Suara.com - Kepolisian Capitol AS meningkatkan keamanan karena teori konspirasi QAnon yang menyebut 4 Maret sebagai 'hari yang sebenarnya' menyebar. Sebelumnya, isu ini menyebut Donald Trump akan menjadi presiden lagi pada 4 Maret.
Menyadur NBC News Rabu (03/03), Timothy Blodgett mengatakan bahwa kantornya dan Kepolisian Capitol sedang memantau informasi terkait potensi protes pada 4 Maret.
"Sebagai tindakan pencegahan untuk mendukung keselamatan dan keamanan Anggota dan staf, USCP akan memiliki personel tambahan yang ditempatkan di seluruh Capitol Grounds," kata pesan itu.
"Selain itu, Garda Nasional terus mempertahankan kehadiran di halaman Capitol untuk mendukung USCP dengan mempertahankan postur keamanan yang ditingkatkan."
"Arti penting tanggal itu dilaporkan menurun dalam beberapa hari terakhir," tulis Blodgett. Tidak ada indikasi bahwa kelompok mana pun akan pergi ke DC untuk protes atau melakukan tindakan kekerasan, katanya.

Anggota Kongres dan anggota staf diminta untuk membawa identifikasi, melaporkan setiap ancaman atau aktivitas yang mencurigakan dan menyimpan nomor darurat.
Dari informasi FBI diketahui bahwa hari Kamis akan menjadi titik kumpul untuk kelompok-kelompok sayap kanan.
Pelantikan Joe Biden dan kerusuhan gedung Capitol menyebabkan keretakan di sayap kanan. Beberapa ekstremis menyerang pendukung QAnon, bahkan pengikut QAnon sendiri mulai mempertanyakan gerakan tersebut.
Banyak orang lainnya tetap menjadi pengikut QAnon, setelah mengadopsi Kamis sebagai hari 'yang sebenarnya' Mereka yakin Demokrat akan ditangkap secara massal atau hari ketika Trump akan dilantik kembali sebagai presiden.
Gerakan "warga negara yang berdaulat" adalah sebuah gerakan konspirasi berusia 50 tahun yang sebagian besar terdiri dari pengunjuk rasa pajak radikal yang percaya bahwa belum ada presiden yang sah sejak Ulysses S. Grant, yang dilantik pada 4 Maret 1869.