Staf Medis Kewalahan Akibat Corona, 'Jika Kolaps, Keadaan Akan Lebih Buruk'

Dany Garjito
Staf Medis Kewalahan Akibat Corona, 'Jika Kolaps, Keadaan Akan Lebih Buruk'
Seorang perawat bersiap bertugas di satu-satunya rumah sakit di Cremona, Italia. [Paolo Miranda/BBC]

"Kalau banyak petugas kesehatan kena, layanan kesehatan akan kolaps."

Suara.com - Djoko Judodjoko menjadi salah satu dokter yang meninggal dalam status suspek virus corona.

Ia mengalami demam, batuk, hingga sesak napas usai melayani pasiennya pekan lalu di rumah sakit swasta di Bogor, Jawa Barat.

Laporan BBC Indonesia -- Jaringan Suara.com menyebutkan bahwa Kota Bogor sendiri sebelumnya dilaporkan memiliki sejumlah cluster pasien COVID-19 yang berkaitan dengan acara keagamaan Muslim dan Kristen di daerah itu.

Bahkan Wali Kota Bogor Bima Arya dan seorang stafnya juga didiagnosis positif COVID-19.

Pandu Riono, adik ipar almarhum, mengatakan bahwa pihak keluarga kesulitan mendapatkan kamar perawatan di rumah sakit rujukan pemerintah, yakni di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta.

"Tidak ada tempat. Baru dikirim Sabtu pagi (tiga hari setelah dirawat di rumah sakit swasta di Bogor), ternyata tidak tertolong. Siangnya sudah meninggal," kata Pandu.

"Alat napasnya… di sana kan banyak pejabat yang dirawat. Sarana bantuan napasnya juga mungkin rebutan. Tidak semua rumah sakit rujukan punya alat bantu napas yang cukup," ujar Pandu yang juga seorang dokter.

'Kalau petugas kolaps, keadaan akan lebih buruk'

Tekanan emosional yang dirasakan staf medis kerap terlampau berat. [Paolo Miranda/BBC]
Tekanan emosional yang dirasakan staf medis kerap terlampau berat. [Paolo Miranda/BBC]

Pandu Riono, yang juga dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, menyayangkan keterbatasan Alat Perlindungan Diri (APD), di sejumlah rumah sakit yang menjadi salah satu penyebab para tenaga medis terpapar virus corona.

Padahal, menurutnya, APD harusnya merupakan prioritas.

"Jangan sampai ada rumah sakit, puskesmas yang minim APD. Ini utama. Kalau banyak petugas kesehatan kena, layanan kesehatan akan kolaps. Kalau mereka kolaps, apa yang terjadi akan lebih buruk lagi," kata Pandu.

"Dokter dan tenaga kesehatan ini garda terakhir dan benteng terakhir yang kita miliki untuk memberikan pelayanan ke publik. Sebagian sudah terinfeksi, cuma belum dites saja," katanya.

Pemerintah klaim sudah kirim APD

Terkait dengan keselamatan petugas medis, Presiden Joko Widodo mengatakan pemerintah telah berupaya mencukupi APD.

"Kemarin sudah saya sampaikan, APD sudah kita distribusikan sebanyak 105.000," kata Jokowi (24/03).

Barang-barang itu, katanya, sudah dikirim ke sejumlah provinsi, seperti sebanyak 40.000 ke Jakarta dan 15.000 buah ke Jawa Barat.

"Saya ingin Dinkes provinsi secepatnya mendistribusikan ke RS yang membutuhkan," kata Jokowi.

Ketua Satgas COVID-19 IDI, Zubairi Djoerban, mengatakan dokter dan petugas medis memang berisiko tinggi terpapar virus corona.

Bercermin dari Italia, sekitar 9% dari seluruh pasien Covid-19 adalah tenaga medis, kata Zubairi. Maka itu, ia mengatakan keberadaan APD mutlak.

"APD harus dilengkapi. Dan harus strict pada peraturan penanganan pasien. Nggak bisa tawar menawar. Pakai masker, gaun pelindung diri, penutup muka."

Zubairi mempertanyakan klaim pemerintah, yang mengatakan akan mendahulukan tenaga medis untuk mendapat rapid test. Hingga Selasa sore, menurut Zubairi, para tenaga medis belum dapat mengakses rapid test tersebut, padahal tes tersebut penting untuk mengetahui kondisi kesehatan para petugas medis.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS