Perusahaan minyak AS punya posisi unik dalam memanfaatkan momentum naiknya harga crude tanpa kena imbas langsung dari keadaan Timur Tengah saat ini.
Hal pertama yang membuat AS tidak terdampak langsung terhadap penutupan Selat Homuz berkaitan dengan produksi domestik termasuk jauh dari konflik.
Perusahaan minyak AS seperti Chevron dan Exxon Mobil punya area operasi besar yang berlokasi di Permian Basin, West Texas. Letaknya memang sangat jauh dari lokasi konflik Timur Tengah.
Bahkan, produksi minyak mereka tetap tidak mengalami gangguan sedikitpun oleh kejadian apapun yang tengah terjadi di Selat Homuz.
Masih menurut analis, kali ini ada Zacks Investment Research melalui Yahoo Finance mengungkapkan bahwa biaya produksi di Amerika Serikat diperkirakan $40-60 per barel.
Sedangkan harga jual naik signifikan, nilai keuntungannya juga otomatis meningkat saat crude price rally. Dengan demikian, kenaikan harga minyak akibat kondisi geopolitik yang menegangkan, malah meningkatkan pendapatan eksplorasi dan produksi naik tajam.
Dampak Bagi Kondisi Global
Ketika Selat Homuz memang benar-benar ditutup, nantinya akan berdampak bukan hanya pada kawasan teluk saja, namun bisa merambat pada semua sistem energi global.
Jalur selat tersebut ibaratnya check point penting bagi dunia, titik sempit krusial untuk keamanan energi global.
Saat minyak tidak mampu melintasinya, maka akan berakibat pada keterlambatan pasokan, biaya pengiriman naik, sehingga memicu kenaikan harga energi dunia pada titik yang berbahaya bagi kestabilan ekonomi.
Kontributor : Damayanti Kahyangan