Kebakaran Lapas Tangerang: Komnas HAM Segera Panggil Pihak Kemenkumham

Bimo Aria Fundrika, Yaumal Asri Adi Hutasuhut

Jum'at, 29 Oktober 2021 | 07:10 WIB
Kebakaran Lapas Tangerang: Komnas HAM Segera Panggil Pihak Kemenkumham
Keluarga korban kebakaran lapas kelas 1 Tangerang menangis usai menerima peti jenazah korban kebakaran dari Tim DVI Polri di RS Polri, Kramat Jati, di Jakarta, Jumat (10/9/2021). ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Suara.com - Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) akan segera memanggil pihak Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) guna menindaklanjuti dugaan pelanggaran HAM  yang dilaporkan tujuh keluarga korban tewas  akibat kebakaran di Lapas Kelas 1 Tangerang. 

Dalam laporan keluarga korban, terdapat tujuh temuan yang  dilaporkan. Mereka pun telah menyampaikannya secara langsung ke Komnas HAM.  

“Terima kasih ini (tujuh temuan terkait dugaan pelanggaran  HAM) memperkaya informasi yang kami dapat dan kami akan tindaklanjuti," kata Komisioner Komnas HAM, Choirul Anam setelah menerima aduan keluarga korban, Kamis (28/10/2021). 

Dalam laporan keluarga korban terdapat  empat persoalan yang mendasar, yaitu ketidakterbukaan informasi pengidentifikasian jenazah korban meninggal. Kedua, ketidaklayakan pemulasaraan jenazah korban meninggal. 

Keluarga korban kebakaran Lapas Tangerang, Rudhi alias Cangak bin Ong Eng Cue, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2021) malam. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]
Keluarga korban kebakaran Lapas Tangerang, Rudhi alias Cangak bin Ong Eng Cue, di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (9/9/2021) malam. [Suara.com/Yaumal Asri Adi Hutasuhut]

Kemudian, adanya penyalahgunaan keadaan saat proses penyerahan jenazah korban yang berdampak pada dugaan pelanggaran HAM yang dialami keluarga korban. Lalu keempat, ketiadaan pertanggungjawaban ganti kerugian yang diberikan kepada keluarga korban. 

“Kami akan melakukan pemanggilan terhadap semua pihak khususnya Kementerian Hukum dan HAM dan Dirjenpas. Tanggung jawab teman-teman di sana bagaimana. Ini harus dibuktikan. Jadi tidak hanya selesai ketika pemakaman,” kata Anam. 

Kendati demikian,  Anam mengatakan,  pihak dari Kemenkumham ataupun Dirjenpas seharusnya berinisiatif untuk datang sendiri tanpa harus dipanggil terlebih dahulu. 

“Dirjenpas, Kementerian Hukum dan HAM atau siapapun yang mewakilinya ketika membaca berita ini ya silakan datang ke Komnas HAM sebelum dipanggil itu akan jauh lebih bagus,” kata Anam. 

 “Kita bicarakan semuanya, apa haknya korban dan bagaimana cara memberikannya dan kapan sehingga enggak hanya janji-jani yang manis di momen tragedi tersebut,” sambungnya. 

baca juga

Sebelumnya, Pengacara Publik LBH Masyarakat, Ma’ruf Bajammal selaku pendamping keluarga korban, mengatakan terdapat tujuh temuan yang mereka dapati dari proses penanggulangan pasca kebakaran Lapas Tangerang yang dilakukan Kemenkunham. 

Dari ketujuh temuan itu di antaranya, ketidakjelasan proses identifikasi tubuh korban meninggal. 

“Bahwa proses identifikasi tubuh korban tidak jelas dan transparan. Bahkan, sampai terakhir korban meninggal dimakamkan tidak ada informasi yang akurat yang menunjukkan atas dasar apa jenazah korban bisa benar-benar teridentifikasi,” kata Ma’ruf.

Kemudian, pemberian uang Rp 30 juta oleh pemerintah dianggap tidak membantu keluarga korban.  
 
