Suara.com - Masifnya timbunan sampah plastik menyebabkan abrasi semakin meluas di kawasan pesisir Indonesia. Permasalahan inilah yang mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencoba mengembangkan limbah tersebut menjadi sesuatu bernilai guna.
Dalam Webinar Product Knowledge Seri ke-6 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN yang mengusung tajuk "Alat Penahan Ombak (APO) Semipermeable Eco Her Brick" pada Jumat (4/9) lalu, mereka memperkenal Eco Hex Brick.
Terobosan tersebut diusung dengan struktur yang membantu material seperti pasir, lumpur, atau tanah yang terbawa air bisa tertahan dan menumpuk di belakangan struktur tersebut. Perlahan-lahan, endapan itu nantinya membentuk area yang lebih stabil dan cocok untuk tempat tumbuh mangrove.
Kepala PRBB BRIN, Akbar H. Dawam A., menjelaskan bahwa pengembangan ini memiliki relevansi dengan berbagai upaya adaptasi perubahan iklim, khususnya dalam penanganan abrasi di kawasan pantai.
Selain beradaptasi dengan perubahan iklim, inovasi tersebut juga bertujuan untuk mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam melindungi kawasan pesisir.
"Material ini menarik karena tidak hanya memanfaatkan limbah plastik, tetapi juga dirancang untuk dikombinasikan dengan mangrove. Hal ini sebagai solusi penanganan abrasi yang lebih natural, bukan semata mengandalkan struktur beton," paparnya.
Beda dengan struktur penahan pantai pada umumnya, Eco Hex Brick ini dibangun sebagai alat penahan ombak semipermeabel. Jadi, ombak yang menyasar ke penahan tersebut akan terpecah tanpa harus membentuk penghalang terhadap pergerakan air.
"Struktur tersebut memungkin sedimentasi terbentuk di belakang bangunan, yang dapat menciptakan media untuk penanaman dan pertumbuhan mangrove. Harapannya sedimentasi yang terbentuk dapat mendukung pertumbuhan mangrove sehingga masyarakat pesisir memiliki perlindungan alami dari abrasi," ujar Investor Eco Hex Brick sekaligus Periset PRBB BRIN, Deni Purnomo.
Jika dilihat dari segi materialnya, Eco Hex Brick dibuat menggunakan limbah plastik, seperti multilayer dan plastik campuran. Limbah itu dicacah dan dilelehkan, kemudian dicampur dengan agregat pasir halus. Setelahnya diproses hingga membentuk heksagonal dengan sistem interlock.
"Bentuk tersebut dipilih karena memiliki kekuatan mekanik yang tinggi sekaligus memudahkan proses pemasangan di lapangan," ucap Deni.
Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi tertentu dari inovasi itu memiliki daya tekan yang mendekati mutu beton K-300, yakni jenis beton yang memiliki kuat tekan karakteristik sebesar 300 kilogram per sentimeter persegi pada umur 28 hari.
Selain itu, tim peneliti juga melakukan pengujian degradasi dan paparan sinar ultraviolet yang turut memperlihatkan ketahanan material yang baik untuk diterapkan di kawasan pesisir.
Menurut Deni, pengembangan Eco Hex Brick telah jadi bagian dari upaya BRIN untuk mendorong pengelolaan limbah berbasis inovasi. Langkah ini dilakukan guna memberi dampak signifikan bagi lingkungan dan masyarakat.
Pemanfaatan limbah plastik sebagai material konstruksi dapat juga mendukung proses pemulihan pesisir.
Dengan adanya teknologi ini, BRIN secara tidak langsung menjawab dua persoalan lingkungan sekaligus, yakni meningkatnya timbulan limbah plastik serta meluasnya kawasan pesisir yang terdampak abrasi.
"Teknologi hanyalah alat, penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra. Tentunya agar inovasi benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan," terangnya.
Deni mengatakan salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kemampuan Eco Hex Brick beradaptasi dengan kondisi lingkungan laut. Materal tersebut harus mampu bertahan selama menghadapi paparan gelombang, kadar garam laut yang tinggi, hingga cuaca ekstrem.
Karena itu, pengembangan inovasi ini masih membutuhkan riset dan kolaborasi lintas bidang.
Keberhasilannya tak hanya ditentukan oleh kemampuan material dalam menahan gelombang, melainkan juga pada kemampuan untuk menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya sedimentasi dan pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir tersebut.