Saat Mikroalga dari Kawah Gunung Jadi Alternatif Penyerap Karbon, Bagaimana Caranya?

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 10 September 2026 | 15:55 WIB
Saat Mikroalga dari Kawah Gunung Jadi Alternatif Penyerap Karbon, Bagaimana Caranya?
Ilustrasi Mikroalga. Sumber: dreamstime.com

Suara.com - Krisis iklim mendorong pencarian cara baru untuk menyerap emisi karbon, tetapi solusi berbasis alam seperti pohon membutuhkan waktu lama untuk tumbuh. Di sisi lain, kebutuhan terhadap teknologi yang mampu menangkap karbon dengan cepat semakin mendesak.

Peneliti ITB menemukan potensi lain dari organisme mikroskopis yang selama ini hidup di lingkungan ekstrem, yakni mikroalga yang ditemukan di kawah gunung berapi.

Alfredo Kono, dosen dan peneliti Kelompok Keahlian Biokimia dan Rekayasa Biomolekul FMIPA ITB, menyatakan mikroalga memiliki kemampuan alami menangkap karbon dioksida (CO2) melalui fotosintesis dan mengubahnya menjadi biomassa. Potensi ini, menurutnya, bisa menjadi solusi cepat di tengah mendesaknya krisis iklim global.

"Salah satu yang membuat dia powerful adalah ukurannya yang kecil tapi kemampuan penangkapannya bisa jauh lebih tinggi dari tanaman yang ada di darat," kata Alfredo, dikutip dari laman resmi ITB.

Menurut Alfredo, posisi geografis Indonesia sebagai negara maritim sekaligus bagian dari Cincin Api Pasifik menjadi keunggulan strategis yang jarang dimiliki negara lain. Kombinasi laut tropis dan kawasan vulkanik menyediakan habitat bagi mikroalga dengan mekanisme adaptasi ekstrem.

Tim peneliti melakukan eksplorasi di sejumlah lokasi vulkanik Jawa Barat, di antaranya Kawah Kamojang, Talaga Bodas di Garut, dan Kawah Domas Tangkuban Parahu.

Dari kawasan-kawasan tersebut, mereka berhasil mengisolasi dan mengidentifikasi mikroalga merah Galdieria sulphuraria — spesies yang mampu bertahan hidup pada tingkat keasaman yang sangat tinggi.

Dari Penyerap Karbon Jadi Bahan Baku Ekonomi Sirkuler

Mikroalga kawah gunung diubah peneliti ITB jadi
Mikroalga kawah gunung diubah peneliti ITB jadi "pohon cair" penyerap karbon super cepat. Sumber: Institut Teknologi Bandung

Alfredo menjelaskan, keunggulan utama mikroalga terletak pada kecepatan pertumbuhannya. Mikroalga hanya membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari untuk mencapai fase fotosintesis optimal, jauh lebih singkat dibanding pohon yang perlu bertahun-tahun untuk tumbuh dan berdaun lebat.

Sifat ini membuat mikroalga bisa dibudidayakan dalam sistem tertutup seperti tangki, sehingga berpotensi diterapkan di kawasan perkotaan dan industri tanpa memerlukan lahan luas.

baca juga

Riset ini tidak berhenti pada penangkapan CO. Alfredo menekankan pentingnya pendekatan ekonomi sirkular, di mana karbon yang diserap diubah menjadi biomassa bernilai ekonomi.

Produk turunan mikroalga yang tengah dikembangkan meliputi lipid untuk bahan bakar nabati, pigmen untuk industri kosmetik, hingga karbohidrat unik yang berpotensi digunakan di bidang farmasi dan kesehatan.

Sebagai bentuk hilirisasi, tim ITB juga mengembangkan konsep phototank atau "pohon cair" yakni, sistem pembersih udara dalam ruangan berbasis mikroalga yang dirancang menyerupai furnitur estetik, sehingga bisa memperindah interior sekaligus menyaring udara.

