Lalu, beberapa pendapat mengatakan Victoria memiliki lebih banyak pekerja lepasan dibandingkan negara lain, karenanya membuat lebih rentan bila ada penularan.
Namun lagi-lagi data yang ada tidak mendukung pendapat tersebut.
Datawrapper: Casual workers in populatoin
Victoria memang memiliki jumlah pekerja lepasan dalam jumlah besar, namun itu juga karena jumlah penduduknya banyak.
Dan dalam perbandingan dengan jumlah penduduk, jumlah pekerja lepasan tidaklah berbeda dengan kota-kota besar lainnya di Australia.
Jadi apakah karena perilaku warganya?
Jawaban sederhananya adalah tidak.
Pakar epidemiolog Professor Catherine Bennett mengatakan perilaku warga tidaklah bisa disalahkan berkenaan dengan 'lockdown' keempat ini.
"Ini bukan karena kita banyak keluar, atau karena sebagian tidak mematuhi aturan," katanya.
"Bahkan sebenarnya di sini lebih baik, lebih terlindungi tetapi itu semua tidaklah cukup.
"Pesannya adalah 'ini bisa terjadi dimana saja. Ini sebenarnya tinggal soal waktu saja."
Dan data mendukung hal tersebut.
Datawrapper: Victoria's transmission potential
Ada sekelompok pakar yang secara teratur menghitung potensi kemungkinan penularan di tiap-tiap negara bagian di Australia dengan melihat data dari kasus yang ada, survei rumah tangga dan juga data dari Google.
Salah satu yang mereka lihat adalah perilaku warga, misalnya seberapa banyak mereka mengambil jarak, atau social distancing, atau melihat kontak yang dilakukan warga dengan orang di luar anggota keluarga sendiri.
Menurut laporan situasi COVID-19 di Australia yang dikeluarkan mingguan baru-baru ini, risiko penularan di Victoria sebenarnya lebih rendah dibandingkan negara bagian lain.
Dan sebelum kasus penularan terbaru ini, kemampuan virus menyebar di Victoria dianggap lebih rendah dibandingkan di negara bagian lain.
Bagaimana dengan cuaca dingin?
Udara yang dingin memainkan peran dalam penularan COVID-19, namun pakar mengatakan cuaca tidak memainkan peran penting di Victoria.
Suhu yang lebih dingin memungkinkan virus bertahan hidup lebih lama di luar tubuh manusia.
Selain itu, cuaca dingin bisa mempercepat penularan karena orang-orang lebih banyak tinggal dalam ruangan dan menutup jendela rumah.
Namun faktor itu saja tidaklah menjadi alasan mengenai jumlah penularan yang lebih banyak terjadi di Victoria.
Profesor Mike Toole dari lembaga Burnet Institute mengatakan semua patogen yang menyerang sistem pernapasan memang berkembang subur selama musim dingin, Namun ini tidaklah menjelaskan pola penyebaran COVID-19.
"Terjadi kasus penularan besar-besaran di India, negara yang suhunya panas," katanya.
"Selama musim panas, terjadi penularan besar di kawasan selatan Amerika Serikat -Arizona, Texas, Florida, yang saat itu suhunya panas."
Dia mengatakan belum melihat adanya data dari mana pun yang bisa mengatakan suhu yang dingin menjadi salah satu faktor utama.
"Ini semua terjadi karena ketidakberuntungan saja," katanya.