Titanic: Kisah 6 Penyintas Tionghoa yang Diselamatkan dari Kapal Tenggelam

Siswanto | BBC | Suara.com

Senin, 19 April 2021 | 11:11 WIB
Titanic: Kisah 6 Penyintas Tionghoa yang Diselamatkan dari Kapal Tenggelam
BBC

Suara.com - Ketika kapal pesiar mewah Inggris Titanic tenggelam di Samudera Atlantik pada April 1912, ribuan orang jatuh ke air es.

Hanya satu perahu sekoci dari kapal karam itu yang kembali untuk mencari penyintas. Dalam gelap, para penyelamat menemukan seorang pemuda China berpegangan erat pada pintu kayu. Badannya menggigil tetapi dia masih hidup.

Pemuda itu adalah Fang Lang, satu dari enam penyintas asal China. Penyelamatan mereka belakangan menginspirasi adegan terkenal dari film blockbuster Hollywood tahun 1997, Titanic.

Namun perjuangan untuk bertahan hidup yang bagaikan keajaiban itu bukanlah akhir dari kisah mereka.

Baca juga:

Dalam 24 jam sejak kedatangan mereka di stasiun pemeriksaan imigran di Ellis Island, New York, Amerika Serikat, mereka diusir dari negara itu karena Chinese Exclusion Act, undang-undang kontroversial yang melarang imigrasi orang China ke AS.

Enam orang itu pun menghilang dari sejarah - sampai sekarang. Film dokumenter yang baru saja tayang perdana di China, The Six, menyoroti identitas dan kehidupan mereka, 109 tahun setelah perjalanan nahas itu.

Film itu mengungkap kisah yang lebih besar dari Titanic, cerita yang dibentuk oleh diskriminasi rasial dan kebijakan anti imigrasi yang terasa relevan di masa kini menyusul pelecehan terhadap warga keturunan Asia di AS baru-baru ini.

Siapakah para penyintas itu?

Keenam penyintas asal China itu adalah Lee Bing, Fang Lang, Chang Chip, Ah Lam, Chung Foo, dan Ling Hee. Mereka diyakini sebagai pelaut yang sedang dalam perjalanan ke Karibia untuk bekerja.

"Sebagai satu kelompok bersama-sama, uniknya tidak ada yang tahu mereka," kata Arthur Jones, sineas Inggris dan sutradara The Six, kepada BBC.

Nama-nama penyintas asal China itu ada di dalam daftar penumpang kapal, dan artikel-artikel berita tentang tenggelamnya Titanic menyebut mereka secara singkat.

Namun tidak seperti penyintas Titanic lainnya yang mendapat pujian di media, pria-pria China itu malah dicela akibat sentimen anti-China di Barat pada awal Abad ke-20, menurut para sejarawan dan peneliti.

Dalam laporan yang diterbitkan beberapa hari setelah kapal tenggelam, misalnya, Brooklyn Daily Eagle menyebut para penyintas itu "makhluk" yang melompat ke sekoci "segera ketika ada bahaya" dan bersembunyi di bawah kursi.

Namun tim produksi dokumenter ini menunjukkan bahwa klaim ini tidaklah benar.

Mereka membangun replika sekoci Titanic dan mendapati bahwa mustahil pria-pria China itu bisa bersembunyi tanpa ketahuan. "Saya pikir kita melihat hal yang sama sekarang. Kita menemukan imigran dijadikan kambing hitam oleh pers," kata Jones.

Liputan media lainnya waktu itu menuduh para pria China berpakaian seperti wanita demi diprioritaskan untuk naik sekoci.

Sejarawan Titanic, Tim Maltin, mengatakan tidak ada bukti bahwa para penyintas China adalah penumpang gelap atau menyamar sebagai wanita.

"Ini adalah cerita yang dikarang oleh pers dan publik setelah peristiwa," katanya kepada BBC.

Desas-desus tersebut mungkin berasal dari stigma yang melekat pada banyak laki-laki yang selamat dari Titanic, karena pada waktu itu masyarakat umum merasa bahwa perempuan dan anak-anak seharusnya diprioritaskan dalam penyelamatan.

Menurut Maltin, orang-orang Tionghoa itu berusaha membantu para penyintas lainnya. Fang Lang, pria yang mengikat dirinya ke pintu apung, mendayung di sekoci yang menyelamatkannya dan membantu mengangkut semua orang ke tempat yang aman.

Apa yang terjadi pada mereka setelah kecelakaan itu?

Diusir dari AS, enam pria itu dikirim ke Kuba. Mereka segera menemukan jalan ke Inggris, ketika negara itu kekurangan pelaut karena banyak pelaut Inggris harus ikut bertempur selama Perang Dunia Pertama.

