Video Siswi SD Disiksa, Komnas PA Contohkan Kelakuan Anggota DPR

Siswanto Suara.Com
Minggu, 12 Oktober 2014 | 11:52 WIB
Video Siswi SD Disiksa, Komnas PA Contohkan Kelakuan Anggota DPR
Ketua Komnas PA Arist Merdeka Sirait (kanan). [Antara/Wibowo Armando]

Suara.com - Ketua Komnas Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait menegaskan sejumlah hal penting menyangkut kenapa kasus anak-anak melakukan kekerasan berulang terus. Hal ini terkait dengan beredarnya video berisi penyiksaan yang dilakukan sejumlah siswa SD terhadap seorang siswi.

"Pertama, pemerintah tidak jujur mengatakan, generasi penerus itu anak anak," kata Arist kepada suara.com, Minggu (12/10/2014). Ia menambahkan, "Kenapa kekerasan anak masih  terus terjadi, itu karena pemerintah tidak pernah tempatkan anak ke hal prioritas."

Arist menyontohkan pemerintah periode 2014-2019 yang menurutnya hanya menomorsatukaan bagi-bagi kekuasaan. Pemerintah baru di bawa pimpinan Joko Widodo-Jusuf Kalla dinilai tidak menempatkan anak sebagai hal yang penting atau tidak menggunakan sistem pembangunan berbasis anak.

"Kalau bicara (koalisi) Indonesia Hebat, kalau bicara Merah Putih, tetapi mengabaikan generasi penerus, ke dalam cita-cita mereka. Terus bagaimana? Itu omong kosong, politik saja itu," kata Arist.

Contoh lain pemerintah baru ini mengabaikan pembangunan berbasis anak adalah ketika diminta menghadirkan kementerian negara untuk perlindungan anak. "Tapi tidak pernah direspons," kata Arist.

Arist menegaskan permintaan tersebut semata-mata untuk kepentingan anak sebagai generasi penerus bangsa, bukan untuk politis.

"Sebab, kalau kementerian itu dibentuk untuk tujuan politik, tentu kita tolak. Tapi kalau untuk perlindungan anak, kita dukung," katanya.

Penyebab yang kedua, kata Arist, karena faktor orang dewasa, baik itu orang tua, guru, anggota legislatif, kemudian ormas maupun partai politik. "Kita sebagai orang dewasa juga pertontonkan kekerasan kepada anak," kata Arist.

Arist menyontohkan peristiwa pemilihan pimpinan DPR/MPR yang diwarnai dengan teriakan-teriakan, gontok-gontokan, dan kata-kata kasar anggota dewan.

"Coba lihat di pemilihan DPR.MPR, itu tidak punya etika, mereka tidak membayangkan anak-anak menonton itu.Kalau ada anak melakukan kekerasan itu karena nonton orang dewasa," ungkapnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI