secara alami, fungsi organ tubuh memang akan menurun seiring usia makin tua. Kondisi itu juga terjadi pada organ mata. Oleh sebab itu, orang lanjut usia atau lansia berisiko alami AMD. Namun, kebiasaan membaca bukan termasuk penyebab lansia bisa alami penyakit tersebut.

"Faktor risikonya usia senior, kemudian hipertensi, obesitas, termasuk faktor genetik," jelasnya.

Baca Juga: Larang Transaksi Kripto Dalam Negeri, Rusia Pilih Terbitkan Mata Uang Digital Resmi

Selain mata kering, gangguan lain yang bisa terjadi akibat keguatan membaca, menurut dokter Gita, biasanya miopia atau mata minus. Terlebih selama masa pandemi Covid-19 di mana aktivitas sekolah dan bekerja banyak dilakukan secara virtual di hadapan gawai.

Komentar