Gaya-gayaan Calon Kepala Daerah Cuma Buat Cari Dukungan

Siswanto Suara.Com
Selasa, 28 Juli 2015 | 18:04 WIB
Gaya-gayaan Calon Kepala Daerah Cuma Buat Cari Dukungan
Pemerhati budaya dan dosen Ilmu Budaya UNS Solo, Jawa Tengah, Tunjung W Sutirto, Selasa (28/7/2015). [Suara.com/Labib Zamani]

Suara.com - Proses pesta demokrasi lima tahunan untuk memilih kepala daerah telah dimulai. Para kandidat yang akan berlaga di pilkada serentak 9 Desember 2015 telah mendaftar ke KPUD. Hari ini merupakan penutupan pendaftaran.

 Di Solo, Jawa Tengah, telah ditetapkan dua pasangan calon wali kota dan wakil wali kota. Mereka adalah pasangan yang diusung PDI Perjuangan, F. X. Hadi Rudyatmo (Rudy) dan Achmad Purnomo. Sedang Koalisi Solo Bersama gabungan dari Partai Golkar, PAN, Gerindra, Demokrat, PPP dan PKS, mengusung Anung Indro Susanto dan Muhammad Fajri.

 Mereka saling bersaing menarik perhatian masyarakat. Itu terlihat dari cara mereka mendaftarkan diri ke KPU Solo. Pasangan Rudy-Purnomo memakai sepeda onthel dengan pakaian lurik dan caping. Sedang pasangan Anung-Muhammad Fajri dengan cara menaiki kuda.

 Melihat fenomena tersebut, pemerhati budaya sekaligus dosen mata kuliah Ilmu Budaya dari Universitas Sebelas Maret Solo, Tunjung W. Sutirto, menilai semua yang dilakukan atau yang ditonjolkan oleh masing-masing pasangan calon merupakan budaya pop (instan). Artinya cepat datang dan cepat pergi.

 Simbol-simbol yang digunakan oleh pasangan calon, seperti memakai pakaian lurik, bersepeda onthel maupun berkuda, hanya untuk cari perhatian.

 Padahal, kata dia, tanpa harus melakukan hal tersebut, masyarakat sudah bisa menilai calon kepala daerah mana yang benar-benar komitmen untuk kesejahteraan rakyat.

 "Tren seperti itu sudah lama terjadi. Memang melalui kegiatan seperti itu akan menumbuhkan simpatik kepada masyarakat. Sehingga simbol-simbol itu sangat afektif dan menjadi pilihan masing-masing pasangan calon," kata Tunjung ketika ditemui Suara.com di kampus UNS.

Dia menilai simbol-simbol tersebut tidak memiliki dampak lebih dalam perencanaan pembangunan atau perkembangan suatu daerah.

"Apakah dengan cara itu bisa mengangkat dan mendongkrak perkembangan daerah. Sangat kecil sekali, karena apa yang dilakukan itu justru lebih kepada pencitraan," katanya.

Tunjung juga mencontohkan pada waktu pemilihan presiden dan wakil presiden, masing-masing pasangan calon memiliki ciri khas sendiri. Ada baju kontak-kontak dan baju putih. Namun setelah semuanya setelah tren tersebut juga berangsur hilang.

"Jadi simbol-simbol itu hanya sebuah bentuk manipulasi untuk mencari dukungan. Sehingga tidak akan berdampak pada perencanaan pembangunan," imbuh dia.

 Lebih jauh, agar tidak terlalu terlihat pencitraan dalam mencari dukungan ini bisa dilakukan dengan memanfaatkan media sosial. Melalui media sosial justru akan lebih efektif untuk mencari dukungan.

 "Sekarang ini tidak ada orang yang tidak bisa mengoperasikan internet. Jadi akan lebih mudah mencari dukungan dengan mendsos daripada menonjolkan simbol-simbol tersebut." (Labib Zamani)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Film Makoto Shinkai Mana yang Menggambarkan Kisah Cintamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Jadi Superhero, Kamu Paling Mirip Siapa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Destinasi Liburan Mana yang Paling Cocok dengan Karakter Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Merek Sepatu Apa yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Karakter Utama di Drama Can This Love be Translated?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Menu Kopi Mana yang "Kamu Banget"?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Tipe Kepribadian MBTI Apa Sih Sebenarnya?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Zodiak Paling Cocok Jadi Jodohmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tua Usia Kulitmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Apa Mobil yang Cocok untuk Introvert, Ambivert dan Ekstrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Detail Sejarah Isra Miraj?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI