Kenapa Warga Masih ke Masjid, Meski MUI dan Tokoh Sarankan Salat di Rumah?

Arsito Hidayatullah

Rabu, 29 April 2020 | 03:15 WIB
Kenapa Warga Masih ke Masjid, Meski MUI dan Tokoh Sarankan Salat di Rumah?
Masyarakat Muslim di Lhokseumawe, Aceh, menjalani salat Tarawih berjamaah di sebuah masjid di kota itu, Jumat (24/4/2020) lalu. [Getty/BBC]

Rahmad agaknya tidak tahu bahwa Kecamatan Tanah Abang, lokasi masjid Albarkah, masuk kategori zona merah. Di wilayah itu, sampai pertengahan April lalu, ada 60 pasien positif virus Corona, sampai pertengahan April lalu.

Bahkan Kecamatan Tanah Abang, termasuk satu dari tiga kecamatan yang disebut paling tinggi untuk warganya menjadi pasien positif virus corona se-DKI Jakarta.

Dua kecamatan lainnya adalah Kecamatan Duren Sawit, Jakarta Timur dan Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat.

Di seluruh Jakarta, sampai Minggu (26/04) dalam rangkuman data Pemprov DKI Jakarta, ada 3.746 kasus positif, 1.952 dirawat dan 357 orang meninggal.

Rahmad mengaku masih ingin selalu salat di masjid, meski diakuinya kini sulit menemukan masjid yang masih buka.

"Biasanya (salat di masjid) di Depok, cuma perbatasan dijaga, paling nanti dekat rumah di Bintaro (Tangsel, Provinsi Banten), cuma belum dapat," ungkapnya.

Walaupun mengaku bersikap hati-hati, dengan memperhatikan protokol yang dikeluarkan pemerintah Indonesia, Rahmad mengaku tidak takut terpapar.

"Yang membuat saya yakin, karena kita dalam rangka ibadah, kenapa kita mesti takut," katanya.

Warga marah kalau ada masjid tetap gelar salat berjamaah

baca juga

Berbeda dengan masjid Albarkah, dua masjid besar di kawasan Tanah Abang, Jakpus, yaitu, Said Na'um dan Al-Makmur, justru menutup segala aktivitasnya selama PSBB.

Berdiri di kawasan Kebon Kacang, di samping rumah susun, masjid Said Na'um yang didirikan pada 1975 di masa Gubernur Ali Sadikin itu, tertutup rapat untuk kegiatan ibadah --mulai salat fardhu, salat tarawih hingga buka bersama.

"Baru sekali inilah, di mana bulan Ramadan yang seharusnya sebagai ajang mencari amal untuk beribadah, tapi karena keadaan, kita tidak dapat melaksanakannya," papar sekretaris masjid itu, Suparmo, kepada saya.

Mematuhi peraturan yang digariskan Pemprov DKI Jakarta, Suparmo perlu pula mendapatkan penjelasan dari tokoh atau guru agama untuk meyakinkan para jamaah masjid yang bertanya tentang alasan penutupan masjid.

"Bahkan dua masjid terbesar (di Arab Saudi) tidak melakukan kegiatan ibadah di masjid... Itu artinya ini (wabah virus corona) suatu hal yang memang tidak main-main, harus betul-betul diantisipasi," ujarnya.

Suparmo mengaku tidak ada jamaahnya yang ngotot mempertanyakan penghilangan sementara segala aktivitas ibadah di masjid Said Na'um.

Sebaliknya, lanjutnya, warga sekitar justru mempertanyakan apabila ada masjid yang membuka aktivitas ibadahnya seperti pada situasi normal.

"Kalau ada masjid yang bandel, warga malah nggak suka, kok mereka melanggar aturan PSBB," kata Suparmo.

Berbeda dengan ramadan sebelumnya, hampir semua kegiatan ritual ibadah di masjid itu, yang sudah diprogramkan, harus dihilangkan.

"Seperti biasanya, sampai akhir Ramadan hingga Idul Fitri, sudah kita susun programnya, mulai penceramah, para imam sudah kita hubungi," ungkapnya agak getir.

Selain menggelar salat tarawih berjamaah, masjid itu menggelar buka bersama yang "bisa dihadiri 300 orang tiap harinya", katanya.

Mereka juga memberikan santunan kepada anak yatim dan dhuafa, ceramah agama sebelum tarawih dan usai salat subuh, hingga menerima dan menyalurkan zakat fitrah. "Ujungnya ditutup dengan salat Idul Fitri".

