Gelombang Investasi PLTS Asia Pasifik Buka Jalan Indonesia Menuju Energi Berkelanjutan

M. Reza Sulaiman

Rabu, 28 Mei 2025 | 12:29 WIB
Gelombang Investasi PLTS Asia Pasifik Buka Jalan Indonesia Menuju Energi Berkelanjutan
Ilustrasi PLTS Atap semakin populer di negara-negara Asia Pasifik. (Photo by Kindel Media/Pexels)

Suara.com - Kawasan Asia Pasifik tengah mengalami transformasi energi yang menjanjikan, dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebagai garda terdepan dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Lebih dari sekadar peluang bisnis, tren ini mencerminkan urgensi regional untuk menanggulangi perubahan iklim, mengurangi polusi udara, dan mengamankan masa depan energi yang berkelanjutan.

Laporan Cervicorn Consulting menunjukkan bahwa pasar PLTS di Asia Pasifik diperkirakan akan mencapai USD 1.084 miliar pada tahun 2034, dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 25,31% antara 2025 hingga 2034. Ini adalah sinyal kuat bahwa negara-negara di kawasan ini mulai beralih dari paradigma energi lama ke solusi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Energi Surya untuk Masa Depan yang Lebih Hijau

PLTS tidak menghasilkan emisi karbon saat beroperasi. Ini menjadikannya salah satu sumber energi paling bersih dan efektif dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Tak hanya itu, penggunaan energi matahari juga mengurangi ketergantungan pada sumber daya alam yang terbatas seperti batu bara dan minyak bumi, yang selama ini menyumbang emisi karbon dalam jumlah besar serta berdampak negatif terhadap kesehatan dan lingkungan.

Penerapan teknologi baru seperti panel surya terapung dan Building Integrated Photovoltaics (BIPV) turut memperluas jangkauan implementasi PLTS di wilayah-wilayah yang sebelumnya tidak memungkinkan pembangunan instalasi skala besar. PLTS terapung, misalnya, sangat relevan bagi negara-negara kepulauan atau yang memiliki banyak waduk seperti Indonesia, karena tidak memakan lahan dan sekaligus mengurangi penguapan air.

Indonesia: Potensi Energi Surya yang Masih Terpendam

Sebagai negara tropis dengan tingkat radiasi matahari tinggi, Indonesia memiliki potensi teknis energi surya hingga 3.294 gigawatt (GW). Namun berdasarkan data Kementerian ESDM, hingga tahun 2023, kapasitas PLTS terpasang baru mencapai sekitar 537,8 megawatt (MW)—jauh dari target pemerintah sebesar 23% bauran energi baru dan terbarukan pada tahun 2025.

Salah satu kendala utama dalam pengembangan PLTS atap adalah hambatan regulasi dan prosedur teknis yang rumit. Banyak pengguna rumah tangga dan industri yang berminat memasang PLTS, namun terbentur pada kuota ekspor-impor listrik ke jaringan PLN yang tidak konsisten dan sering berubah-ubah.

Foto aerial salah satu lokasi PLTS ground-mounted terbesar di Indonesia. (PLN)
Foto aerial salah satu lokasi PLTS ground-mounted terbesar di Indonesia. (PLN)

Langkah Konstruktif Menuju Transisi Energi

Dalam konteks masa depan bebas emisi, penting untuk menyoroti solusi dan langkah ke depan:

Peningkatan Infrastruktur Energi
Pemerintah dan PLN perlu mempercepat modernisasi jaringan listrik agar mampu menyerap energi surya secara optimal, termasuk penyimpanan daya menggunakan baterai.

Dukungan Regulasi yang Lebih Ramah
Reformasi kebijakan diperlukan untuk memberikan kepastian kepada investor dan pengguna energi surya, baik dalam skala rumah tangga maupun industri.

Edukasi dan Insentif bagi Masyarakat
Edukasi publik soal manfaat PLTS serta skema insentif fiskal seperti potongan pajak atau subsidi pemasangan akan mempercepat adopsi teknologi ini.

Kolaborasi Sektor Publik dan Swasta
Pemerintah dapat menggandeng sektor swasta dalam proyek energi surya berskala besar, seperti instalasi PLTS di atap fasilitas umum, sekolah, dan rumah sakit.

Asia Pasifik di Garis Depan Energi Bersih

Kawasan Asia Pasifik kini berpotensi menjadi pemimpin global dalam energi bersih, bukan hanya karena skalanya, tetapi juga karena urgensinya. Dari polusi udara di kota-kota besar hingga ancaman naiknya permukaan laut di negara-negara kepulauan, semua menegaskan pentingnya transisi menuju energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.

Revolusi energi surya bukan lagi sekadar tren bisnis, melainkan langkah nyata untuk menyelamatkan lingkungan. Jika dikelola dengan visi yang tepat, energi surya dapat menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih sehat, tangguh, dan adil secara ekologis.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Transportasi Bersih untuk Masa Depan Asia: Enam Langkah Menghadapi Krisis Iklim

Transportasi Bersih untuk Masa Depan Asia: Enam Langkah Menghadapi Krisis Iklim

News | Selasa, 27 Mei 2025 | 18:35 WIB

Di Bali, Energi Matahari Jadi Modal Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Di Bali, Energi Matahari Jadi Modal Bangun Pariwisata Berkelanjutan

Lifestyle | Selasa, 27 Mei 2025 | 14:51 WIB

Dari Kotoran Jadi Harapan: Kisah Nadia Mazaya Kembangkan Energi Bersih dari Desa

Dari Kotoran Jadi Harapan: Kisah Nadia Mazaya Kembangkan Energi Bersih dari Desa

Lifestyle | Jum'at, 23 Mei 2025 | 15:49 WIB

Terkini

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

KPK Ungkap Alasan Tak Menerbitkan Surat Panggilan untuk Silmy Karim

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 21:30 WIB

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

Pemprov DKI Buka 2.843 Lowongan Padat Karya, Syaratnya Cukup KTP Jakarta

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:56 WIB

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

Gus Ipul Kunjungi Al Falah Ploso, Minta Doa Kiai Huda untuk Munas-Konbes 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 20:12 WIB

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

Sepertiga Kelurahan di Jakarta Belum Punya Pos Pemadam Kebakaran

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 19:37 WIB

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

Prasasti: Stabilitas Rupiah dan Inflasi Jadi Ujian Pemerintah

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 18:38 WIB

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

Ekstradisi Paulus Tannos ke Indonesia Tunggu Sidang Lanjutan di Singapura pada Agustus 2026

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:40 WIB

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

ICW soal Kasus Silmy Karim: Pemerasan Masih Marak, Pemerintah Gagal Benahi Sistem Perizinan.

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 17:18 WIB

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

4 Cara Mengelola Pengeluaran Bulanan agar Saldo Dompet Digital Lebih Hemat dengan ShopeePay

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:48 WIB

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

Sengketa Tanah Kedoya Memanas, Tergugat Persoalkan Status Kuasa Hukum Penggugat

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 16:35 WIB

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

Jakarta Siapkan Sistem Peringatan Dini Kualitas Udara, Warga Bisa Cek Polusi 3 Hari ke Depan

News | Sabtu, 06 Juni 2026 | 14:54 WIB