Uni Eropa Tingkatkan Kekuatan Pertahanan dengan Kompas Strategis

Siswanto, Deutsche Welle

Kamis, 24 Maret 2022 | 11:13 WIB
Uni Eropa Tingkatkan Kekuatan Pertahanan dengan Kompas Strategis
DW

Petinggi UE, Borrell juga dengan tegas berbicara mendukung NATO. "Izinkan saya menekankan, upaya ini sama sekali tidak bertentangan dengan komitmen Eropa kepada NATO, yang tetap menjadi jantung pertahanan teritorial kami," kata Borrell.

Pasukan respons cepat di bawah kepemimpinan Jerman Uni Eropa akan membentuk pasukan gerak cepat berkekuatan 5.000 tentara, yang disiapkan untuk aktif tahun 2025.

Jerman sudah setuju untuk menyediakan pasukan inti untuk 12 bulan pertama.

Rencana penempatan itu meminta pasukan dari beberapa negara UE untuk dirotasi, yang berarti mereka tidak akan ditempatkan sebagai satu unit di satu lokasi.

"Bagi saya, terus terang, itu pemikiran yang terlalu pendek. Jerman maju dan berkata, halo, saya akan melakukan ini selama setahun. Bukan itu yang dibutuhkan," kata Michael Gahler.

Sebaliknya, dia mengatakan yang dibutuhkan adalah unit permanen 5.000 tentara yang melakukan latihan militer bersama, ditempatkan secara permanen dan dapat dikerahkan sebagai kekuatan pertahanan bersama.

Mengambil contoh dari Bosnia

Pakar kebijakan luar negeri, Gahler, mencontohkan operasi independen oleh Uni Eropa. Misalnya di Bosnia-Herzegovina.

Jika pemimpin Serbia Bosnia yang pro-Rusia, Milorad Dodik, ingin meninggalkan negara Bosnia-Herzegovina dan menyempal dengan "Republik Serbia"-nya, UE dapat melakukan intervensi.

NATO mungkin tidak bisa, katanya, karena Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan punya ide lain untuk masa depan negara Bosnia-Herzegovina.

"Saat Mr. Erdogan mengatakan tidak, sumber daya NATO diblokir ... diblokir karena semua keputusan harus bulat. Tapi kami masih harus bisa bertindak jika kami pikir itu perlu," kata Gahler kepada DW.

Contoh lainnya Mali Contoh kedua dapat melibatkan evakuasi pasukan atau warga Eropa.

Di Afghanistan, penarikan barat yang tergesa-gesa musim panas lalu, menunjukkan penarikan itu tidak akan berhasil tanpa AS, dan bahwa UE jelas tidak dapat bertindak sendiri.

"Sampai batas tertentu, hal seperti ini mungkin membayangi ketika kami menarik pasukan dari Mali. Di sana, tidak seperti Afghanistan, kami tidak memiliki pekerja bantuan Amerika. Jadi, penting bagi kami untuk menciptakan peluang kami sendiri," kata Gahler.

Misi UE dan Prancis saat ini dikerahkan melawan milisi teroris di Mali, negara di Afrika Barat bekas jajahan Prancis.

Paris ingin mengakhiri keterlibatannya tentaranya di negara itu pada Juni mendatang, karena perselisihan dengan junta militer yang berkuasa di sana.

UE telah berusaha membangun kekuatan pertahanan bersama dan mengumpulkan sumber daya strategisnya selama dua dekade.

Josep Borrell yakin bahwa kali ini pasti akan berhasil, bahkan jika tidak semua dari 27 negara anggota UE ingin bergabung, sekelompok kecil anggota yang bersedia masih dapat menjalankan misi militer atas nama UE.

"Kompas Strategis" memperjelas bahwa perjanjian UE memungkinkan untuk itu. (pkp/as)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terkini

Konflik Lahan Rumpin vs TNI AU Belum Tuntas, Warga Kembali Mengadu di Aksi Kamisan

Konflik Lahan Rumpin vs TNI AU Belum Tuntas, Warga Kembali Mengadu di Aksi Kamisan

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 21:06 WIB

Said Iqbal Dikabarkan Masuk Kabinet Prabowo, Tinggal Tunggu Pelantikan?

Said Iqbal Dikabarkan Masuk Kabinet Prabowo, Tinggal Tunggu Pelantikan?

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:58 WIB

KPK Bongkar Transaksi Aneh Anak Buah Silmy Karim: Bayar Rumah Mewah Pakai Kepingan Emas

KPK Bongkar Transaksi Aneh Anak Buah Silmy Karim: Bayar Rumah Mewah Pakai Kepingan Emas

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:47 WIB

Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA

Modus Licin Staf Imigrasi, Pakai Rekening OB dan Cleaning Service Buat Tampung Duit Suap Izin WNA

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:41 WIB

Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur

Kejagung Diminta Usut Tuntas Korupsi MBG Dadan Cs dan Dugaan Monopoli Dapur

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:40 WIB

Resmi! Prabowo Berhentikan Silmy Karim dari Jabatan Wamen Imipas

Resmi! Prabowo Berhentikan Silmy Karim dari Jabatan Wamen Imipas

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:16 WIB

Silmy Karim Diduga Terima Uang Pemerasan Sejak Jadi Dirjen Hingga Wamen Imipas

Silmy Karim Diduga Terima Uang Pemerasan Sejak Jadi Dirjen Hingga Wamen Imipas

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 20:04 WIB

Keras Feri Amsari di Aksi Kamisan: Parpol Jadi Perusahaan Keluarga, Ketua Partainya Hasil Warisan

Keras Feri Amsari di Aksi Kamisan: Parpol Jadi Perusahaan Keluarga, Ketua Partainya Hasil Warisan

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 19:56 WIB

Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian

Aksi Kamisan 910: Indonesia Darurat Militerisme, Anak Papua Jadi Korban Agresi di Pengungsian

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 19:47 WIB

Modus Kasus Silmy Karim Dkk: Persulit Izin Tinggal WNA, Paksa Bayar Uang Tambahan

Modus Kasus Silmy Karim Dkk: Persulit Izin Tinggal WNA, Paksa Bayar Uang Tambahan

News | Kamis, 04 Juni 2026 | 19:47 WIB