Suara.com - Dokumen firma hukum penyedia jasa pengelolaan keuangan asal Panama, Mossack Fonseca, yang bocor ke publik, menyeret sejumlah nama kepala negara, politisi, dan tokoh dunia. Yang mengejutkan, putra Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, ikut tercantum dalam dokumen yang dikenal dengan sebutan "The Panama Papers" itu.
Sebagai informasi, Mossack Fonseca adalah firma hukum terbesar keempat dunia yang bisa membantu orang-orang berkantong tebal untuk menyembunyikan hartanya di luar negeri. Mossack Foneca bisa mengalirkan dana pengguna jasanya ke perusahaan-perusahaan offshore, yakni perusahaan-perusahaan berbadan hukum yang berada di wilayah yurisdiksi di wilayah Tax Haven “Surga Pajak”.
Negara Surga Pajak sendiri merupakan negara yang memberlakukan pajak amat kecil, bahkan tak jarang tidak memberlakukan pajak sama sekali. Beberapa negara yang termasuk Surga Pajak adalah Swiss, British Virgin Islands, dan Siprus.
Perusahaan-perusahaan offshore tersebut memang secara teknis adalah perusahaan legal. Namun, kebijakan negara-negara Surga Pajak, yang cenderung menutupi informasi terkait keuangan warganya, membuat perusahaan tersebut jadi sarana favorit bagi mereka yang ingin menyembunyikan hartanya.
Ada sedikitnya 11,5 juta data Mossack Fonseca yang bocor ke publik. Sejauh ini, berdasarkan investigasi Konsorsium Jurnalis Investigasi Internasional (ICIJ), yang terdiri atas 107 media di lebih dari 70 negara, ada 140 politisi dari 55 negara yang namanya ada dalam dokumen Mossack Fonseca.
Berikut ini adalah nama-nama besar yang terungkap dalam dokumen tersebut.
1. Salah satunya, yang cukup mengejutkan adalah putra Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, Mohd. Nazifuddin bin Mohd Najib. Dari dokumen yang bocor tersebut terungkap bahwa ada dua perusahaan offshore yang didirikan selama masa pemerintahan Najib Razak.
2. Ayah dari Perdana Menteri Inggris David Cameron, Ian Cameron, pun ikut disebut. Di situ terungkap bahwa Ian Cameron adalah pendiri Blairmore Holdings Inc. di Panama pada tahun 1982. Perusahaan tersebut bernilai hampir 20 juta Dolar AS dan tidak punya kewajiban membayar pajak pendapatan, maupun pajak perusahaan yang diberlakukan Inggris.
3. Nama lain yang muncul di dokumen tersebut adalah putri mantan Perdana Menteri China Li Peng, Li Xiaolin. Li dan suaminya Liu Zhiyuan memiliki Foundation Silo, pemegang saham satu-satunya dari Cofic Investments Ltd, sebuah perusahaan yang terdaftar di British Virgin Islands saat sang ayah menjabat sebagai perdana menteri China.
4. Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz bin Abdulrahman Al Saud juga tercantum di salah satu dokumen tersebut. Raja Salman disebutkan punya peran pada sebuah perusahaan di British Virgin Islands yang bergerak dalam bidang gadai rumah mewah di London.
5. Nama Presiden Uni Emirat Arab, Khalifa bin Zayed bin Sultan Al Nahyan pun muncul di dokumen tersebut. Sedikitnya ada 30 perusahaan di British Virgin Islands yang didirikan atas nama Sheikh Khalifa, berdasarkan dokumen tersebut. Masing-masing memiliki properti bernilai sedikitnya 1,7 miliar Dolar di kawasan elit London seperti Kensington dan Mayfair.
6. Kemudian, seperti disinggung dalam artikel sebelumnya, dua rekan dekat Presiden Rusia Vladimir Putin juga masuk dalam dokumen itu. Sergey Roldugin, ayah baptis putri Putin, Maria, memiliki tiga perusahaan offshore. Sementara teman masa kecil Putin, Arkady dan Boris Rotenberg memiliki tujuh perusahaan offshore yang terdaftar di British Virgin Islands.
7. Presiden Argentina Mauricio Macri pun disebut punya perusahaan offshore menurut dokumen Mossack Fonseca tersebut. Macri, bersama anggota keluarganya dikatakan sebagai direktur perusahaan Bahama, Fleg Trading Ltd, sejak 1998 hingga dibubuarkan pada tahun 2009. Macri tidak membantah punya asset di Fleg Trading ketika dirinya menjabat sebagai Wali Kota Buenos Aires.
8. Perdana Menteri Eslandia Sigmundur Gunnlaugsson pun disebutkan, bersama sang istri, punya sebuah perusahaan bernama Wintris Inc di British Virgin Islands.
9. Tak jauh berbeda dengan Perdana Menteri Ukraina Petro Poroshenko yang disebut memiliki kepemilikan saham bersama atas perusahaan Prime Asset Partners Limited di British Virgin Islands. Perusahaan tersebut merupakan holding dari perusahaan Siprus dan Ukranina yang memproduksi permen dan makanan ringan.
10. Selain itu, ada pula mantan Emir Qatar, Hamad bin Khalifa Al Thani yang disebut mempunyai perusahaan offshore di British Virgin Islands, Afrodille S.A. saat dirinya menjabat sebagai Emir. Lewat perusahaan tersebut Al Thani memegang sebuah rekening bank di Luxemburg dan memiliki saham atas dua perusahaan di Afrika Selatan.
(projects.icij.org)