Suara.com - Selama ini rayap kerap dianggap ham yang merusak rumah dan bangunan. Padahal, jenis rayap pemakan kayu di permukiman itu hanya mewakili kurang dari 4 persen dari seluruh spesies rayap di dunia. Sebagian besar spesies lainnya justru memegang peran penting dalam ekosistem alami, terutama di kawasan tropis, karena membantu mengurai kayu mati dari pepohonan.
Sebuah studi internasional dari University of Miami dan University of Michigan (2022) menemukan bahwa rayap punya kontribusi besar terhadap siklus karbon global. Studi yang dipublikasikan di jurnal Science ini juga mengungkap rayap sangat sensitif terhadap suhu dan curah hujan, sehingga peran mereka dalam proses pembusukan kayu diperkirakan akan meluas ke luar wilayah tropis seiring pemanasan global.
"Dengan suhu yang terus menghangat, dampak rayap terhadap planet ini bisa sangat besar," kata pemimpin studi Amy Zanne, profesor biologi di University of Miami, seperti dikutip dari laman resmi University of Michigan News.
Menurut peneliti dari University of Michigan, Aimée Classen, riset ini menjadi salah satu yang pertama menghubungkan pergerakan spesies akibat perubahan iklim dengan dampaknya terhadap proses ekosistem dan siklus karbon.
"Kami tahu spesies-spesies bergerak akibat pemanasan dan perubahan curah hujan, tapi kami belum banyak tahu apa arti pergerakan itu bagi ekosistem dan umpan balik karbon," ujar Classen, yang juga menjabat direktur University of Michigan Biological Station.
Lebih dari 100 peneliti dari berbagai negara terlibat dalam studi ini. Mereka memasang eksperimen serupa di lebih dari 130 lokasi di enam benua untuk mengamati bagaimana suhu dan curah hujan memengaruhi penemuan serta laju pembusukan balok kayu oleh bakteri, jamur, dan rayap. Hasilnya, area dengan aktivitas rayap tinggi diperkirakan akan meluas seiring bumi menjadi lebih panas dan kering.
"Rayap memberi dampak terbesar di ekosistem seperti sabana tropis, hutan musiman, dan gurun subtropis," kata Zanne. Ia menambahkan, ekosistem semacam itu selama ini kerap kurang mendapat perhatian dalam perhitungan anggaran karbon global.
Peneliti dari Universidad de Buenos Aires, Amy Austin, yang turut berkolaborasi dalam studi ini, menilai cakupan penelitian yang meluas hingga wilayah kering dan panas memberi wawasan baru soal peran rayap dalam siklus karbon.
Studi ini juga mencatat perbedaan penting antara rayap dan mikroba pengurai kayu lainnya. Jika mikroba membutuhkan kelembapan untuk tumbuh dan mencerna kayu, rayap justru bisa tetap aktif mencari makan meski kondisi kering, lalu membawa kayu tersebut kembali ke sarang atau bahkan memindahkan koloninya langsung ke dalam kayu yang mereka konsumsi.
Proses pembusukan kayu oleh rayap turut melepaskan karbon ke atmosfer dalam bentuk metana dan karbon dioksida, dua gas rumah kaca utama. Zanne mengingatkan, selama ini peran rayap dalam pelepasan karbon global kerap terlewat dari perhitungan ilmiah, sehingga berpotensi memengaruhi proyeksi dampak perubahan iklim ke depan.
"Mikroba memang berperan penting secara global dalam pembusukan kayu, tapi peran rayap dalam proses ini selama ini banyak diabaikan," kata Zanne. "Artinya, kita belum memperhitungkan dampak besar yang bisa ditimbulkan serangga ini terhadap siklus karbon di masa depan seiring perubahan iklim."
Penulis: Inesia Dian