Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Siapa Dalang Persekusi?

Reza Gunadha

Senin, 05 Juni 2017 | 08:12 WIB
Kejarlah Daku Kau Kutangkap, Siapa Dalang Persekusi?
Dua orang tersangka kasus persekusi remaja saat di giring petugas di Polda Metro Jaya, Jakarta, Jumat (2/6).

Suara.com - Persekusi atau perburuan sewenang-wenang terhadap seseorang—terutama yang dianggap melakukan penghinaan melalui media sosial—untuk disakiti tengah marak di Indonesia. Seorang anggota DPR menilai persekusi adalah terorisme gaya baru. Namun, siapakah dalangnya?

PMA, inisial seorang bocah berusia 15 tahun di DKI Jakarta, mungkin tak bakal melupakan peristiwa yang terjadi pada Minggu (28/5/2017).

Ketika jam menunjukkan pukul 23.30 WIB, rumah kontrakan ia dan sang ibu didatangi 10 orang yang—menurut surat laporan kepada kepolisian—mengaku sebagai anggota FPI.

Sesaat setelah PMA menuruni tangga kontrakan, perutnya langsung dipukul oleh orang-orang tersebut. Ia lantas digiring ke kantor rukun warga setempat. Sang ibu juga ikut dibawa oleh massa.

Sesampainya di kantor RW, PMA dan sang ibu semakin ketakutan. 100 orang sudah menunggu mereka berdua di kantor tersebut.

Tak ayal, PMA kembali harus menerima pukulan di perut, kepala, dan wajahnya. Si ibu sedih, tapi tak bisa melakukan pembelaan apa pun di tengah kerumunan massa yang berteriak, ”bunuh saja, bunuh.”

PMA lantas diminta membuat surat pernyataan maaf karena dianggap kerumunan massa menghinan pentolan FPI Muhammad Rizieq Shihab, yang juga tersangka kasus pornografi.

Sepekan sebelum PMA, nun jauh di Kota Solok, Sumatera Barat, seorang perempuan yang berprofesi sebagai dokter, Fiera Lovita, sudah lebih dulu menjadi korban persekusi.

baca juga

Kediaman Fiera didatangi sekelompok orang yang mengaku anggota ormas, 22 Mei 2017 siang sekitar pukul 13.00 WIB, persis ketika dia dan anak-anaknya berada di dalam mobil.

Para lelaki itu mengetuk-ngetuk  jendela pintu mobil Fiera. Takut anak-anaknya dianiaya, Fiera lantas menghubungi anit Intel Polres Solok bernama Ridwan. Ia kenal dengan Ridwan, karena sebelumnya pernah dipanggil karena ada yang melapor dirinya melakukan penghinaan melalui media sosial.

Fiera dan anak-anaknya masih menangis di dalam mobil ketika Ridwan datang. Sang polisi lantas bernegosiasi dengan perwakilan orang yang mengepung mobil tersebut.

”Mereka mendesak saya meminta maaf karena unggahan tulisan saya di media sosial. Mereka juga mendesak saya mengunggah pernyataan maaf di Facebook,” tukasnya.

Masih diliputi suasana ketakutan, Fiera akhirnya menuruti permintaan orang-orang tersebut. Namun, teror terhadap dirinya ternyata masih terjadi setelah pertemuan tersebut. Akhirnya ia dan anak-anaknya—dikawal anggota Banser NU—mengungsi ke ibu kota.

Teror terhadap Fiera bermula ketika dirinya mengunggah tiga tulisan di Facebook pada 19-21 Mei 2017. Tulisan itu ia buat setelah menonton berita konferensi pers polisi mengenai barang bukti kasus pornografi Habib Rizieq dan Firza Husein.

"Saya cuma menulis tanggapan berita kaburnya seorang tokoh yang harusnya memberikan keterangan kepada polisi,” tuturnya.

’Playing Victim’

Seperti biasa, maraknya aksi persekusi menjadi polemik di media massa. Selain banyak pihak yang mengecam, tak sedikit pula orang yang menilai aksi itu sebagai hal wajar atau sekadar menyindir korban persekusi.

