DPR Minta Pemerintah Siapkan Aturan Sangat Ketat Soal Ganja untuk Medis

Dwi Bowo Raharjo

Jum'at, 04 Desember 2020 | 17:56 WIB
DPR Minta Pemerintah Siapkan Aturan Sangat Ketat Soal Ganja untuk Medis
Ilustrasi ganja. (Pixabay/rexmedlen)

Suara.com - Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan ikut menanggapi perihal hasil voting Komisi Obat Narkotika PBB yang memutuskan ganja sebagai narkotika tidak berbahaya. Dengan begitu, peluang ganja digubakan untuk obat dalam keperluan penelitian medis semakin terbuka.

Anggota Komisi IX dari Fraksi PDI Perjuangan Rahmat Handoyo menilai keputusan voting itu tak serta merta kemudian dapat melegalkan ganja di Indonesia. Meski menghormati keputusan yang telah diambil PBB, Handoyo menegaskan bahwa Indonesia punya aturan main sendiri menyangkut ganja

Aturan tersebut tertulis dalam Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Narkotika. Melalui aturan itu, kata dia, pemerintah jelas harus mengikuti amanah rakyat terkait ganja yang masih tergolong narkotika.

"Di mana ganja diatur tegas bahwa ganja diatur pelarangnya dan masuk dalam golongan I dengan penyalahgunanaan diancan hukuman mati paling berat. Bahkan kalau tidak salah Indonesia secara resmi menolak terhadap usulan pelonggaran soal ganja oleh WHO," kata Handoyo kepada wartawan, Jumat (4/12/2020).

Penolakan, lanjut Handoyo, juga datang dari banyak ahli. Ia berujar, mereka para berpendapat bahwa hasil voting PBB tidak akan langsung berdampak pada pelonggaran kontrol internasional terhadap ganja.

"Termasuk kita di Indonesia dikarenakan setiap negara memiliki yurisdiksi atau ketentuan hukum yang berlaku di suatu wilayah masing-masing negara yang harus di hormati," kata Handoyo.

Pada prinsipnya, Handoyo tidak setuju apabila kemudian ganja dihapuskan sebagai narkotika. Mengingat penyalahgunaan ganja di Indonesia yang semakin hari dinilai Handoyo semakin mengkhawatirkan.

Kendati begitu, ia memahami bahwa hasil voting PBB menyoal ganja bisa menjadi tekanan bagi Indonesia dalam mengatur dan mengkategorikan ganja. Untuk itu, ia meminta agar pemerintah dapat mempersiapkan aturan yang sangat ketat.

"Bila desakan itu masif dan kuat solusinya adalah Menkes agar menerbitkan Permenkes yang mengatur pemanfaatan dan penggunaan ganja untuk kepentingan medis. Perlu rambu-rambu yang jelas dan tegas agar lebih mudah menindak penyalahgunaan ganja," kata Handoyo.

baca juga

Sebelumnya Komisi Obat Narkotika PBB melakukan voting untuk menentukan masa depan ganja di industri medis. Menyadur New York Times Kamis (03/12) hasil voting memutuskan ganja sebagai narkotika tidak berbahaya.

Perubahan kategori tersebut akan mendukung ganja dalam penelitian dan upaya legalisasi di seluruh dunia. Hal ini juga akan membuka jalan bagi industri medis yang menggunakan ganja sebagai pengobatan.

Pemungutan suara di Wina mencakup 53 negara anggota, dengan hasil 27:25 dan satu abstain dari Ukraina. Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mendukung, sedangkan China, Mesir, Nigeria, Pakistan dan Rusia menentang.

Delegasi China mengatakan negaranya akan mengontrol secara ketat hasil voting ini untuk melindungi dari bahaya dan penyalahgunaan ganja.

Delegasi Inggris mengatakan klasifikasi ulang ini sejalan dengan bukti ilmiah dari manfaat terapeutiknya tapi negara itu masih mendukung kontrol internasional untuk ganja karena bisa menimbulkan risiko kesehatan masyarakat yang serius.

Rekomendasi untuk mengubah klasifikasi ganja pertama kali dibuat oleh WHO pada tahun 2019. Hal ini memecah belah berbagai pihal secara politis dan mengalami penundaan yang tidak biasa dalam pemungutan suara komisi PBB.

Para ahli mengatakan bahwa pemungutan suara tidak akan berdampak langsung pada pelonggaran kontrol internasional karena pemerintah masih memiliki yurisdiksi tentang bagaimana mengklasifikasikan ganja.

Michael Krawitz, direktur eksekutif Veterans for Medical Cannabis Access, sebuah kelompok advokasi di Amerika Serikat, mengatakan perubahan dalam hukum internasional akan membantu mengurangi penderitaan jutaan orang.

Hal ini juga membantu orang-orang mengurangi ketergantungan pada opiat, mencatat bahwa ganja adalah obat yang dapat pereda nyeri yang unik.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

PBB Ubah Status Ganja, Kini Bisa Digunakan oleh Industri Farmasi

PBB Ubah Status Ganja, Kini Bisa Digunakan oleh Industri Farmasi

Jabar | Kamis, 03 Desember 2020 | 15:45 WIB

WHO Hapus Ganja Dari Daftar Obat-Obatan Paling Berbahaya di Dunia

WHO Hapus Ganja Dari Daftar Obat-Obatan Paling Berbahaya di Dunia

News | Kamis, 03 Desember 2020 | 15:16 WIB

TOK! PBB Legalkan Ganja untuk Obat, Bisa Diproduksi Industri Medis

TOK! PBB Legalkan Ganja untuk Obat, Bisa Diproduksi Industri Medis

Batam | Kamis, 03 Desember 2020 | 15:08 WIB

Isap Ganja Biar Nyenyak Tidur, Petugas Jasa Marga Surabaya Dicokok Polisi

Isap Ganja Biar Nyenyak Tidur, Petugas Jasa Marga Surabaya Dicokok Polisi

Jatim | Kamis, 03 Desember 2020 | 14:41 WIB

Pensiun Muda, Eks Timnas Jerman Ini Alih Profesi Jadi Pebisnis Ganja

Pensiun Muda, Eks Timnas Jerman Ini Alih Profesi Jadi Pebisnis Ganja

Lifestyle | Kamis, 03 Desember 2020 | 14:09 WIB

Terkini

Jelang Hadir di Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Ajudan Jokowi Ungkap Kondisi Ayah Gibran

Jelang Hadir di Sidang Kasus Dugaan Ijazah Palsu, Ajudan Jokowi Ungkap Kondisi Ayah Gibran

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:30 WIB

Sungai Lubuak Lakuak Meluap, Banjir Bandang Rendam Empat Jorong di Pandai Sikek

Sungai Lubuak Lakuak Meluap, Banjir Bandang Rendam Empat Jorong di Pandai Sikek

Sumut | Minggu, 01 November 2026 | 18:25 WIB

Banjir Aceh Barat Gerus Pondasi Rumah dan Jalan, 3 Kecamatan Terdampak

Banjir Aceh Barat Gerus Pondasi Rumah dan Jalan, 3 Kecamatan Terdampak

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:17 WIB

Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri

Bukan Tak Peduli, Ketika Masyarakat Adat Takut Membela Tanahnya Sendiri

Your Say | Minggu, 01 November 2026 | 18:15 WIB

Momen Personel Ungu Nyanyi di Konser, Rowman Bikin Cliquers Tepuk Tangan

Momen Personel Ungu Nyanyi di Konser, Rowman Bikin Cliquers Tepuk Tangan

Entertainment | Minggu, 01 November 2026 | 18:06 WIB

150 Ribu Batang Ganja Dimusnahkan di Madina, Ladang Seluas 5 Hektar Ditemukan di Pegunungan

150 Ribu Batang Ganja Dimusnahkan di Madina, Ladang Seluas 5 Hektar Ditemukan di Pegunungan

Sumut | Minggu, 01 November 2026 | 18:04 WIB

Zero ODOL Mulai Januari 2027 Terancam Tak Tercapai, Akademisi Ungkap Masalahnya

Zero ODOL Mulai Januari 2027 Terancam Tak Tercapai, Akademisi Ungkap Masalahnya

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 18:04 WIB

Jokowi Bakal Hadir di Sidang Ijazah Palsu, Budi Arie Beberkan Persiapan Ayah Gibran

Jokowi Bakal Hadir di Sidang Ijazah Palsu, Budi Arie Beberkan Persiapan Ayah Gibran

News | Minggu, 01 November 2026 | 18:00 WIB

Ini Cara Minum Dirty Latte Si Kopi yang Lagi Viral, Jangan Asal Aduk!

Ini Cara Minum Dirty Latte Si Kopi yang Lagi Viral, Jangan Asal Aduk!

Lifestyle | Minggu, 01 November 2026 | 17:59 WIB

Binance Pulihkan Dana Peretasan Kripto Senilai USD 6,3 Miliar, FBI Tuduh Hacker Korut

Binance Pulihkan Dana Peretasan Kripto Senilai USD 6,3 Miliar, FBI Tuduh Hacker Korut

Bisnis | Minggu, 01 November 2026 | 17:54 WIB

×