- Penyakit kardiovaskular masih nomor satu di Indonesia, mendorong penekanan prinsip "Time is Muscle" bagi penanganan cepat.
- Penanganan serangan jantung harus mencapai standar internasional "door-to-balloon time" maksimal 90 menit sejak kedatangan pasien.
- Inovasi medis mencakup operasi bypass sayatan minimal dan prosedur ablasi jantung untuk aritmia demi pemulihan lebih cepat.
Suara.com - Penyakit jantung dan pembuluh darah masih menjadi penyebab kematian nomor satu di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) menunjukkan prevalensi penyakit kardiovaskular mencapai sekitar 1,5 persen dari total populasi dan terus menunjukkan tren peningkatan. Di Provinsi Bali sendiri, kasus penyakit jantung koroner juga tercatat semakin meningkat, bahkan mulai banyak ditemukan pada kelompok usia produktif.
Kondisi ini membuat para tenaga kesehatan menekankan pentingnya penanganan cepat ketika seseorang mengalami gejala yang mengarah pada serangan jantung, salah satunya nyeri dada. Dalam dunia kardiologi, terdapat prinsip yang dikenal dengan istilah “time is muscle”, yang berarti semakin cepat penanganan dilakukan, semakin besar peluang untuk menyelamatkan otot jantung dari kerusakan permanen.
Hospital Director Siloam Hospitals Bali, dr. Ni Gusti Ayu Putri Mayuni, menjelaskan bahwa banyak pasien datang terlambat ke rumah sakit karena mengira nyeri dada yang dirasakan hanya keluhan ringan seperti masuk angin atau asam lambung.
“Dalam dunia kardiologi ada prinsip ‘Time is Muscle’. Semakin cepat ditangani, semakin banyak otot jantung yang bisa diselamatkan. Banyak pasien terlambat ditangani karena menganggap nyeri dada hanya masuk angin atau asam lambung,” ujar dr. Putri.
Menurutnya, penanganan yang cepat sangat menentukan keselamatan pasien. Karena itu, sistem penanganan nyeri dada harus dirancang agar setiap proses, mulai dari skrining hingga pengambilan keputusan medis, dapat dilakukan dalam waktu singkat.
Pentingnya Penanganan dalam 90 Menit
Dalam kasus serangan jantung akibat penyumbatan pembuluh darah, waktu menjadi faktor krusial. Dokter spesialis jantung dr. I Made Junior Rina Artha, Sp.JP(K) menjelaskan bahwa terdapat standar internasional dalam penanganan serangan jantung yang dikenal dengan door-to-balloon time.
Istilah ini merujuk pada waktu maksimal sejak pasien tiba di rumah sakit hingga tindakan pembukaan pembuluh darah yang tersumbat dilakukan.
“Target kami adalah mencapai door-to-balloon time maksimal dalam 90 menit sejak pasien tiba di rumah sakit. Ini merupakan standar internasional yang terbukti dapat meningkatkan angka keselamatan pasien serta mengurangi risiko kerusakan jantung permanen,” jelasnya.
Semakin cepat pembuluh darah yang tersumbat dibuka, semakin besar peluang jaringan otot jantung untuk tetap hidup dan berfungsi normal.
Gejala Nyeri Dada yang Perlu Diwaspadai
Nyeri dada sering menjadi gejala awal serangan jantung. Keluhan ini biasanya dirasakan seperti tekanan berat di dada, sensasi tertindih, atau rasa terbakar yang dapat menjalar ke lengan kiri, leher, rahang, hingga punggung.
Selain nyeri dada, beberapa gejala lain yang perlu diwaspadai antara lain:
- Sesak napas
- Mual atau muntah
- Keringat dingin
- Pusing atau lemas mendadak
- Rasa tidak nyaman di dada yang berlangsung lebih dari beberapa menit
Jika gejala tersebut muncul, pasien disarankan segera mencari pertolongan medis dan tidak menunda pemeriksaan.
Inovasi Penanganan Penyakit Jantung
Perkembangan teknologi medis juga menghadirkan berbagai inovasi dalam penanganan penyakit jantung. Salah satunya adalah teknik operasi bypass jantung dengan sayatan minimal yang memungkinkan proses pemulihan pasien menjadi lebih cepat.
Dokter spesialis bedah toraks dan kardiovaskular Dr. dr. Dudy Arman Hanafy, Sp.BTKV(K) menjelaskan bahwa pendekatan minimal invasif ini dapat mengurangi rasa nyeri pascaoperasi serta mempercepat masa pemulihan pasien.
“Kami telah mengembangkan teknik operasi bypass jantung dengan sayatan minimal, yang memberikan rasa nyeri lebih sedikit dan masa pemulihan yang jauh lebih cepat,” ujarnya.
Selain itu, gangguan irama jantung atau aritmia juga dapat ditangani melalui prosedur medis modern seperti ablasi jantung, yaitu tindakan untuk memperbaiki sinyal listrik abnormal pada jantung.
Dokter spesialis jantung dr. I Made Putra Swi Antara, Sp.JP, Subsp. Ar.(K) mengatakan prosedur ini dapat menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah komplikasi serius.
“Prosedur seperti ablasi jantung kini menjadi solusi jangka panjang untuk mencegah komplikasi seperti stroke atau gagal jantung,” jelasnya.
Kesadaran dan Deteksi Dini Jadi Kunci
Para ahli menekankan bahwa penanganan medis yang cepat harus diiringi dengan kesadaran masyarakat untuk mengenali gejala sejak dini. Banyak kasus serangan jantung yang sebenarnya dapat dicegah atau ditangani lebih awal jika pasien segera mencari bantuan medis.
Kesadaran ini menjadi penting karena penyakit jantung tidak hanya menyerang kelompok usia lanjut, tetapi juga semakin banyak ditemukan pada usia produktif akibat pola hidup tidak sehat, stres, serta kurangnya aktivitas fisik.
Dengan mengenali gejala sejak dini dan mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat, risiko kerusakan jantung permanen maupun kematian akibat serangan jantung dapat ditekan secara signifikan.