- Dr. Sabrina Ngaserin menyatakan deteksi dini melalui skrining medis sangat krusial untuk meningkatkan peluang kesembuhan kanker payudara hingga 99%.
- Teknologi bedah modern saat ini memungkinkan pengobatan kanker payudara tanpa harus menghilangkan seluruh payudara atau mengurangi sensasi fisik pasien.
- Peningkatan kasus kanker pada usia di bawah 50 tahun menuntut kesadaran skrining lebih awal bagi generasi muda dan masyarakat.
Suara.com - Kanker payudara masih memegang predikat sebagai jenis kanker yang paling sering menyerang wanita di seluruh dunia, termasuk di Indonesia dan Singapura. Bagi sebagian besar orang, mendengar kata kanker seolah-olah menerima vonis akhir kehidupan. Rasa takut, cemas, dan bayang-bayang kehilangan payudara sering kali membuat para wanita memilih menutup mata dan menghindari pemeriksaan.
Namun, benarkah situasinya semengerikan itu?
Dr. Sabrina Ngaserin, seorang spesialis bedah payudara dari Mount Elizabeth Hospital, Singapura, membagikan pandangan sosiomedis dan medis yang mencerahkan. Kabar baiknya: Kanker payudara sangat bisa disembuhkan, asalkan ditemukan sejak dini.
Angka Kelangsungan Hidup Lebih dari 90%: Keajaiban Deteksi Dini
Menurut dr. Sabrina, di Singapura, angka kelangsungan hidup (survival rate) pasien kanker payudara selama 5 tahun telah melampaui 90%. Bahkan, jika kanker berhasil didiagnosis pada Stadium 0, tingkat kesembuhannya mencapai hampir 99%.
Mengapa hasilnya bisa sangat baik? Kuncinya ada pada skrining dini.
"Skrining berarti kita mendeteksi kanker sebelum ada benjolan yang bisa dirasakan, sebelum ada gejala, dan sebelum ada tanda-tanda luar. Ketika kita menangkapnya di fase ini, angka kematian bisa ditekan hingga 20% sampai 47%," jelas dr. Sabrina saat ditemui Suara.com beberapa waktu lalu di Jakarta.
Berbeda dengan tren di Indonesia di mana pasien umumnya baru datang pada Stadium 3 atau 4, di Singapura kanker justru lebih banyak ditemukan pada Stadium 0, 1, atau 2. Hal inilah yang menjadi alasan mengapa banyak pasien dari Indonesia dan berbagai negara di kawasan regional memilih melakukan perjalanan medis ke Singapura untuk mencari opini kedua (second opinion), pencitraan canggih, hingga terapi multidisiplin.

Menepis Ketakutan: Kalau Dioperasi, Apakah Saya Akan Kehilangan Payudara?
Salah satu alasan terbesar wanita takut memeriksakan diri adalah kecemasan akan kehilangan simbol feminitas mereka akibat operasi pengangkatan payudara (mastektomi).
Dr. Sabrina menegaskan bahwa dunia kedokteran modern memiliki filosofi penting: "Mengobati kanker, tetapi tetap mempertahankan keutuhan sang wanita."
Apa saja yang bisa dilakukan?
1. Operasi Konservasi Payudara (Breast Conserving Surgery): Jika kanker ditemukan dalam ukuran kecil dan sejak dini, dokter tidak perlu mengangkat seluruh payudara. Cukup bagian kankernya saja yang diangkat dengan menyisakan jaringan sehat di sekitarnya.
2. Mastektomi Minimal Invasif & Robotik: Jika mastektomi total tetap diperlukan, teknologi kedokteran saat ini memungkinkan operasi dilakukan melalui sayatan kecil (2–4 cm) yang tersembunyi di ketiak atau garis bawah payudara. Kulit luar dan puting tetap dipertahankan, lalu direkonstruksi menggunakan implan atau jaringan lemak tubuh pasien sendiri sehingga bentuknya kembali menyerupai aslinya.
3. Sensation Preserving Mastectomy (Neurotisasi): Operasi mastektomi biasa umumnya membuat kulit payudara mati rasa karena sarafnya ikut terpotong. Namun, lewat teknik canggih yang diterapkan, menurut dr. Sabrina, saraf-saraf di dinding dada dapat dipertahankan dan disambungkan kembali ke puting. Hasilnya? Sensasi sentuhan dan kehangatan pada payudara pasca-operasi tetap terjaga!