"Waktu rumah SBY digeruduk sekelompok orang gak dikenal &meninggalkan mobil terano hitam tak bertuan,termasuk persekusi g ya? #StopPersekusi," tulis artis cum politikus Partai Gerindra, Rachel Maryam, melalui akun Twitternya, yang justru menuai kritik warganet.

Ketua Presidium alumni 212—yang tentutnya berada di barisan Rizieq—Ansufri Idrus Sambo menilai aksi persekusi itu dilakukan oleh orang yang tersinggung atas penghinaan terhadap ulama yang sangat dihormati.

"Itu urusan pribadi-pribadi lah. Kalau Anda punya keluarga,  terus keluarga anda dihina anda tersinggung nggak? Jadi, kalau FPI merasa tersinggung karena ulamanya dihina, menurut saya wajar," kata Sambo di Komnas HAM, Jalan Latuharhari, Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (2/6).

Namun, peneliti Setara Institute, Halili Hasan, mengatakan ormas maupun individu pelaku aksi persekusi selalu mengakui diri menjadi korban yang dirugikan.

Halili menuturkan, mengakui diri sebagai korban yang dirugikan atau playing victim menjadi taktik tokcer untuk membenarkan aksi persekusi sebagai bentuk jihad dan mengundang simpati melalui media sosial.

“Salah satu strategi mereka adalah playing victim, seolah-olah dizalimi. Itu dijadikan sebagai pembenar bagi aksi mereka sendiri. Mendesak korban untuk menyatakan maaf secara tertulis dalam surat bermaterai juga Cuma bentuk penghalusan dari intimidasi. Biar dibilang legal,” terangnya.

Padahal, terus Halili, surat bermaterai tidak memunyai kekuatan hukum dalam kasus pidana. “Mereka tidak bisa seperti itu, karena tindakan seperti itu termasuk represif. Sementara yang boleh menggunakan kekuatan represif hanyalah negara,” terangnya.

Siapa Dalangnya?

Polda Metro Jaya sudah menetapkan dua orang—satu orang anggota FPI—sebagai tersangka penganiayaan PMA. Polisi juga masih mengembangkan kasus itu, sehingga tak menutup kemungkinan ada tersangka baru.

Sementara Kapolri Jenderal  Tito Karnavian sudah mencopot Ajun Komisaris Besar Sumelawati Rosya dari jabatannya sebagai Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Solok, Sumatera Barat.

Pencopotan itu dilakukan karena Tito menilai Sumelawati tidak berani menghadapi individu maupun organisasi yang melakukan persekusi terhadap dokter Fiera.

Bahkan, Tito kesal karena Sumelawati menganggap kasus itu sudah selesai setelah Fiera membuat pernyataan maaf setelah diteror.

Namun, Ketua Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) Asfinawati menegaskan, beragam kasus persekusi beserta langkah antisipatifnya tak cukup hanya menangkapi pelaku-pelakunya.

“Kalau hanya menangkapi pelaku di lapangan, potensi kasus serupa terjadi ke depannya masih ada,” tegas Asfin.

Apalagi, kata dia, kasus-kasus itu terjadi dalam waktu berdekatan, sehingga memunyai pola terorganisasi.

Karena cenderung terorganisasi, Asfin menilai aksi persekusi di banyak daerah itu tentu dirancang oleh aktor yang berada di balik layar.

“Tentu ada dalang di baliknya, itulah yang harus dikejar dan diperiksa oleh aparat kepolisian. Kami berharap, polisi bisa melakukan hal tersebut,” tandasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Habib Rizieq Pertimbangkan Tinggal di Arab Saudi hingga 2018

