- Spesialis kesehatan olahraga Andhika Raspati menguraikan empat waktu ideal berolahraga saat Ramadan: setelah sahur, menjelang buka, sebelum Tarawih, dan setelah Tarawih.
- Tujuan utama olahraga selama puasa adalah mempertahankan kebugaran tubuh agar tidak menurun drastis, bukan untuk peningkatan performa signifikan.
- Intensitas latihan perlu disesuaikan dengan menghindari olahraga yang memicu dehidrasi berlebih, terutama menjelang waktu berbuka puasa.
Suara.com - Memasuki bulan Ramadan 1445 Hijriah, rutinitas harian masyarakat Indonesia mengalami penyesuaian, termasuk dalam hal berolahraga.
Menjaga kebugaran tubuh selama berpuasa seringkali menjadi dilema, di satu sisi ingin tetap aktif, di sisi lain khawatir akan dehidrasi dan kelelahan.
Menjawab keresahan ini, Andhika Raspati, seorang spesialis kesehatan olahraga, memberikan panduan komprehensif mengenai strategi berolahraga yang tepat selama bulan suci.
Kapan Waktu Ideal untuk Olahraga? Empat Pilihan yang Bisa Dicoba
Andhika menjelaskan bahwa ada empat "timing" atau waktu yang bisa dipilih untuk berolahraga saat puasa, masing-masing dengan pertimbangan tersendiri.
Pertama, setelah sahur. Pilihan ini banyak diambil karena tubuh masih memiliki cadangan energi setelah makan dan minum.
Namun, Andhika mengingatkan pentingnya memilih jenis olahraga yang tidak memicu dehidrasi berlebih.
![dr. Andhika Raspati, Sp.KO ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat pada Selasa, 10 Februari 2026. [Suara.com/Tiara Rosana]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/02/10/90826-dr-andhika-raspati-spko.jpg)
"Hindari latihan yang menguras banyak keringat. Pilih olahraga yang tidak terlalu membebani seperti nge-gym di ruangan ber-AC atau workout ringan di rumah," kata Andhika Raspati.
Dia menambahkan bahwa olahraga jenis ini dapat dilakukan sekitar pukul 07.00-08.00 pagi.
Kedua, menjelang berbuka puasa. Ini adalah waktu yang paling populer, namun Andhika mengingatkan agar berhati-hati.
"Kondisi tubuh menjelang berbuka biasanya sudah dalam kondisi energi rendah. Hindari aktivitas yang terlalu ugal-ugalan atau eksplosif karena kadar gula darah sudah menurun," tegasnya.
Olahraga ringan seperti jalan santai atau slow jogging lebih disarankan pada waktu ini.
Ketiga, setelah berbuka puasa, sebelum salat Tarawih. Waktu ini juga dianggap aman, namun perlu strategi agar tidak kemalaman.
"Yang penting saat berbuka, jangan kalap. Cukup tajil secukupnya, lalu bisa dilanjutkan dengan olahraga ringan yang siap digunakan untuk salat Magrib. Durasi latihan setengah jam pun sudah cukup efektif," kata Andhika.
Terakhir, setelah salat Tarawih. Pilihan ini juga memungkinkan, namun Andhika mengingatkan bahwa setelah makan besar dan beraktivitas malam, tubuh memerlukan waktu untuk beradaptasi sebelum berolahraga.
Tujuan Utama Puasa: Mempertahankan Kebugaran, Bukan Meningkatkan Performa
Penting untuk dipahami, menurut Andhika, bahwa bulan puasa bukanlah waktu yang ideal untuk meningkatkan performa fisik secara signifikan.
"Secara teoritis, bulan puasa itu bukan waktunya kita untuk meningkatkan performa. Tujuannya adalah mempertahankan kebugaran yang sudah ada agar tidak menurun drastis," jelasnya.
Dia menekankan bahwa target utama adalah agar tubuh tidak 'drop' selama sebulan penuh berpuasa.
"Syukur-syukur kalau kebetulan bisa naik, tapi umumnya akan cenderung stabil," tambahnya.
Pola Makan dan Intensitas Olahraga: Kunci Sukses
Saat memilih olahraga, terutama yang membutuhkan energi cepat, Dr. Andhika menyarankan konsumsi makanan yang mudah dicerna seperti roti atau smoothies.
"Ini sekadar untuk mengisi energi di awal sebelum berolahraga. Setelahnya, tentu makan lagi," jelasnya.
Dia juga menyoroti pentingnya memilih makanan dengan indeks glikemik (GI) yang tepat. Makanan dengan GI tinggi, seperti roti atau tepung-tepungan, dapat memberikan energi cepat jika dikonsumsi sebelum berolahraga, namun harus diimbangi dengan aktivitas fisik, bukan hanya rebahan.
"Kalau kita memilih olahraga setelah sahur, kita bisa coba nge-gym di tempat ber-AC. Tujuannya agar tidak terlalu banyak berkeringat dan dehidrasi," kata Dr. Andhika.
Dia juga mengingatkan bahwa saat puasa, penyesuaian beban latihan sangatlah penting.
"Meskipun tubuh bisa mengangkat beban, hindari yang terlalu berat agar tidak kelelahan dan dehidrasi menjelang berbuka," imbuhnya.
Dengan memahami panduan ini, masyarakat dapat tetap aktif dan bugar sepanjang bulan Ramadan tanpa mengorbankan kesehatan.