Suara.com - Partai Persatuan dan Pembangunan (PPP) memilih sadar diri dalam menentukan figur untuk diusung sebagai calon presiden 2024. Mengaku sebagai partai terkecil di Parlemen, PPP memilih menunggu sikap partai-partai besar.
Salah satu sikap partai yang ditunggu terkait pengusungan capres ialah PDIP. Sebagai partai pemenang pada Pemilu 2019, tentu menjadi menarik menunggu siapa yang akan dipilih PDIP melalui keputusan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri.
Wakil Ketua Umum PPP Arsul Sani memandang wajar apabila sikap partai-partai besar ditunggu banyak pihak, bahkan jika mereka terkesan mendominasi pilihan.
"Kalau saya melihatnya bagi PPP kita itu sudah paling kecil di Parlemen maka harus jadi anak yang smart. Bukan anak yang udah mutungan, pemarah. Kalau ga ini, gak mau," tutur Arsul di Kompleks Parlemen Senayan, Senin (10/10/2022).
![Koalisi Indonesia Bersatu. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2022/08/02/63606-koalisi-indonesia-bersatu.jpg)
PPP ingin bersikap pandai dalam memutuskan siapa figur yang akan mereka usung menjadi capres 2024. Sikap pandai itu, salah satunya ialah mendengarkan dan menunggu putusan-putusan partai besar.
"Smart itu ya kita dengarkan yang lebih besar itu kakak-kakak kita itu maunya gimana. Sebetulnya bukan berarti kita under pressure. Kita justru punya pilihan, cuma kita nggak harus memilih sekarang," kata Arsul.
Sementara itu terkait sikap PPP tentang pengusungan capres, akan ditentukan pada Januari tahun depan melalui Mukernas, berbarengan dengan Harlah ke-50 PPP.
"Itu pas kebetulan harlah PPP," ujar Arsul.