Habib Rizieq Pertimbangkan Tinggal di Arab Saudi hingga 2018

News | Senin, 05 Juni 2017 | 06:33 WIB

Seram! Begini Gaya dan Ciri-ciri Persekusi

Seram! Begini Gaya dan Ciri-ciri Persekusi

Video | Minggu, 04 Juni 2017 | 21:36 WIB

PKS: Persekusi Akibat Pelanggar Hukum Tidak Ditindak

PKS: Persekusi Akibat Pelanggar Hukum Tidak Ditindak

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 19:55 WIB

Korban Persekusi FPI Dilarikan ke Rumah Aman

Korban Persekusi FPI Dilarikan ke Rumah Aman

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 15:48 WIB

Polisi Mulai Sebar Surat DPO Rizieq Shihab

Polisi Mulai Sebar Surat DPO Rizieq Shihab

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 15:03 WIB

Polisi Periksa Ketua RW Terkait Persekusi PMA

Polisi Periksa Ketua RW Terkait Persekusi PMA

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 14:55 WIB

Ari Wibowo Sentil Rasisme dan Pancasilais

Ari Wibowo Sentil Rasisme dan Pancasilais

Entertainment | Minggu, 04 Juni 2017 | 13:31 WIB

Sandiaga: Tindak Tegas Anggota Ormas Pelaku Persekusi !

Sandiaga: Tindak Tegas Anggota Ormas Pelaku Persekusi !

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 13:29 WIB

Rachel Maryam: Banser Geruduk Pengajian, Persekusi Nggak Ya?

Rachel Maryam: Banser Geruduk Pengajian, Persekusi Nggak Ya?

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 11:48 WIB

Anggota Komisi III DPR: Istilah Persekusi Terlalu Seram

Anggota Komisi III DPR: Istilah Persekusi Terlalu Seram

News | Minggu, 04 Juni 2017 | 11:02 WIB

Terkini

APMF 2026 Dorong Industri Bangun Blueprint Baru saat Teknologi dan Perilaku Konsumen Kian Dinamis

APMF 2026 Dorong Industri Bangun Blueprint Baru saat Teknologi dan Perilaku Konsumen Kian Dinamis

Bisnis | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:55 WIB

Laga Hidup Mati Piala AFF 2026: 3 Senjata Singapura yang Bisa Kubur Mimpi Timnas Indonesia

Laga Hidup Mati Piala AFF 2026: 3 Senjata Singapura yang Bisa Kubur Mimpi Timnas Indonesia

Bola | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:54 WIB

Penempatan Dana SAL Perkuat Kapasitas Kredit Produktif BRI

Penempatan Dana SAL Perkuat Kapasitas Kredit Produktif BRI

Jatim | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:49 WIB

Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?

Akses Pendidikan Perempuan: Sudahkah Merdeka Belajar Benar-benar Setara?

Your Say | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:45 WIB

LRT Manggarai dan RS Internasional Jakarta Bakal Dibangun Lewat Obligasi Rp5,2 Triliun

LRT Manggarai dan RS Internasional Jakarta Bakal Dibangun Lewat Obligasi Rp5,2 Triliun

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:43 WIB

Aksi Brutal Tengah Malam, Pria Bersenjata Golok Rusak Fasilitas SPPG di Sukabumi

Aksi Brutal Tengah Malam, Pria Bersenjata Golok Rusak Fasilitas SPPG di Sukabumi

Jabar | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:43 WIB

Ada Orang Dalam Bandara, Petugas KLIA Teridentifikasi Bantu Kopilot Selundupkan Ekstasi ke Indonesia

Ada Orang Dalam Bandara, Petugas KLIA Teridentifikasi Bantu Kopilot Selundupkan Ekstasi ke Indonesia

Banten | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:42 WIB

Bukan Sekali! Menhut Raja Juli Sering Ketemu Bupati Kuansing Sebelum Kena OTT

Bukan Sekali! Menhut Raja Juli Sering Ketemu Bupati Kuansing Sebelum Kena OTT

News | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:42 WIB

PGS Resmi Tutup Permanen Gara-gara Pailit, Pedagang Mulai Kosongkan Kios dan Pindah

PGS Resmi Tutup Permanen Gara-gara Pailit, Pedagang Mulai Kosongkan Kios dan Pindah

Surakarta | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:41 WIB

Buru Talenta dari Timur Indonesia, PB Djarum Kembali ke Makassar Setelah Satu Dekade

Buru Talenta dari Timur Indonesia, PB Djarum Kembali ke Makassar Setelah Satu Dekade

Sport | Rabu, 05 Agustus 2026 | 19:40 WIB

×