alexametrics

Cegah Kerumuman, Dokter Reisa Minta Gereja Siapkan Opsi Ibadah Natal dari Rumah

M. Reza Sulaiman
Cegah Kerumuman, Dokter Reisa Minta Gereja Siapkan Opsi Ibadah Natal dari Rumah
Jemaat Gereja HKBP Kedaton saat melakukan doa pada ibadah malam Natal di Bandarlampung, Kamis (24/12/2020) ANTARA/Dian Hadiyatna

Libur Natal dan Tahun Baru 2022 perlu dijaga dengan ketat, untuk mencegah kenaikan kasus COVID-19 di awal tahun depan. Pelaksanaan ibadah Natal 2021 pun perlu diperhatikan.

Suara.com - Libur Natal dan Tahun Baru 2022 perlu dijaga dengan ketat, untuk mencegah kenaikan kasus COVID-19 di awal tahun depan. Untuk itu, pelaksanaan ibadah Natal 2021 pun perlu mendapat perhatian.

Salah satunya adalah adanya opsi melaksanakan ibadah Natal 2021 dari rumah oleh gereja. Usulan ini diutarakan oleh juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19, dokter Reisa Broto Asmoro.

"Secara daring dengan tata ibadah yang telah disiapkan oleh para pengurus dan pengelola gereja agar kapasitas gereja tidak melebihi 50 persen dari batas maksimum," kata Reisa mengutip ANTARA.

Ia meminta kepada umat kristen yang akan beribadah dan merayakan hari raya Natal 2021, dan terutama panitia di gereja-gereja, membentuk satuan tugas protokol kesehatan penanganan COVID-19. Satgas ini diharapkan berkoordinasi dengan satuan tugas penanganan COVID-19 daerah yang bertujuan menjamin keamanan dan keselamatan jemaat selama pelaksanaan ibadah dan perayaan natal.

Baca Juga: Libur Natal dan Tahun Baru 2022, dr Reisa Minta Masyarakat Tunda Mudik

Salah satu operator Gereja HKBP Ciputat mengawasi layar monitor yang digunakan untuk menghubungkan jemaat yang menjalani Misa Natal di gereja maupun secara virtual, Kamis (24/12/2020). [Suara.com/Hairul Alwan]
Salah satu operator Gereja HKBP Ciputat mengawasi layar monitor yang digunakan untuk menghubungkan jemaat yang menjalani Misa Natal di gereja maupun secara virtual, Kamis (24/12/2020). [Suara.com/Hairul Alwan]

"Kami yakin KWI, PGI, dan organisasi keagamaan nasrani lain sudah punya rujukan prokes dan pengaturan ibadah yang baik karena ini merupakan natal kedua yang kita alami di masa pandemi COVID-19, " katanya.

Masyarakat yang merayakan Natal 2021 serta Tahun Baru 2022 di rumah pun lebih diuntungkan karena dapat menjaga kesehatan dan kehangatan keluarga.

"Ini bukan tahun baru pertama kita tidak berlebihan merayakan, ini kali kedua kita merayakan. Kita mesti bersyukur dengan khidmat di rumah saja bersama orang tercinta dan keluarga tersayang," ucapnya.

Masyarakat harus memperhatikan potensi bencana lain yang bukan hanya bencana alam seperti banjir, longsor, dan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) lain, tapi juga bencana akibat COVID-19. Pencegahan pun lebih baik dibandingkan baru bereaksi saat banyak korban berjatuhan.

"Mencegah dan bersiap siaga jauh lebih baik daripada mengobati dan merehabilitasi atau merekonstruksi," imbuhnya.

Baca Juga: Kapasitas Jemaat Gereja saat Natal di Lampung Dibatasi 50 Persen

Menurutnya, Natal 2021 dan Tahun Baru 2022 adalah ajang pembuktian bahwa Indonesia mampu keluar dari pandemi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Disamping itu tes, testing, tracing, dan treatment juga akan tetap digencarkan agar PPKM tetap bisa dijaga di level 1 atau terkendali.

Komentar