Di luar aspek teknis, Alfredo menyoroti pentingnya data kuantitatif agar kapasitas mikroalga dalam menyerap CO dapat dijadikan rujukan kebijakan berbasis sains.

"Kami sedang menghitung seberapa banyak mikroalga ini menangkap CO2 dengan peralatan yang sudah ada. Suatu saat kami berharap ini bisa menjadi standar," jelasnya.

Data yang disusun bersama tim dari Universitas Gadjah Mada (UGM) itu diharapkan dapat mendukung pemerintah dalam perumusan kebijakan iklim, termasuk skema pajak karbon yang tengah dimatangkan di berbagai sektor industri.

Alfredo optimistis Indonesia dapat memitigasi perubahan iklim melalui teknologi buatan sendiri, dengan kekayaan biodiversitas lokal sebagai modal utama. Namun ia menggarisbawahi bahwa agar riset semacam ini benar-benar berdampak luas, diperlukan kolaborasi lintas sektor mulai dari sains dasar, rekayasa, industri, hingga pembuat kebijakan.

Penulis: Inesia Dian

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong

Konstruksi Hijau Jadi Tren Baru, Produk Rendah Emisi Mulai Didorong

Bisnis | Kamis, 10 September 2026 | 08:03 WIB

Ketika Saya Memahami Dilan: Dari Geng Motor hingga Aktivis Mahasiswa

Ketika Saya Memahami Dilan: Dari Geng Motor hingga Aktivis Mahasiswa

Your Say | Minggu, 06 September 2026 | 09:25 WIB

Minala Gelar Turnamen Padel Berhadiah Rp103 Juta, Bawa Inovasi Baru di Industri Umrah

Minala Gelar Turnamen Padel Berhadiah Rp103 Juta, Bawa Inovasi Baru di Industri Umrah

Lifestyle | Sabtu, 05 September 2026 | 18:11 WIB

Terkini

Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama

Baekhyun EXO Dirikan Agensi Baru, CBX Dikabarkan Siap Bernaung Bersama

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:47 WIB

5 Rekomendasi Jam Tangan Digital Awet dan Terjangkau, Cocok Dipakai Outdoor dan Indoor

5 Rekomendasi Jam Tangan Digital Awet dan Terjangkau, Cocok Dipakai Outdoor dan Indoor

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Penyaluran BSU Dinilai Bias Sektor Formal, Pakar UGM Desak Integrasi Basis Data Tunggal

Penyaluran BSU Dinilai Bias Sektor Formal, Pakar UGM Desak Integrasi Basis Data Tunggal

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:45 WIB

Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?

Terjebak Lingkaran Setan di I Saw the Devil, Siapa yang Sebenarnya Jahat?

Your Say | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:40 WIB

7 Bedak Tabur Tanpa Minyak Wewangian dan Alkohol untuk Kulit Sensitif

7 Bedak Tabur Tanpa Minyak Wewangian dan Alkohol untuk Kulit Sensitif

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:38 WIB

MA Batalkan Penyetaraan Pendidikan Gibran, PKS Desak DPR Ambil Sikap Konstitusional

MA Batalkan Penyetaraan Pendidikan Gibran, PKS Desak DPR Ambil Sikap Konstitusional

News | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:33 WIB

Ada Wine Asli Bali di Balik Pesona Pulau Dewata, Begini Karakter Rasa dari Kebun Tropisnya

Ada Wine Asli Bali di Balik Pesona Pulau Dewata, Begini Karakter Rasa dari Kebun Tropisnya

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:30 WIB

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Berapa Lama Masa Berlaku SKCK?

Lifestyle | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:15 WIB

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Cara Memeriksa Izin Aplikasi Android agar Privasi Lebih Terjaga, Cegah Datamu Dijual ke Pengiklan!

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

5 HP Tecno Kamera 108 MP Paling Murah, RAM Besar untuk Multitasking

Tekno | Sabtu, 31 Oktober 2026 | 11:07 WIB

×