Harga Rokok Indonesia Masih Murah, Dinilai Jadi Penyebab Anak-anak Susah Berhenti Merokok

Rabu, 18 Desember 2024 | 13:45 WIB
Harga Rokok Indonesia Masih Murah, Dinilai Jadi Penyebab Anak-anak Susah Berhenti Merokok
Ilustrasi rokok (Pixabay/NoblePrime)

Suara.com - Pusat Kajian Jaminan Sosial Universitas Indonesia (PKJS-UI) menemukan bahwa harga rokok sangat memengaruhi jumlah perokok aktif. Harga rokok di Indonesia saat ini dinilai masih terlalu murah. Sehingga salah satu akibatnya menyebabkan jumlah perokok aktif di Indonesia masih sangat banyak.

Data dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan bahwa jumlah anak usia 10-18 tahun yang merokok sekitar 7,4 persen.

Ketua PKJS-UI Aryana Satrya mengatakan bahwa awal mula anak jadi perokok kebanyakan karena mencontoh orang terdekatnya.

"Kalau kita melihat anak-anak itu memang terpengaruh oleh role model, mungkin di rumahnya. Kemudian juga oleh teman-temannya, beberapa survei menunjukkan bahwa teman sebayanya kalau merokok maka kemungkinan akan merokok," kata Aryana dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (18/12/2024).

Kalaupun sudah muncul kesadaran untuk berhenti atau mengurangi konsumsi rokok, anak akan alami banyak kesulitan. Di samping karena bisa jadi sudah alami kecanduan nikotin, namun harga rokok di Indonesia yang dinilai masih terlalu murah, dikatakan Aryana, turut jadi penyebab anak sering kambuh merokok.

Sejalan dengan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia yang menemukan bahwa rokok menempati peringkat kedua dalam pengeluaran terbesar masyarakat Indonesia.

"Karena masih murahnya harga itu, anak-anak yang berusaha berhenti merokok, dia kambuh lagi. Jadi istilahnya smoking relapse ini tinggi sampai 50 persen," ungkapnya.

Penelitian dari PKJS UI terhadap anak-anak yang hidup di jalanan ditemukan bahwa kebanyakan dari mereka mengonsumsi jenis rokok yang harganya relatif lebih premium, yakni sigaret kretek mesin dan sigaret putih mesin.

"Ini harganya yang relatif cukup mahal. Jadi mereka tampaknya termasuk dalam pengeluaran yang pernah BPS mengatakan nomor dua (terbanyak). Jadi pengeluaran yang tidak produktif," kata Aryana.

Baca Juga: Cukai Rokok 2025 Tak Naik, Pemerintah Prabowo Dinilai Salah Langkah di 100 Hari Pertama

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Love Language Apa yang Paling Menggambarkan Dirimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kalian Tentang Game of Thrones? Ada Karakter Kejutan dari Prekuelnya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Masalah Hidupmu Diangkat Jadi Film Indonesia, Judul Apa Paling Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI