Kasus Campak Meroket di Berbagai Negara Tetangga Indonesia, Mengapa?

Bimo Aria Fundrika

Selasa, 04 Maret 2025 | 12:49 WIB
Kasus Campak Meroket di Berbagai Negara Tetangga Indonesia, Mengapa?
ilustrasi penyakit campak pada anak (freepik.com/freepik)

Suara.com - Kasus campak melonjak tajam di Asia Tenggara dan mulai menyebar ke Australia. Penyakit ini kini menjadi ancaman global. Mengapa tiba-tiba meledak?

Sepanjang Januari hingga Februari 2025, WHO mencatat 3.098 kasus campak di seluruh dunia. Tahun lalu, lonjakan kasus sudah terlihat di Vietnam dan Thailand.

Di Vietnam, kasus campak mencapai 6.725 pada 2024, naik lebih dari 130 kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Sementara di Thailand, jumlahnya meningkat drastis dari 38 kasus di 2023 menjadi 7.507 pada 2024.

Di Australia, Pemerintah Negara Bagian Victoria mengeluarkan peringatan kesehatan setelah mencatat peningkatan kasus campak, terutama dari pelancong yang kembali dari luar negeri, termasuk Vietnam. Pada 2024, jumlah kasus campak di Australia mencapai 57, naik dari 26 kasus di tahun sebelumnya.

Campak [shutterstock]
Campak [shutterstock]

Amerika Serikat pun kini menghadapi wabah campak. Di Texas, tercatat 124 kasus sejak akhir Januari, sementara di New Mexico, sembilan kasus telah dilaporkan per 20 Februari. Bahkan, satu anak meninggal akibat wabah ini.

Campak juga mewabah di berbagai negara lain, termasuk Pakistan, Yaman, Afghanistan, Kirgizstan, Ethiopia, dan Rusia. CDC AS mengingatkan bahwa campak sangat menular. Jika cakupan vaksinasi di bawah 95 persen, wabah ini dapat dengan mudah menembus batas negara dan menyebar ke komunitas mana pun.

Mengapa Campak Sangat Menular?

Campak adalah infeksi virus yang sangat menular. Penyebarannya lewat udara saat orang yang terinfeksi bernapas, batuk, atau bersin. Virus ini juga bisa menempel di permukaan dan menyebar melalui sentuhan.

Menurut Universitas McGill di Kanada, virus campak begitu kecil hingga tak terlihat dengan mikroskop biasa. Namun, dampaknya besar.

baca juga

"Campak sangat menular. Bahkan sebelum gejala muncul, virus sudah menyebar," tulis McGill dalam sebuah artikel.

Banyak dokter di negara yang telah memberantas campak tidak langsung mencurigai penyakit ini. Akibatnya, pasien yang terinfeksi bisa menularkan virus lebih lama tanpa disadari.

CDC AS menyebut campak sebagai "salah satu penyakit manusia paling menular."

WHO memperkirakan satu orang yang terinfeksi dapat menularkan virus ke sembilan dari 10 orang di sekitarnya yang belum divaksinasi.

Gejala awal muncul sebelum ruam. Pada fase ini, pasien sudah bisa menularkan virus. Risiko penularan berlanjut hingga empat hari setelah ruam timbul.

Biasanya, campak sembuh dalam tujuh hingga 10 hari. Namun, komplikasi serius bisa terjadi: pneumonia, meningitis, kebutaan, hingga kejang. Bayi, anak di bawah lima tahun, ibu hamil, serta orang dengan sistem imun lemah lebih rentan mengalami kondisi parah.

Campak bisa mematikan. Meski jarang, risikonya nyata.

Mungkinkah Mencapai Kekebalan Kelompok? 

Amerika Serikat sempat mendeklarasikan diri bebas campak pada 2000. Selama lebih dari setahun, tidak ada satu pun kasus tercatat.

Namun, cakupan vaksinasi di AS tak pernah mencapai 95 persen—ambang batas kekebalan kelompok. Angkanya fluktuatif. Sempat turun ke 89% pada 2014, lalu naik ke 92 persen pada 2018.

