Viral Guyonan Lelaki Manja saat Sakit, Dokter Saraf Bongkar Fakta Toleransi Nyeri

Husna Rahmayunita | Dini Afrianti Efendi | Suara.com

Rabu, 24 September 2025 | 08:38 WIB
Viral Guyonan Lelaki Manja saat Sakit, Dokter Saraf Bongkar Fakta Toleransi Nyeri
Ilustrasi lelaki sakit. [Envato]
  • Laki-laki sering dibilang lebih manja dan dramatis dibanding perempuan saat terserang sakit seperti demam.
  • Menurut Dokter Saraf, rasa sakit atau nyeri lebih berhubungan dengan emosi dan ekspresi individu, bukan dengan jenis kelamin.

  • Ekspresi wajah yang tidak datar atau cemberut saat sakit menunjukkan bahwa tingkat nyeri yang dirasakan memang tinggi.

Suara.com - Viral di media sosial kelakar perempuan jatuh sakit masih bisa beraktivitas mengerjakan pekerjaan rumah hingga mengurus anak, berbanding terbalik dengan lelaki yang jatuh sakit cenderung manja. Pertanyaannya, benarkah toleransi nyeri perempuan lebih tinggi daripada lelaki?

Dokter Spesialis Saraf sekaligus Chairman Siloam Neuroscience Summit (SNS), Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, MD, PhD, FIPP, CIPS, FMIN mengatakan alih-alih berhubungan dengan jenis kelamin, nyeri atau rasa sakit sangat berhubungan dengan emosi yang terlihat dari ekspresi pasien.

“Jadi akhirnya tidak ada urusan yang laki sama perempuan. Tapi sebenarnya bahwa skala nyerinya itu memang tergantung nyeri yang dialami. Sehingga skala nyeri yang tinggi menunjukkan derajat penyakitnya mungkin berat,” ujar Prof. Yusak dalam acara SNS 2025 oleh Siloam International Hospitals di Shangri-La Hotel, Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

Prof. Yusak menjelaskan saat melihat pasien, dokter akan melihat bagaimana pasien berekspresi saat merasakan rasa sakit. Bahkan, dokter yang berkiprah di bidang saraf lebih dari 15 tahun ini mengaku bisa melihat jika pasien keliru dalam menilai rasa sakitnya.

Dokter Spesialis Saraf, Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, MD, PhD, FIPP, CIPS, FMIN di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).
Dokter Spesialis Saraf, Prof. Yusak Mangara Tua Siahaan, MD, PhD, FIPP, CIPS, FMIN di Jakarta, Sabtu (20/9/2025).

“Kita sih bilangnya begini. Bahwa memang kalau orang sakit itu harus ada emosinya. Sekarang gini, kalau kamu sakit. Tapi mukanya, saya sakit banget. Saya sakit sekarang tapi mukanya datar. Itu tadi bohongan,” paparnya.

“Jadi ada kata, jadi definisi nyeri itu adalah gangguan sekarang yang berhubungan dengan emosi. Semakin sakit kita, semakin wajahnya cemberut,” sambung Prof. Yusak.

Ia menambahkan, pandangan dan kepercayaan inilah yang akhirnya jadi dasar terciptanya alat visual analog scale, yang bisa mendeteksi rasa sakit dan menilai kadar nyeri yang dirasakan pasien agar bisa terukur. Sehingga alat tersebut akan mengetahui seberapa terganggu kehidupan pasien dengan adanya rasa nyeri itu.

“Makanya ada alat yang namanya visual analog scale. Jadi gini, kamu sakit nih. Lalu wajahnya itu dicocokin dengan gambar. Oh mukanya kayak begini. Oh berarti sakitnya segini. Jadi sebenarnya ada tuh namanya visual analog scale,” paparnya.

Adapun umumnya dokter secara manual akan bertanya kadar rasa nyeri pasien dari angka 1 yang berarti tidak sakit hingga 10 yaitu sakit sekali. Sehingga cara kerja alat itu mendeteksi skala kesakitan tersebut.

