Padi Apung Hulu Sungai Utara: Solusi Ketahanan Pangan dari Lahan Terendam

Bimo Aria Fundrika

Kamis, 29 Mei 2025 | 12:08 WIB
Padi Apung Hulu Sungai Utara: Solusi Ketahanan Pangan dari Lahan Terendam
Ilustrasi padi (Shutterstock).

Suara.com - Di tengah keterbatasan dan genangan air yang menguasai lahan hingga tujuh bulan dalam setahun, petani di Desa Banyu Hirang, Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan, justru menemukan harapan. Mereka bukan hanya menanam padi—mereka menanam masa depan.

Kelompok Tani Karya Makmur menjadi pelopor metode padi apung, sebuah inovasi bertani di atas lahan rawa yang sebelumnya dianggap tak produktif. Hasilnya panen berhasil. Lebih dari itu, muncul harapan baru bagi ketahanan pangan daerah.

“Inilah bukti bahwa keterbatasan bukan penghalang,” ujar Bupati HSU, Sahrujani, saat menghadiri panen raya padi apung, Rabu (29/5).

Ia menyebut program ini bukan sekadar urusan produksi, melainkan bagian dari visi HSU Bangkit sebagai pusat agrominapolitan yang menopang logistik Kalimantan Selatan.

Upaya ini tak berdiri sendiri. Kolaborasi lintas pihak—termasuk Bank Indonesia (BI) Kalsel—menguatkan fondasi inovasi ini. BI melalui program Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP), mendorong model pertanian adaptif yang relevan dengan tantangan iklim hari ini.

Asisten Direktur BI Kalsel, Erik Muliawan, menekankan pentingnya teknologi dan inovasi sebagai kunci menghadapi krisis iklim dan keterbatasan lahan.

“Kami percaya, petani bisa jadi ujung tombak perubahan lewat kolaborasi dan inovasi,” kata Erik.

Bupati Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Sahrujani memanen padi yang menerapkan sistem apung di Desa Banyu Hirang Kecamatan Amuntai Selatan, Rabu (28/5/2025). (ANTARA/HO-Diskominfo HSU)
Bupati Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan Sahrujani memanen padi yang menerapkan sistem apung di Desa Banyu Hirang Kecamatan Amuntai Selatan, Rabu (28/5/2025). (ANTARA/HO-Diskominfo HSU)

Sebagai bentuk dukungan lanjutan, Pemerintah Provinsi Kalsel melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan turut memberikan satu unit mesin penggiling padi. Bantuan ini diserahkan langsung kepada Musran, perwakilan Kelompok Tani Karya Makmur, sebagai bagian dari penguatan infrastruktur pertanian lokal.

Padi apung merupakan salah satu inovasi pertanian yang muncul sebagai respons adaptif terhadap perubahan iklim, terutama di wilayah yang rentan banjir tahunan. Sistem ini terbukti mampu meningkatkan produktivitas dan memberikan pendapatan lebih tinggi dibandingkan usahatani padi konvensional. Oleh karena itu, padi apung sangat potensial untuk dikembangkan di lahan-lahan yang selama ini tidak bisa dimanfaatkan secara optimal akibat genangan air.

baca juga

Meski menawarkan banyak keuntungan, pengembangan padi apung secara luas tetap memerlukan dukungan serius. Peran pemerintah menjadi krusial, baik dalam bentuk kebijakan, pelatihan, maupun penyediaan sarana produksi yang memadai. Selain itu, dibutuhkan riset lanjutan untuk menyempurnakan teknologi budidaya ini—terutama dalam hal model rakit yang lebih murah dan tahan lama, media tanam yang efektif, serta teknik perawatan yang dapat meningkatkan hasil panen secara berkelanjutan.

Temuan ini sejalan dengan hasil studi dalam jurnal Padi Apung sebagai Inovasi Petani terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pangandaran, yang menegaskan bahwa inovasi ini bukan sekadar solusi teknis, melainkan juga langkah nyata untuk membangun ketahanan pangan di tengah krisis iklim.