"Tapi begitu ada pengumuman (PSBB), bahwa kita tidak boleh melakukan itu, ya bayangkan saja... bagaimana ya... semua jadi kagok gitu," ujar Suparmo yang sejak awal 1980-an aktif di masjid Said Na'um.

"Cuma diperintahkan azan, ya azan saja," tambahnya.

'Baru kali ini selama 58 tahun, saya melihat masjid ditutup'

Masjid Al-Makmur, salah-satu masjid terkuno di Jakarta, yang letaknya berdekatan dengan Pasar Tanah Abang, juga menghentikan segala aktivitas ibadah.

Saat saya datangi Kamis (23/04) lalu, pintu gerbangnya tertutup rapat. Hanya terlihat seorang pria tidur di salah satu anak tangganya dan anak-anak bermain bola di halamannya.

Di pintu gerbang yang tertutup, pengelola masjid menempelkan pengumuman berisi penghentian sementara kegiatan ibadah salat Jumat dan fardhu selama wabah Covid-19.

Yazid Salim, 58 tahun, penjual makanan kamir dan jamaah masjid itu, mengaku sedih dengan isi pengumuman tersebut, namun dia dapat menerima dan memakluminya. Yazid berjualan tak jauh dari masjid tersebut.

"Saya sebagai umat Islam, saya merasa sedih, sebab, selama saya lahir sampai sekarang, saya baru ngalamin seperti ini, semua masjid ditutup," kata pria yang memelihara jenggot dan berkopiah ini.

"Hampir 60 tahun usia saya, saya baru mengalami semua masjid ditutup, karena ada wabah."

Dia mengaku pula kehilangan dengan tradisi di masjid selama Ramadan yang selalu diikutinya selama puluhan tahun di masjid Al-Makmur.

"Biasanya kita ketemu dengan sahabat di masjid saat tarawih atau pengajian. Semuanya kini tidak dibolehkan. Pasti kita merasa kehilanganlah," kata Yazid.

'Tetangga saya cari masjid yang buka hingga lokasi yang jauh'

Walaupun demikian, Yazid mengikuti imbauan pemerintah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) agar melakukan ibadah salat di rumah selama wabah belum teratasi.

Penjelasan MUI yang didasarkan hadis Nabi Muhammad SAW beserta riwayat para sahabatnya yang pernah mengalami wabah di masa itu, menjadi pegangannya ketika menghadapi kejadian serupa.

"Kita sebagai umat Nabi Muhammad, kita ikuti saja apa yang diperintahkan oleh nabi, yaitu disuruh berdiam di rumah, dan sekaligus mengikuti ulama dan pemerintah," kata Yazid.

Dari para ulama dan guru agamanya, Yazid pernah mendengar bahwa ada hadist yang menyebutkan bahwa umat Islam diminta salat di rumah apabila hujan besar.

"Apalagi sekarang wabah yang sifatnya bisa mengancam kesehatan dan nyawa manusia. Harus kita hindari," ujarnya.

Dia kemudian bercerita bahwa ada salah seorang tetangganya yang ngotot salat di masjid, walaupun sudah diimbau salat di rumah.

"Walaupun sudah saya berikan hadistnya, tapi tetap saja (dia salat di masjid)," ungkapnya. Tetangganya itu, menurutnya, bahkan sengaja mencari masjid yang masih buka hingga di lokasi yang jauh dari kediamannya di Tanah Abang.

Dukungan ormas Islam, ulama dan pendakwah

Bagaimanapun, dua ormas Islam terbesar, Nahdhlatul Ulama dan Muhammadiyah, mendukung kebijakan pemerintah dalam melakukan pembatasan sosial berskala besar, termasuk agar salat di rumah utamanya selama Ramadan.

Langkah ini menindaklanjuti imbauan Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang meminta umat Islam menggelar ibadah salat di rumah dan tidak di masjid selama wabah Covid-19.

MUI melarang sementara pelaksanaan ibadah yang membuat konsentrasi massa, seperti salat lima waktu berjamaah, salat Tarawih, salat Id ataupun kegiatan majelis taklim.

Larangan berlaku bagi umat Islam di wilayah di mana kondisi penyebaran virus corona sudah tak terkendali.

Dalam perkembangan selanjutnya, MUI juga mengimbau umat Islam mengganti salat Jumat dengan salat Zuhur di rumah.

Melalui surat edarannya pada pertengahan April, NU dan Muhammadiyah juga mengimbau agar umat Islam melakukan salat di rumah dan tidak di masjid agar dapat mengurangi potensi penyebaran virus corona. Mereka juga memberikan semacam panduan.

