Selain itu untuk susu UHTnya, Dedi menyarankan agar ukurannya 2 kali lipat lebih besar dari yang sudah disediakan.
“Pak Bupati susunya ukurannya kurang gede, susunya kekecilan. Nanti ditambahkan ya, gede dua kali lipat nih harusnya susunya. Kalau mau ya kasih susu murni biar sehat,” ungkap Dedi.
“Besok ayamnya juga enggak boleh ayam sayur ya, pakai ayam kampung,” sambungnya.
Melihat kondisi anak-anak binaan yang baik-baik saja, Dedi Mulyadi merasa lega. Bahkan dirinya menyebut anak-anak itu memperlihatkan ekspresi riang gembira.
“Coba lihat ini kan terbuka ya, saya lihat kelihatannya mereka riang gembira. Coba kalau di sekolah, suruh gurunya ngajarin baris berbaris, nurut nggak mereka, pasti enggak,” ujar Dedi.
“Suruh tepuk tangan gini paling juga diledek gurunya. Nah ini kalau sama jajaran TNI kan nurut mereka,” tambahnya.
Pemabuk Dan Suka Nongkrong Siap-siap
Tak berhenti sampai di sini, Dedi Mulyadi mengaku akan memberlakukan program ini untuk dewasa, sehingga tidak hanya bagi siswa SMP, maupun SMA.
Anak-anak yang berulah di jalanan seperti nongkrong-nongkrong tidak jelas, mabuk-mabukan hingga tawuran akan didisiplinkan oleh Dedi melalui program tersebut.
“Saya berencana, setelah SMP, dan SMA ini nanti berhasil, maka nanti yang dewasa. Yang suka nongkrong-nongkrong di perempatan, mabuk-mabukan, tawuran, yang susah diproses pidananya, nah itu nanti akan saya siapkan konsepnya,” urainya.
Selain itu Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa seluruh anak yang tengah menjalani pembinaan akan menjadi petugas pengibar bendera Merah Putih pada upacara Hari Kemerdekaan 17 Agustus 2025 mendatang.
"Nanti kalian punya tugas, bulan Agustus, pengibaran bendera merah putih pada Agustusan kalian semua," kata Dedi Mulyadi.
Ia menyebut anak-anak sebagai cerminan generasi istimewa dari Jawa Barat yang harus dibentuk dengan mental tangguh dan karakter kuat.
Kontributor : Kanita