Meski begitu, Prof. Yusak yang berpraktik di Siloam Hospitals Lippo Village tidak menampik ada dugaan perempuan lebih tahan menghadapi kehidupan dibanding lelaki. Namun dari sisi toleransi nyeri menurutnya sampai saat ini belum ada penelitiannya.

“Tahan menghadapi kehidupan mungkin. Jadi jangan sakit,” ungkapnya dengan wajah bersahabat.

Profesor yang juga jadi pembicara bidang neurosains tentang pain management di perhelatan SNS 2025 pada 19 hingga 20 September ini mengungkap, mengonsumsi parasetamol cukup sebagai pertolongan pertama nyeri dan bisa diakses dengan mudah. Bahkan parasetamol tidak menimbulkan efek samping berarti di tubuh.

“Cukup kadang-kadang. Karena parasetamol cukup untuk mengobati. Makanya sebenarnya kita beruntung ya, parasetamol itu tidak merusak ginjal, tidak merusak lambung,” sambung Prof. Yusak.

Dari sisi dosis penggunaan parasetamol, menurut Prof. Yusak boleh digunakan dalam jumlah maksimal 1.000 mg per hari.

“Sehingga pemberian dosis maksimal pada parasetamol itu sudah menolong kita semua. 1.000 mg, sekali makan sudah aman,” pungkas Prof. Yusak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terbaring Lemah karena Sakit, Fahmi Bo Menangis Haru Diurus Anak dan Mantan Istri

Terbaring Lemah karena Sakit, Fahmi Bo Menangis Haru Diurus Anak dan Mantan Istri

Entertainment | Rabu, 24 September 2025 | 06:00 WIB

Melaney Ricardo Lunasi Janji Bayar Sewa Kontrakan, Fahmi Bo: Aku Nggak Bisa Ngomong Apa-Apa

Melaney Ricardo Lunasi Janji Bayar Sewa Kontrakan, Fahmi Bo: Aku Nggak Bisa Ngomong Apa-Apa

Entertainment | Selasa, 23 September 2025 | 18:02 WIB

Razman Arif Nasution Terkapar Akibat Vertigo, Berpeluang Dirujuk ke Luar Negeri

Razman Arif Nasution Terkapar Akibat Vertigo, Berpeluang Dirujuk ke Luar Negeri

Entertainment | Selasa, 23 September 2025 | 13:34 WIB

Terkini

Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan

Madu Herbal untuk Daya Tahan Tubuh: Kenali Manfaat dan Perannya bagi Kesehatan

Health | Rabu, 25 Maret 2026 | 17:44 WIB

Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit

Kenali Manfaat Injeksi Vitamin C untuk Daya Tahan dan Kesehatan Kulit

Health | Selasa, 24 Maret 2026 | 20:11 WIB

Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak

Sering Sakit Kepala? Ini Ciri-Ciri yang Mengarah ke Tumor Otak

Health | Selasa, 24 Maret 2026 | 19:11 WIB

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Pentingnya Edukasi Menstruasi untuk Remaja Perempuan, Kunci Sehat dan Percaya Diri Sejak Dini

Health | Jum'at, 20 Maret 2026 | 13:04 WIB

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Jaga Hidrasi Saat Ramadan, Ini Pentingnya Menjaga Ion Tubuh di Tengah Mobilitas Tinggi

Health | Kamis, 19 Maret 2026 | 13:49 WIB

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Waspada Makan Berlebihan Saat Lebaran: 5 Tips Cerdas Nikmati Opor Tanpa Gangguan Pencernaan!

Health | Rabu, 18 Maret 2026 | 07:05 WIB

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Ancaman Senyap di Rumah: Mengapa Kualitas Udara Buruk Sebabkan Bronkopneumonia pada Anak?

Health | Selasa, 17 Maret 2026 | 15:31 WIB

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Tips Mudik Aman untuk Pasien Gangguan Irama Jantung

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 17:14 WIB

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Jangan Abaikan Kesehatan Saat Mudik, Ini Tips Agar Perjalanan Tetap Nyaman

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 16:49 WIB

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Pelangi di Mars Tayang Jelang Lebaran, Film Anak yang Ajarkan Berani Bermimpi

Health | Senin, 16 Maret 2026 | 15:52 WIB