Pada 2021, hanya 90,6 persen anak usia 24 bulan yang sudah mendapat setidaknya satu dosis vaksin MMR.

"Di beberapa komunitas, angkanya jauh lebih rendah, membuat mereka lebih rentan," ungkap studi Universitas Johns Hopkins.

Keraguan terhadap vaksin jadi salah satu akar masalahnya. Klaim palsu tentang efek samping membuat banyak orang ragu. Hambatan lain memperparah kondisi, seperti kemiskinan dan keterbatasan akses layanan kesehatan.

"Ini makin memperburuk cakupan vaksinasi," tulis para ahli dari Universitas Emory dalam makalah tahun 2022.

Indonesia pun menghadapi tantangan serupa. Pada 2017, program imunisasi massal campak dan rubella diperpanjang karena banyak orang tua menolak. Sebagian ragu terhadap kualitas vaksin, sementara lainnya terpengaruh hoaks di media sosial.

Pandemi Covid-19 semakin memperburuk situasi. Program vaksinasi anak terganggu, cakupan vaksin menurun, dan kasus campak melonjak. Pada 2022, jumlahnya mencapai 3.341 kasus—naik 32 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

"Kalau ingin anak-anak sehat, pencegahan adalah kunci. Imunisasi harus lengkap agar daya tahan tubuh mereka siap melawan penyakit menular," tegas Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Cek Fakta: Vaksin Covid Mengandung Sebagian Virus HIV

Cek Fakta: Vaksin Covid Mengandung Sebagian Virus HIV

News | Rabu, 22 Januari 2025 | 17:47 WIB

Bolehkah Konsumsi Daging Sapi dan Kerbau yang Terpapar Virus PMK? Ini Penjelasannya

Bolehkah Konsumsi Daging Sapi dan Kerbau yang Terpapar Virus PMK? Ini Penjelasannya

News | Rabu, 22 Januari 2025 | 15:51 WIB

Perusahaan Farmasi RI Ini Bertekad jadi Produsen Vaksin Lokal dengan Harga Terjangkau

Perusahaan Farmasi RI Ini Bertekad jadi Produsen Vaksin Lokal dengan Harga Terjangkau

Bisnis | Selasa, 21 Januari 2025 | 06:55 WIB

Terkini

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Tak Cukup IQ, Psikolog Ingatkan Pentingnya Kecerdasan Emosi dan Sosial untuk Masa Depan Anak

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 18:09 WIB

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Pertama di Indonesia, Transplantasi Ginjal dengan Teknologi Robotik Berhasil Dilakukan di RS Ini

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 13:42 WIB

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Dokter Ungkap Bahaya 'Lelaki Tidak Bercerita', Bisa Picu Obesitas hingga Diabetes

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 11:13 WIB

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Masih Dianggap Sepele, 9 Penyakit Tropis Ini Diam-Diam Bisa Bikin Kantong Jebol

Health | Rabu, 01 Juli 2026 | 07:35 WIB

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Jawab Tantangan Diagnosis Kanker, RS Atma Jaya Luncurkan Layanan Hematologi dan Onkologi Terpadu

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 21:10 WIB

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Jadi Oma Baru, Maia Estianty Cerita Pentingnya Menjaga Kesehatan Tulang dan Sendi agar Kuat

Health | Selasa, 30 Juni 2026 | 15:54 WIB

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Jangan Anggap Sepele Gigi Berlubang, Ternyata Bisa Ganggu Tumbuh Kembang Anak

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:06 WIB

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Hidrasi Bukan Sekadar Hilangkan Haus, Ini Manfaatnya bagi Kesehatan Tubuh

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 22:00 WIB

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Hanya 4,9 Persen Pasien Berisiko Kardiovaskular Tinggi di Indonesia Capai Target LDL-C

Health | Senin, 29 Juni 2026 | 15:05 WIB

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Dari Kecelakaan Kerja hingga Cedera Kepala, MRI 1.5 Tesla Jadi Senjata Baru Penanganan Trauma

Health | Minggu, 28 Juni 2026 | 22:18 WIB

×