Chang Chip menjadi semakin tidak sehat setelah malam nahas itu, dan akhirnya meninggal karena pneumonia pada tahun 1914. Dia dimakamkan di kuburan tak bertanda di sebuah pemakaman di London.

Lainnya bekerja bersama-sama di Inggris sampai 1920, ketika negara itu menderita resesi pascaperang dan sentimen anti-imigran semakin memanas.

Beberapa pria Tionghoa itu menikahi perempuan Inggris dan memiliki anak. Tetapi kebijakan anti-imigran memaksa mereka untuk meninggalkan negara itu tanpa pemberitahuan, meninggalkan orang-orang yang mereka cintai.

"Dan itu bukan salah mereka. Semua keluarga ini benar-benar dipecah-belah oleh politik, sesuatu yang sebenarnya tidak dalam kendali mereka," kata Jones.

Ah Lam dideportasi ke Hong Kong, sementara Ling Hee naik kapal uap menuju Kolkata (Kalkuta) di India.

Lee Bing berimigrasi ke Kanada, sementara Fang Lang, setelah berlayar antara Inggris dan Hong Kong selama bertahun-tahun, menjadi warga negara yang pernah menolaknya - AS.

Apa relevansinya dengan masa sekarang?

Tom Fong, putra Fang Lang, lahir di Milwaukee, Wisconsin, AS, hampir setengah abad setelah Titanic tenggelam. Nama marganya punya ejaan berbeda dalam bahasa Inggris.

Selama berpuluh tahun, Tom tidak tahu-menahu soal pengalaman ayahnya di kapal yang sempat digadang-gadang "anti-tenggelam' itu.

"Beliau (Fang Lang) tidak pernah bicara soal itu. Setidaknya kepada saya atau kepada ibu saya," kata Tom Fong kepada BBC.

Fang Lang meninggal dunia pada 1985 di usia 90 tahun. Selang 20 tahun kemudian, Tom Fong baru mengetahui dari sanak saudara bahwa ayahnya merupakan penyintas Titanic.

Tom Fong menduga ayahnya sengaja merahasiakan kisah hidupnya sebagai penyintas Titanic karena cerita tersebut sarat dengan trauma dan stigma.

"Ada banyak informasi bahwa mereka diam-diam masuk ke bawah kapal, dan mereka berpakaian seperti perempuan. Cerita-cerita yang beredar pada masa itu," kata Tom.

Tatkala tim periset film dokumenter The Six melacak keturunan keenam penyintas, banyak dari mereka yang enggan berbagi kisah keluarga mereka lantaran stigma yang dialami para penyintas seabad lalu.

Ketika dirinya masih kanak-kanak di Wisconsin, Tom Fong menyaksikan sendiri ayahnya melawan sejumlah tindakan rasisme, termasuk meninju seorang pria yang mengatai mereka dengan julukan tidak pantas.

"Beliau (Fang Lang) adalah orang yang baik, sampai dia merasa dirinya didiskriminasi berdasarkan etnisnya," kata Fong.

Setelah lebih dari 100 tahun berlalu, tindakan buruk yang dialami keenam penyintas asal China terulang pada masa sekarang ketika masyarakat Tionghoa dan Asia mengalami rasisme seiring dengan kemunculan pandemi.

Di AS saja, ada ribuan laporan kasus kekerasan dalam beberapa bulan terakhir, dari diludahi, diolok-olok, hingga diserang secara keji.

Tom Fong memilih menceritakan kisah keluarganya dengan harapan khalayak umum bisa belajar tentang keenam penyintas Titanic asal China, kemudian bercermin pada rangkaian kejadian masa kini.

"Karena jika Anda tidak tahu sejarah, kejadian itu akan terulang dengan sendirinya," tutup Tom Fong.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Heboh! Patung Trump dan Epstein Bergaya Romantis ala Titanic Muncul di Washington

Heboh! Patung Trump dan Epstein Bergaya Romantis ala Titanic Muncul di Washington

Video | Jum'at, 13 Maret 2026 | 14:47 WIB

Kata-kata Tajam di Patung Mesra Trump-Epstein: Persahabatan yang Dibangun dari Pesta Liar

Kata-kata Tajam di Patung Mesra Trump-Epstein: Persahabatan yang Dibangun dari Pesta Liar

News | Kamis, 12 Maret 2026 | 14:18 WIB

10 Film Paling Romantis Sepanjang Masa, Ada Gone with the Wind hingga Titanic

10 Film Paling Romantis Sepanjang Masa, Ada Gone with the Wind hingga Titanic

Entertainment | Senin, 29 Desember 2025 | 09:33 WIB

8 Rekomendasi Film Netflix Terbaik Tayang Desember, Troll 2 hingga Titanic

8 Rekomendasi Film Netflix Terbaik Tayang Desember, Troll 2 hingga Titanic

Entertainment | Senin, 01 Desember 2025 | 20:00 WIB

Kisah Tragis Hosono Masabumi: Selamat dari Titanic Tapi Dikutuk Disumpahi Rakyat Jepang

