Suara.com - Limbah dari proses pengolahan nikel biasanya dipandang sebagai persoalan lingkungan. Namun di Pulau Obi, Halmahera Selatan, material sisa industri itu dimanfaatkan menjadi struktur buatan yang ditenggelamkan ke dasar laut untuk menciptakan habitat baru bagi biota.
Struktur berbentuk kubus berlubang berukuran sekitar 40 x 40 sentimeter itu disebut reefcube. Material pembuatnya berasal dari campuran semen dengan slag atau terak nikel dan fly ash, dua material sisa dari proses pengolahan nikel.
Sejak 2021, sekitar 2.600 reefcube telah ditempatkan di tiga titik perairan barat Pulau Obi, menurut tim Environmental Marine PT Trimegah Bangun Persada Tbk (Harita Nickel).
Bagi perusahaan, pemanfaatan material sisa tersebut menjadi bagian dari upaya pengkayaan habitat atau habitat enhancement.
"Ini kita manfaatkan dari produk sisa kita sendiri, menurut kami aman digunakan sebagai media. Hasilnya juga cukup bagus," kata perwakilan tim Environmental Marine Harita Nickel, Windy Prayogo, dalam peluncuran buku dokumentasi ikan karang Obi, Selasa (8/9/2026).
Konsep habitat enhancement tidak dimaksudkan untuk menggantikan terumbu karang alami. Struktur buatan digunakan untuk menambah permukaan tempat organisme laut dapat menempel, tumbuh dan berlindung.
Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Dr Beginer Subhan, mengatakan pendekatan tersebut dapat memberikan manfaat ekologis sekaligus ekonomi bagi masyarakat pesisir jika dikelola dengan baik.
"Habitat enhancement itu pengkayaan habitat, supaya ikan bisa besar di sana dan nanti bisa dimanfaatkan masyarakat, misalnya untuk memancing," ujarnya.
Namun, ia mengingatkan bahwa keberadaan reefcube bukan berarti persoalan ekosistem laut otomatis selesai. Pemanfaatan habitat baru tetap membutuhkan pengelolaan dan keterlibatan masyarakat.
"Perlu diberikan awareness, biar masyarakat yang memanfaatkan tahu cara yang bijak, sehingga ini bisa sustain," kata Beginer.
Karang yang Kuat Sekaligus Rapuh

Keberhasilan reefcube sebagai habitat baru bergantung pada kemampuan organisme laut untuk beradaptasi dengan substrat tersebut.
Akademisi Universitas Padjadjaran, Candra Wirawan, menjelaskan bahwa organisme laut akan memilih lingkungan yang sesuai untuk hidup.
"Kalau dia tidak cocok, dia tidak akan tinggal. Tapi begitu cocok, dia akan mengundang spesies lain untuk ikut tinggal, menjadi habitat yang baru," katanya.
Pemantauan internal perusahaan menunjukkan karang yang tumbuh pada reefcube mengalami pertumbuhan sekitar 1,30 hingga 8,65 sentimeter selama periode pengamatan lebih dari satu tahun.
Area tersebut juga dilaporkan telah dihuni ratusan spesies ikan karang, termasuk kerapu dan kakap yang memiliki nilai ekonomi bagi nelayan.
Meski demikian, keberhasilan tersebut tidak hanya ditentukan oleh material reefcube. Kondisi perairan, suhu laut, kualitas air dan kesehatan ekosistem di sekitarnya tetap menjadi faktor penting bagi pertumbuhan karang dan biota laut.
Penyelam sekaligus pemerhati laut Marischka Prue mengatakan laut memiliki kemampuan untuk pulih, tetapi juga rentan terhadap perubahan lingkungan.
"Laut itu kuat banget, tapi dia juga sangat rapuh," ujarnya.
Menurut Marischka, struktur buatan sebanyak apa pun tidak akan cukup jika kondisi lingkungan laut tidak mendukung.
"Kalau kondisi lautnya tidak memadai, pH-nya tidak sesuai, ekosistemnya tidak akan bisa tumbuh," katanya.
Karena itu, pemanfaatan limbah nikel sebagai reefcube dapat menjadi salah satu bagian dari solusi, tetapi bukan pengganti upaya menjaga kualitas ekosistem laut secara keseluruhan.
Solusi limbah yang masih perlu diuji
Beginer juga menilai pemulihan habitat perlu disertai penelitian biodiversitas yang lebih luas. Indonesia bagian timur, termasuk Maluku Utara, masih membutuhkan lebih banyak pendataan mengenai spesies dan kondisi ekosistem laut.
Ia mengkhawatirkan sejumlah spesies dapat menghilang sebelum sempat teridentifikasi.
"Kekhawatiran kami adalah spesies itu punah sebelum pernah ditemukan," katanya.
Karena itu, pengembangan habitat buatan perlu berjalan bersama pemantauan jangka panjang untuk mengetahui apakah struktur tersebut benar-benar mampu mendukung ekosistem secara berkelanjutan.
Di Pulau Obi, upaya tersebut juga disertai dokumentasi keanekaragaman ikan melalui buku Keindahan Laut Pesisir Barat Pulau Obi – Seri I Ikan Karang, yang diluncurkan Harita Nickel bersama Penerbit Buku Kompas.
Buku tersebut mendokumentasikan karakteristik dan sebaran ikan karang berdasarkan pemantauan rutin tim Environmental Marine, termasuk melalui scientific diving bersama sejumlah perguruan tinggi.
Penulis: Inesia Dian