“Pemerintah memberikan uang setidaknya sejumlah 30 juta. Uang tersebut dikatakan sebagai bentuk ‘uang tali kasih’ dari pemerintah atas peristiwa kebakaran Lapas Tangerang. Alih-alih sebagai bentuk tali kasih atau bantuan kepada keluarga yang ditinggalkan, uang tersebut hanya habis untuk kepentingan penghiburan atau pendoan terhadap korban meninggal,” ungkap Ma’ruf.

Lalu mereka juga mempersoalkan, tidak ada pendampingan psikologis yang berkelanjutan kepada keluarga korban pasca penyerahan jenazah korban. Padahal kata Ma’ruf keluarga korban menanggung duka yang sangat yang mendalam.  

 “Akan tetapi, pemerintah pasca penyerahan jenazah seolah lepas tangan dan tidak memberikan bantuan psikologis kepada keluarga korban yang setidaknya membutuhkan bantuan pengobatan dari trauma pasca kejadian kebakaran Lapas Tangerang,” ujarnya.

Atas hal itu mereka menyampaikan tiga tuntutannya dan memohon kepada Komnas HAM, 

  1. Menuntut Pemerintah memulihkan status korban meninggal dengan memberikan amnesti massal terhadap korban meninggal.
  2.  Menuntut Pemerintah beritikad baik untuk memberikan ganti kerugian yang layak sesuai dengan kebutuhan masing-masing keluarga korban. 
  3. Meminta Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Republik Indonesia menindaklanjuti laporan dugaan pelanggaran HAM atas peristiwa kebakaran Lapas Tangerang.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Keluarga Korban Kebakaran Lapas Tangerang Datangi Komnas HAM, Sampaikan 7 Temuan

Keluarga Korban Kebakaran Lapas Tangerang Datangi Komnas HAM, Sampaikan 7 Temuan

Jakarta | Kamis, 28 Oktober 2021 | 18:54 WIB

Tersangkut Kasus Suap, KPK Cekal Bupati Hulu Sungai Utara

Tersangkut Kasus Suap, KPK Cekal Bupati Hulu Sungai Utara

News | Rabu, 27 Oktober 2021 | 15:28 WIB

Kemenkumham Sumut Berikan Fasilitas Pendaftaran Merek Gratis untuk UMKM

Kemenkumham Sumut Berikan Fasilitas Pendaftaran Merek Gratis untuk UMKM

Sumut | Rabu, 27 Oktober 2021 | 13:45 WIB

Terkini

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Dua Pulau Baru Muncul di Dekat Anak Krakatau, Apakah Ini Pusat Erupsi Baru?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 23:37 WIB

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

28 PPKS di Karawang Jalani Asesmen untuk Penanganan Lanjutan

Jabar | Kamis, 24 September 2026 | 23:31 WIB

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Dua Yoni Situs Pocangan Jember Hilang, DPRD Desak Perlindungan Cagar Budaya Diperkuat

Jatim | Kamis, 24 September 2026 | 23:11 WIB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Pemerintahan Prabowo Dorong Investasi Hijau dan Ketahanan Energi di PBB

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:57 WIB

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Bikin Tenang! Tren Baru Transaksi QRIS Biar Penjual Enggak Kena Tipu

Lifestyle | Kamis, 24 September 2026 | 22:45 WIB

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

Presiden dan DPR Tak Siap Beri Keterangan, Sidang Gugatan UU Cipta Kerja Ditunda

News | Kamis, 24 September 2026 | 22:08 WIB

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Rapat BI-Kemenkeu Alot, Bahas Likuiditas hingga Aliran Modal Asing

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 22:01 WIB

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Karhutla Sumsel Tak Kunjung Padam, Bisakah Perusahaan yang Diduga Lalai Digugat?

Sumsel | Kamis, 24 September 2026 | 21:59 WIB

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Punya Kayu Melimpah, Ekspor Furnitur Indonesia Kalah dari Vietnam

Bisnis | Kamis, 24 September 2026 | 21:56 WIB

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Keracunan MBG Terulang, Mantan Bupati Batang Desak BGN Perketat Pengawasan SPPG

Jawa Tengah | Kamis, 24 September 2026 | 21:55 WIB

×