Dalam keterangannya, mereka antara lain menggunakan argumen agama, seperti yang dicontohkan Sekretaris Umum Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, tentang salat Tarawih.

"Di dalam beribadah, dalam situasi normal, manusia melaksanakan ibadah secara maksimal. Tetapi ada tuntutan dalam syariah, agar dalam ibadah kita tidak memaksakan diri," jelasnya.

"Nabi Muhammad melaksanakan salat tarawih berjamaah itu hanya satu kali. Selebihnya Nabi Muhammad salat tarawih di rumah."

Dari pijakan itu, salat tarawih bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berjamaah. "Dan berjamaah di rumah atau di masjid, itu sama sahnya, dan sama afdolnya," papar Mu'ti.

Pendakwah Abdul Somad, yang juga memiliki banyak pengikut, dalam berbagai kesempatan juga meminta umat Islam agar salat di rumah saat wabah virus corona.

Mendasarkan pada hadist atau kesaksian para ulama, Abdul Somad mengungkapkan bahwa wabah Covid-19 seperti sekarang pernah terjadi di masa lalu.

Apa yang dilakukan para pendahulu, menurutnya, dapat menjadi pegangan saat dihadapkan persoalan yang sama saat ini.

"Pernah di Mesir sampai ke Andalusia, terjadi paceklik, kemarau, dan wabah, sedahsyat itu, sampai masjid-masjid ditutup. Tidak ada orang salat. Sama seperti sekarang," papar Somad.

"Bagaimana sikap kita? Taat kepada Allah, Rasulullah, hingga ulama. MUI sudah mengeluarkan tentang salat berjamaah dan tidak berkerumun. Dan saya pribadi tidak menggelar takbir akbar untuk menjaga ini," katanya.

[Laporan Heyder Affan, wartawan BBC News Indonesia]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Anies Larang Warga Bagikan Bantuan ke Pengemis Musiman, Ini Alasannya

Anies Larang Warga Bagikan Bantuan ke Pengemis Musiman, Ini Alasannya

News | Selasa, 28 April 2020 | 19:56 WIB

Masalah Onani Diperdebatkan, Gus Miftah: Kenapa Berubah Jadi Caci Maki?

Masalah Onani Diperdebatkan, Gus Miftah: Kenapa Berubah Jadi Caci Maki?

News | Selasa, 28 April 2020 | 17:44 WIB

Puasa, Mohammad Ahsan Tetap Latihan dengan Porsi Ringan

Puasa, Mohammad Ahsan Tetap Latihan dengan Porsi Ringan

Sport | Selasa, 28 April 2020 | 18:10 WIB

Terkini

Darurat Korupsi! Golkar Desak Evaluasi Total Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Beruntun

Darurat Korupsi! Golkar Desak Evaluasi Total Rekrutmen Kepala Daerah Usai OTT Beruntun

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 03:33 WIB

Mulut Dimasukkan Sepatu! Viral Pengakuan Manajer Bank Ngaku Disiksa Atasan

Mulut Dimasukkan Sepatu! Viral Pengakuan Manajer Bank Ngaku Disiksa Atasan

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 03:27 WIB

Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul

Sita 74 Kg Emas dan Valas Rp476 Miliar, Kortas Tipidkor Polri Bongkar Brankas Rahasia di Sentul

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 02:23 WIB

Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD

Gebrakan RUU Sisdiknas: Wajib Belajar Kini 13 Tahun, Termasuk 1 Tahun di PAUD

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 02:16 WIB

Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!

Usai Cafe de'CLAN Signature, Polisi Sita 74 Kg Emas dan Ratusan Miliar Hasil TPPU di Sentul City!

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 01:51 WIB

Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing

Geledah Rumah Mewah di Sentul City Bogor, Polisi Diduga Sita Emas Hingga Mata Uang Asing

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 01:41 WIB

Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah

Rumah Mewah di Sentul City Digeledah Polisi Tengah Malam, Diduga Milik Jampidsus Febrie Adriansyah

News | Kamis, 09 Juli 2026 | 00:58 WIB

Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU

Meluas ke 12 Titik! Polisi Geledah Pacific Place hingga Rumah Mewah di Sentul Terkait Kasus TPPU

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 23:30 WIB

Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal

Bahaya State Capture, Pakar Ungkap Cara Militer 'Kuasai' Negara Lewat Jalur Legal

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 23:30 WIB

Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!

Jejak Densus 88 Kuntit Jampidsus di Cafe de'CLAN Signature: Kini Ditemukan Brankas Dolar Rp67 M!

News | Rabu, 08 Juli 2026 | 22:59 WIB

×