Tapi, kata Lyudmila, Muammar Khadafi yang secara resmi didaulat sebagai Pemimpin dan Penuntun Revolusi Libya, dinilai oleh negara Barat tidak demokratis.
“Khadafi dinilai bukan pemimpin yang demokratis dari kaca mata standar Barat. Tapi di bawah Khadafi, Libya adalah negeri yang makmur dan stabil. Tapi setelah dibombardir—sekali lagi—oleh NATO, apa yang terjadi di Libya? Negerinya hancur, warganya sengsara.”
“Belum lagi Afghanistan. Amerika Serikat selama 20 tahun membunuhi orang-orang Afghanistan. Di Irak, AS menyebut Irak memproduksi senjata pemusnah massal, senjata kimia, sekarang kita tahu apakah klaim iut benar? Tapi tetap saja Irak dihancurkan,” tambah Lyudmila.