Studi Membuktikan 96 Persen Penduduk Indonesia Tahu Soal Stunting, Tapi Nggak Paham Dampaknya untuk Anak

M. Reza Sulaiman, Fajar Ramadhan

Rabu, 14 Desember 2022 | 14:51 WIB
Studi Membuktikan 96 Persen Penduduk Indonesia Tahu Soal Stunting, Tapi Nggak Paham Dampaknya untuk Anak
Tenaga kesehatan menimbang berat badan balita selama berlangsungnya program “BULOG Peduli Gizi” di Desa Purwosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, Kamis (6/1/2021). [Suara.com/Angga Budhiyanto]

Suara.com - Stunting alias anak lahir kerdil dan pendek masih menjadi permasalahan di Industri kesehatan. Pasalnya, berdasarkan data hingga saat ini angka stunting di Indonesia masih terbilang tinggi, yakni 24,4 persen.

Hal ini lantas menjadi pertanyaan mengapa penurunan angka stunting di Indonesia masih terhambat. Apakah masyarakat masih tidak mengetahui tentang stunting, atau adanya kendala lainnya?

Melihat permasalahan tersebut, Health Collaborative Center (HCC) membuat studi Pemaknaan Stunting di Masyarakat Indonesia untuk mengetahui sejauh mana pemahaman masyarakat terkait masalah stunting.

Peneliti Utama dan Chairman Health Collaborative Center (HCC), Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK mengatakan, dari hasil penelitian tersebut, rupanya sebanyak 96 persen responden mengetahui apa itu stunting. Bahkan, mereka percaya kalau stunting itu nyata dan bukan hoax belaka.

Ilustrasi stunting (Freepik.com)
Ilustrasi stunting (Freepik.com)

“Kita melakukan penelitian kepada responden di 31 provinsi, ternyata sebanyak 96 persen itu tahu stunting. Bahkan sebanyak 89 persen tidak setuju atau sangat tidak setuju kalau stunting itu hoax. Artinya mereka percaya stunting ada,” ungkap Dokter Ray dalam Media Briefing Hasil Studi Pemaknaan Stunting di Masyarakat, Selasa (13/12/2022).

Tidak hanya itu, sekitar 98,3 persen juga percaya kalau stunting di Indonesia berbahaya bagi kesehatan anak. Sementara 71 persen lainnya menyebutkan kalau stunting juga bisa terjadi di kota besar.

Meski hasil dari responden menunjukkan angka baik, lantas apa sih faktor yang menyebabkan penurunan stunting masih terhambat?

Rupanya, dari hasil studi ditemukan masyarakat hanya mengetahui hal-hal dasar saja mengenai stunting. Dokter Ray mengatakan, masyarakat hanya mengetahui tentang stunting tetapi tidak dengan pemaknaannya.

Ia menambahkan, masyarakat masih belum sepenuhnya percaya dampak dari stunting kepada anak meskipun menyebut kondisi ini berbahaya. Bahkan, ada beberapa pemaknaan masyarakat yang berbeda dari teori. Lalu apa saja pemaknaan yang salah tersebut? Berikut ulasannya.

baca juga
  • 5 dari 10 orang masih tidak percaya dan kurang setuju kalau stunting menghambat kognitif anak. Padahal, dari teori dan penelitian menyebutkan kalau stunting memberikan dampak negatif pada kognitif anak sehingga membuatnya menjadi lambat berpikir.
  • 4 dari 10 masih tidak setuju stunting disebabkan karena kurang nutrisi dan makanan. Padahal, stunting sendiri dapat menjadi tanda kalau gizi anak tersebut belum terpenuhi dengan baik.
  • 6 dari 10 tidak yakin kalau stunting berhubungan dengan pola asuh. Padahal, pola asuh sangat memengaruhi tumbuh kembang anak. Hal ini juga berkaitan dengan pemenuhan gizi anak tersebut serta kognitifnya.
  • 5 dari 10 percaya kalau risiko stunting bukan karena ketidakmampuan membeli pangan. Padahal, kondisi ekonomi yang buruk juga bisa menjadi pemicu stunting. Hal ini karena orang tersebut tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan setelah lahir.
  • 4 dari 10 percaya kalau stunting bukan penyakit atau kondisi medis serius. Padahal, stunting merupakan kondisi medis yang memengaruhi tumbuh kembang anak. Hal ini juga akan memengaruhi kognitif yang buruk.
  • 2 dari 10 tidak yakin bahwa stunting bisa berpengaruh bagi kondisi keluarga secara keseluruhan. Padahal, kondisi stunting dapat memengaruhi kondisi keluarga menjadi buruk.

Itu dia beberapa pemaknaan yang salah di masyarakat sehingga menghambat penurunan angka stunting di Indonesia.

Menanggapi masalah tersebut, Menteri Kesehatan RI Periode 2014-2019, Nila Djuwita Moeloek mengatakan, peningkatan pengetahuan masyarakat terhadap stunting itu sangat penting. Dengan begitu target pemerintah terkait penurunan angka stunting dapat terpenuhi.

“Peningkatan kapasitas pengetahuan kesehatan terkait stunting perlu mendapat perhatian lebih dari pemerintah dan semua pihak, agar target 14 persen penurunan stunting bisa tercapai,” jelas Nila.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Mirip Banget, Ridwan Kamil dan Neng Anne Kayak Kakak Adik

Mirip Banget, Ridwan Kamil dan Neng Anne Kayak Kakak Adik

Denpasar | Rabu, 14 Desember 2022 | 13:37 WIB

Pengetahuan Minim Jadi Biang Kerok Angka Stunting Masih Tinggi, Terus Harus Bagaimana?

Pengetahuan Minim Jadi Biang Kerok Angka Stunting Masih Tinggi, Terus Harus Bagaimana?

Health | Selasa, 13 Desember 2022 | 17:22 WIB

Gita Savitri Pakai Stunting Untuk Hujat Warganet, Pakar Tidak Setuju dan Bilang Begini

Gita Savitri Pakai Stunting Untuk Hujat Warganet, Pakar Tidak Setuju dan Bilang Begini

Health | Selasa, 13 Desember 2022 | 16:10 WIB

Terkini

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Jangan Cuma Mengejar Garis Finish, Atlet dan Pelari Perlu Lebih Peduli Kesehatan Sendi dan Tulang

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 14:11 WIB

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

4R Pemulihan yang Wajib Dilakukan Setelah Olahraga, Rahasia Atlet Elite Kembali Prima

Health | Rabu, 08 Juli 2026 | 10:57 WIB

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Jangan Terkecoh Label Inklusif, Ini 5 Cara Memilih Lingkungan Belajar yang Tepat untuk Anak

Health | Selasa, 07 Juli 2026 | 15:03 WIB

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Mendorong Anak Down Syndrome Tumbuh Mandiri Lewat Terapi dan Pelatihan

Health | Senin, 06 Juli 2026 | 16:40 WIB

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Bukan Sekadar Ambil Rapor, Kehadiran Ayah Ternyata Jadi Bekal Penting Anak Menyambut Sekolah

Health | Sabtu, 04 Juli 2026 | 14:00 WIB

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Panas Ekstrem Kian Meluas, 22 Persen Penduduk Dunia Kini Alami Heat Stress

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 18:05 WIB

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Indonesia Catat Sejarah Baru dengan Operasi Saluran Cerna Robotik Pertama

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 15:18 WIB

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Ruang Ekspresi dan Bonding Keluarga Jadi Kunci Anak Tumbuh Percaya Diri dan Bahagia

Health | Kamis, 02 Juli 2026 | 14:46 WIB

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

×