Lawan Abrasi, Bagaimana Limbah Plastik Disulap Jadi Alat Penahan Ombak?

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 09 September 2026 | 14:55 WIB
Lawan Abrasi, Bagaimana Limbah Plastik Disulap Jadi Alat Penahan Ombak?
Kumpulan pemecah ombak di kawasan pesisir. (dok./Marzena)

Suara.com - Masifnya timbunan sampah plastik menyebabkan abrasi semakin meluas di kawasan pesisir Indonesia. Permasalahan inilah yang mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencoba mengembangkan limbah tersebut menjadi sesuatu bernilai guna.

Dalam Webinar Product Knowledge Seri ke-6 yang diselenggarakan oleh Pusat Riset Biomassa dan Bioproduk (PRBB) BRIN yang mengusung tajuk "Alat Penahan Ombak (APO) Semipermeable Eco Her Brick" pada Jumat (4/9) lalu, mereka memperkenal Eco Hex Brick.

Terobosan tersebut diusung dengan struktur yang membantu material seperti pasir, lumpur, atau tanah yang terbawa air bisa tertahan dan menumpuk di belakangan struktur tersebut. Perlahan-lahan, endapan itu nantinya membentuk area yang lebih stabil dan cocok untuk tempat tumbuh mangrove.

Kepala PRBB BRIN, Akbar H. Dawam A., menjelaskan bahwa pengembangan ini memiliki relevansi dengan berbagai upaya adaptasi perubahan iklim, khususnya dalam penanganan abrasi di kawasan pantai.

Selain beradaptasi dengan perubahan iklim, inovasi tersebut juga bertujuan untuk mendukung pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam melindungi kawasan pesisir.

"Material ini menarik karena tidak hanya memanfaatkan limbah plastik, tetapi juga dirancang untuk dikombinasikan dengan mangrove. Hal ini sebagai solusi penanganan abrasi yang lebih natural, bukan semata mengandalkan struktur beton," paparnya.

Beda dengan struktur penahan pantai pada umumnya, Eco Hex Brick ini dibangun sebagai alat penahan ombak semipermeabel. Jadi, ombak yang menyasar ke penahan tersebut akan terpecah tanpa harus membentuk penghalang terhadap pergerakan air.

"Struktur tersebut memungkin sedimentasi terbentuk di belakang bangunan, yang dapat menciptakan media untuk penanaman dan pertumbuhan mangrove. Harapannya sedimentasi yang terbentuk dapat mendukung pertumbuhan mangrove sehingga masyarakat pesisir memiliki perlindungan alami dari abrasi," ujar Investor Eco Hex Brick sekaligus Periset PRBB BRIN, Deni Purnomo.

Jika dilihat dari segi materialnya, Eco Hex Brick dibuat menggunakan limbah plastik, seperti multilayer dan plastik campuran. Limbah itu dicacah dan dilelehkan, kemudian dicampur dengan agregat pasir halus. Setelahnya diproses hingga membentuk heksagonal dengan sistem interlock.

baca juga

"Bentuk tersebut dipilih karena memiliki kekuatan mekanik yang tinggi sekaligus memudahkan proses pemasangan di lapangan," ucap Deni.

Hasilnya menunjukkan bahwa formulasi tertentu dari inovasi itu memiliki daya tekan yang mendekati mutu beton K-300, yakni jenis beton yang memiliki kuat tekan karakteristik sebesar 300 kilogram per sentimeter persegi pada umur 28 hari.

Selain itu, tim peneliti juga melakukan pengujian degradasi dan paparan sinar ultraviolet yang turut memperlihatkan ketahanan material yang baik untuk diterapkan di kawasan pesisir.

Menurut Deni, pengembangan Eco Hex Brick telah jadi bagian dari upaya BRIN untuk mendorong pengelolaan limbah berbasis inovasi. Langkah ini dilakukan guna memberi dampak signifikan bagi lingkungan dan masyarakat.

Pemanfaatan limbah plastik sebagai material konstruksi dapat juga mendukung proses pemulihan pesisir.

Dengan adanya teknologi ini, BRIN secara tidak langsung menjawab dua persoalan lingkungan sekaligus, yakni meningkatnya timbulan limbah plastik serta meluasnya kawasan pesisir yang terdampak abrasi.

"Teknologi hanyalah alat, penyelesaian persoalan lingkungan membutuhkan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, masyarakat, dan berbagai mitra. Tentunya agar inovasi benar-benar memberikan manfaat yang berkelanjutan," terangnya.

Deni mengatakan salah satu tantangan yang masih dihadapi adalah kemampuan Eco Hex Brick beradaptasi dengan kondisi lingkungan laut. Materal tersebut harus mampu bertahan selama menghadapi paparan gelombang, kadar garam laut yang tinggi, hingga cuaca ekstrem.

Karena itu, pengembangan inovasi ini masih membutuhkan riset dan kolaborasi lintas bidang.

Keberhasilannya tak hanya ditentukan oleh kemampuan material dalam menahan gelombang, melainkan juga pada kemampuan untuk menciptakan kondisi yang mendukung terbentuknya sedimentasi dan pertumbuhan mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir tersebut.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Saat Sampah Plastik Disulap Jadi BBM, Upaya Desa Cepaka Atasi Limbah Sulit Didaur Ulang

Saat Sampah Plastik Disulap Jadi BBM, Upaya Desa Cepaka Atasi Limbah Sulit Didaur Ulang

Lifestyle | Senin, 07 September 2026 | 13:49 WIB

Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

Kurangi Ketergantungan Fosil, Bagaimana BRIN Ubah Minyak Kelapa Jadi Bahan Bakar Pesawat?

News | Senin, 07 September 2026 | 10:58 WIB

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

Erupsi Anak Krakatau Diduga Tembus Lapisan Tropopause, Pakar BRIN Ungkap Dampak Iklimnya

News | Minggu, 06 September 2026 | 12:05 WIB

Terkini

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

20 Kardus dan Koper Berisi Uang Ratusan Miliar Diamankan KPK saat OTT Kasus HGB Bogor

News | Selasa, 15 September 2026 | 00:17 WIB

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Titik Terang Kabar Pernikahan Andre Taulany dan Amanda Rigby, KUA: Surat Rekomendasi Sudah Masuk

Entertainment | Selasa, 15 September 2026 | 00:04 WIB

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

KPK Tangkap 17 Orang saat OTT Kasus HGB Bogor! Ada Fahd A Rafiq hingga Arif Sugiyanto

News | Senin, 14 September 2026 | 23:56 WIB

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Disulap 'Penyihir' Makassar, Toyota Alphard 2012 Ini Bisa 'Time Travel' ke Tahun 2026

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 23:54 WIB

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Kepala BPN Kabupaten Bogor Diamankan KPK dalam OTT, 17 Orang Diperiksa

Jabar | Senin, 14 September 2026 | 23:42 WIB

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

Di Balik Penembakan 3 ASN di Muliama: Mengapa Konflik Bersenjata Papua Tak Kunjung Reda?

News | Senin, 14 September 2026 | 22:51 WIB

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor

News | Senin, 14 September 2026 | 22:08 WIB

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

KPK Konfirmasi Penindakan Senyap, Pihak Kantor Pertanahan Terjaring OTT

Bogor | Senin, 14 September 2026 | 22:05 WIB

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

Jakarta Kian Seksi Bagi Musisi Dunia, Pramono: BTS hingga Kanye West Pilih Konser di Sini

News | Senin, 14 September 2026 | 22:00 WIB

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Puluhan Siswa MTsN 2 Kisaran Diduga Keracunan Usai Santap MBG

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 21:53 WIB

×