alexametrics

Penelitian Ungkap Dampak Menonton TV Satu Jam Sama Buruknya dengan Merokok

Cesar Uji Tawakal | Shevinna Putti Anggraeni
Penelitian Ungkap Dampak Menonton TV Satu Jam Sama Buruknya dengan Merokok
Ilustrasi menonton TV (shutterstock)

Penelitian menemukan berdiam diri menonton TV sama buruknya dengan merokok.

Suara.com - Konsultan ahli bedah ortopedi dan tulang belakang, George Ampat menyoroti betapa berbahayanya perilaku menetap terhadap kesehatan, termasuk kesehatan jantung dan sendi, tekanan darah dan kognitif.

Sebuah penelitian juga menunjukkan lebih dari 60 persen operasi punggung bisa dihindari dengan olahraga dan gaya hidup yang lebih aktif.

George Ampat menemukan kesimpulan dampak menonton TV dengan masalah kesehatan setelah meninjau berbagai penelitian tersebut.

Direktur British Society of Lifestyle Medicine, yang juga dosen kehormatan Universitas Liverpool, akan mempresentasikan penelitiannya kepada dokter umum, ahli bedah, dan petugas medis lainnya di Rumah Sakit Universitas Royal Liverpool bulan depan.

Baca Juga: Lagi, Studi Buktikan Vaksinasi Efektif Lawan Virus Corona Penyebab Sakit Covid-19

Penelitian ini menemukan adanya lonjakan kebiasaan orang berdiam diri menonton TV atau streaming selama masa penguncian terkait pandemi virus corona Covid-19.

Dalam laporannya baru-baru ini, pengawas siaran Ofcom menemukan satu keluarga yang biasanya menghabiskan 6 jam sehari untuk menonton TV atau menikmati layanan streaming selama pandemi.

ilustrasi menonton TV (Shutterstock)
ilustrasi menonton TV (Shutterstock)

Laporan itu juga menyampaikan kebiasaan orang-orang menonton TV atau menatap layar meningkat menjadi rata-rata harian 5 jam 40 menit, artinya kebiasaan meningkat 50 menit dari tahun sebelumnya.

Geoge Ampat pun berpendapar bahwa tidak aktif secara fisik dalam waktu lama, khususnya lebih sering berdiam diri menonton TV berbahaya bagi otak dan tubuh.

Karena, duduk dalam waktu lama membuat tubuh tidak membakar makanan yang bisa berdampak pada kesehatan tubuh. Apalagi, bila Anda menonton adega kekerasan atau dramatis ketika menonton TV.

Baca Juga: Lebih dari 50 Persen Penyintas Virus Corona Alami Long Covid-19, Apa Sebabnya?

"Adegan itu bisa mengarah pada sekresi hormon stres fight-or-flight yang menyebabkan lonjakan kadar glukosa dalam darah. Pada akhirnya, hal ini menyebabkan peradangan yang terkait dengan masalah kronis dan berpotensi mematikan, seperti penyakit jantung dan tekanan darah tinggi," kata Geoge Ampat dikutip dari Express.

Hasil analisis George Ampat ini pun dituangkan dalam bukunya yang berjudul Free From Pain. Ia menunjukkan bahwa menonton TV berjam-jam bisa memangkas peluang bertaha hidup hingga 4 tahun pada pria dan lebih dari 3 tahun pada wanita.

Selain itu, duduk selama 1 jam menyebabkan beban kesehatan yang setara dengan kehilangan peluang hidup 11 menit, sama halnya dengan merokok satu batang.

Perilaku menetap atau berdiam diri selama menonton TV juga bisa menyebabkan hilangnya massa otot dan peningkatan keausan pada sendi.

George Ampat juga akan menyoroti Penelitian yang menunjukkan bahwa menonton TV dalam waktu lama bisa meningkatkan risiko demensia pada orang tua.

Satu studi membandingkan fungsi kognitif pemirsa seumur hidup versus non-penonton di atas 65-an.

Setelah menyesuaikan dengan faktor gaya hidup, Penelitian ini menemukan bahwa orang yang jarang menonton TV memiliki risiko demensia yang lebih sedikit secara signifikan.

Komentar