- Prof. Soedjatmiko menyatakan wabah influenza A tahun 1918–1919 menyebabkan 50 hingga 100 juta kematian di seluruh dunia.
- Virus influenza berisiko memicu komplikasi berat seperti pneumonia, gangguan jantung, hingga otak bagi kelompok masyarakat rentan.
- IDAI menganjurkan vaksinasi influenza sebagai upaya perlindungan optimal bagi keluarga meski belum masuk program imunisasi nasional.
Suara.com - Banyak orang menganggap remeh virus influenza karena dianggap bisa sembuh dengan sendirinya. Padahal influenza juga bisa mematikan hingga sebabkan wabah dan buat 100 juta orang meninggal dunia.
Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Prof.Dr.dr.Soedjatmiko bercerita virus influenza punya sejarah kelam di dunia. Ia bercerita wabah virus influenza A pada 1918 hingga 1919 membuat 50 juta hingga 100 juta orang meregang nyawa.
"Sama (berisiko kematian) ketika wabah influensa A tahun 1918 hingga 1919 menyebar ke seluruh dunia pandemi yang pertama yang meninggal sekitar 50 hingga 100 juta," ujar Prof. Soedjatmiko dalam diskusi PT. Kalbe Farma Tbk pada Kamis (28/4/2026).
Penyebab influenza A mematikan menurut Prof. Soedjatmiko karena virus tersebut bisa menyebkan sakit berat pada bayi, balita hingga orang dewasa dengan komorbiditas seperti diabetes, obesitas hingga lansia.
"Dan kalau kena itu menyerangnya bisa paru-paru. Jadi radang paru, namanya pneumonia," papar Prof.Soedjatmiko.

Kondisi inilah yang membuat influenza tidak bisa lagi dipandang sebagai penyakit ringan. Prof. Soedjatmiko menegaskan, virus influenza, khususnya tipe A dan B, memiliki potensi menyebabkan infeksi berat yang berujung pada komplikasi serius hingga kematian, terutama pada kelompok rentan.
Ia menjelaskan bahwa infeksi influenza umumnya diawali dengan gejala ringan seperti demam dan batuk, namun dapat berkembang menjadi kondisi yang jauh lebih berat.
“Kalau namanya infeksi pasti demam dulu. Kalau infeksinya hebat, demamnya tinggi. Kemudian dia akan menyebar ke seluruh tubuh, pasien jadi lemas, hilang nafsu makan,” jelasnya.
Pada kondisi tertentu, virus dapat menyerang organ vital seperti paru-paru, yang menyebabkan pneumonia atau radang paru. Kondisi ini membuat pasien mengalami sesak napas hingga kekurangan oksigen dan membutuhkan bantuan alat medis.
“Kalau dia menyerang paru, paru-parunya jadi sesak, napasnya susah. Bahkan bisa sampai kekurangan oksigen, harus dibantu oksigen,” lanjutnya.
Tidak hanya paru-paru, virus influenza juga berpotensi menyerang organ lain seperti jantung dan otak. Jika sudah mencapai tahap tersebut, pasien biasanya memerlukan perawatan intensif di rumah sakit, bahkan hingga unit perawatan intensif (ICU).
Selain pengobatan, pencegahan menjadi aspek penting dalam menekan dampak influenza. Namun hingga saat ini, vaksin influenza seperti vaksin influenza trivalent (TIV) belum masuk dalam program imunisasi nasional di Indonesia.
Hal ini, menurut Prof. Soedjatmiko, berkaitan dengan berbagai pertimbangan, termasuk beban penyakit, tingkat keparahan, serta analisis biaya dan manfaat atau health economic analysis yang dilakukan oleh pemerintah bersama Komite Imunisasi Nasional.
“Pemerintah akan melihat seberapa besar masalahnya, dampaknya apakah menyebabkan kematian atau kecacatan, serta berapa biaya yang dibutuhkan untuk pencegahannya,” jelasnya.
Di sejumlah negara lain, vaksin influenza telah menjadi bagian dari program nasional, terutama di wilayah dengan angka kasus dan kematian yang tinggi. Namun di Indonesia, vaksin ini masih bersifat rekomendasi, bukan kewajiban.