Kisah Tragis Hosono Masabumi: Selamat dari Titanic Tapi Dikutuk Disumpahi Rakyat Jepang

News | Senin, 18 Agustus 2025 | 16:42 WIB

Billie Eilish Beber Tengah Kolaborasi Proyek dengan Sutradara Titanic

Billie Eilish Beber Tengah Kolaborasi Proyek dengan Sutradara Titanic

Your Say | Kamis, 24 Juli 2025 | 09:38 WIB

Dilelang, Surat Langka Penumpang Titanic Terjual Rp 6,6 Miliar

Dilelang, Surat Langka Penumpang Titanic Terjual Rp 6,6 Miliar

Bisnis | Senin, 28 April 2025 | 06:27 WIB

Ne Zha 2 Siap Salip Titanic dalam Daftar Film Terlaris Sepanjang Masa

Ne Zha 2 Siap Salip Titanic dalam Daftar Film Terlaris Sepanjang Masa

Your Say | Rabu, 19 Maret 2025 | 14:04 WIB

Jam Saku Emas Punya Kapten Penyelamat Korban Titanic Laku Rp28 Miliar!

Jam Saku Emas Punya Kapten Penyelamat Korban Titanic Laku Rp28 Miliar!

Lifestyle | Sabtu, 30 November 2024 | 13:21 WIB

Rasakan Sendiri Air Es Titanic! Museum Tennessee Hadirkan Sensasi Dingin Mencekam di Malam Tragis Kecelakaan Kapal

Rasakan Sendiri Air Es Titanic! Museum Tennessee Hadirkan Sensasi Dingin Mencekam di Malam Tragis Kecelakaan Kapal

News | Selasa, 17 September 2024 | 14:57 WIB

Terkini

Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'

Wamen PPPA Soroti Lingkaran Setan Kemiskinan Akibat 'Banyak Anak Banyak Rezeki'

News | Rabu, 08 April 2026 | 22:27 WIB

Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS

Indonesia Sambut Baik Gencatan Senjata Iran dan AS

News | Rabu, 08 April 2026 | 22:23 WIB

Isu Perombakan Kabinet, Sekjen Partai Golkar Berharap Tidak Ada Kadernya yang Terkena Reshuffle

Isu Perombakan Kabinet, Sekjen Partai Golkar Berharap Tidak Ada Kadernya yang Terkena Reshuffle

News | Rabu, 08 April 2026 | 22:17 WIB

Prabowo Targetkan 3 Tahun Lagi Indonesia Bebas Sampah: Kita Punya Teknologi Buatan Sendiri

Prabowo Targetkan 3 Tahun Lagi Indonesia Bebas Sampah: Kita Punya Teknologi Buatan Sendiri

News | Rabu, 08 April 2026 | 22:15 WIB

Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?

Lakukan Evaluasi Imbas 3 Prajurit TNI Gugur di Lebanon, Pemerintah Bakal Tarik Pasukan Perdamaian?

News | Rabu, 08 April 2026 | 22:11 WIB

Mahasiswa Desak MK Kabulkan Uji Materi UU TNI Terkait Tragedi Andrie Yunus

Mahasiswa Desak MK Kabulkan Uji Materi UU TNI Terkait Tragedi Andrie Yunus

News | Rabu, 08 April 2026 | 21:59 WIB

Polemik Kasus Chromebook dan Ancaman Trial by The Press di Era Digital

Polemik Kasus Chromebook dan Ancaman Trial by The Press di Era Digital

News | Rabu, 08 April 2026 | 21:54 WIB

Buronan Interpol dan Bos Mafia Asal Inggris Akhirnya Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai

Buronan Interpol dan Bos Mafia Asal Inggris Akhirnya Dideportasi Imigrasi Ngurah Rai

News | Rabu, 08 April 2026 | 21:50 WIB

Istana Belum Terima Hasil Investigasi PBB Penyebab 3 TNI Gugur di Lebanon

Istana Belum Terima Hasil Investigasi PBB Penyebab 3 TNI Gugur di Lebanon

News | Rabu, 08 April 2026 | 21:00 WIB

Bupati Bekasi Ade Kuswara Klaim Tak Tahu Soal Pembakaran Rumah Saksi dalam Kasus Suap Ijon Proyek

Bupati Bekasi Ade Kuswara Klaim Tak Tahu Soal Pembakaran Rumah Saksi dalam Kasus Suap Ijon Proyek

News | Rabu, 08 April 2026 | 20:53 WIB