Padi apung bukan hanya soal panen. Ini tentang membangun kepercayaan bahwa masa depan pangan bisa tumbuh bahkan di atas rawa. Dengan inovasi dan gotong royong, lahan yang dulu terendam kini menjadi ladang harapan yang nyata.

Meski menjanjikan, pengembangan padi apung secara berkelanjutan membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah. Peran tersebut bisa berupa pendampingan teknis, kebijakan insentif, hingga penyediaan sarana produksi. Selain itu, perlu dilakukan penelitian lanjutan terkait model rakit yang lebih murah dan tahan lama, media tanam yang tepat, serta metode perawatan yang dapat mendorong produktivitas jangka panjang.

Hal ini sejalan dengan temuan dalam jurnal Padi Apung sebagai Inovasi Petani terhadap Dampak Perubahan Iklim di Pangandaran karya Siti Suhartini dan Asep Saeful Rohman (2022), yang menyebutkan bahwa sistem padi apung merupakan inovasi lokal petani dalam merespons dampak perubahan iklim. Penelitian tersebut menegaskan bahwa sistem ini tak hanya memberikan hasil panen yang lebih tinggi, tetapi juga membuka peluang untuk pertanian berkelanjutan yang adaptif terhadap krisis iklim.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ekonom Sarankan Prabowo Pakai Program Elektrifikasi Pertanian untuk Capai Ketahanan Pangan

Ekonom Sarankan Prabowo Pakai Program Elektrifikasi Pertanian untuk Capai Ketahanan Pangan

Bisnis | Senin, 26 Mei 2025 | 09:41 WIB

Bertani di Gedung Bertingkat: Teknologi Vertical Farming Jadikan Lahan Pertanian Bebas Pestisida

Bertani di Gedung Bertingkat: Teknologi Vertical Farming Jadikan Lahan Pertanian Bebas Pestisida

Lifestyle | Kamis, 22 Mei 2025 | 12:29 WIB

Kapolri-Mentan Panen Raya Jagung di Sulsel: Produksi Melonjak 39 Persen

Kapolri-Mentan Panen Raya Jagung di Sulsel: Produksi Melonjak 39 Persen

News | Sabtu, 17 Mei 2025 | 01:53 WIB

Terkini

Refleksi Mariposa 2: Belajar Mengerti Komitmen & Kedewasaan dalam Asmara

Refleksi Mariposa 2: Belajar Mengerti Komitmen & Kedewasaan dalam Asmara

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:20 WIB

IMF: Kekayaan Vietnam Lampaui Indonesia Tahun Ini Berkat Pembangunan Infrastruktur

IMF: Kekayaan Vietnam Lampaui Indonesia Tahun Ini Berkat Pembangunan Infrastruktur

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:17 WIB

Investor Asing Ramai-ramai Tarik Dana, Rupiah Ditutup Lesu ke Level Rp18.147

Investor Asing Ramai-ramai Tarik Dana, Rupiah Ditutup Lesu ke Level Rp18.147

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:15 WIB

4 Hydrating Cleanser Buat Melembapkan Kulit yang Sedang Kering dan Sensitif

4 Hydrating Cleanser Buat Melembapkan Kulit yang Sedang Kering dan Sensitif

Your Say | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:15 WIB

Banjir Rob Ganggu Aktivitas Nelayan Kerang Hijau di Muara Angke, Proses Pengolahan Molor

Banjir Rob Ganggu Aktivitas Nelayan Kerang Hijau di Muara Angke, Proses Pengolahan Molor

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:13 WIB

Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat

Ngamuk Cuma Diberi Rp10 Ribu, Pria Bermasker Hantam Kepala Nenek 71 Tahun di Lampung Barat

Lampung | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:12 WIB

Bedanya Sunscreen Skin Aqua Tutup Hijau dan Biru Apa? Cek Kecocokannya Sesuai Jenis Kulit

Bedanya Sunscreen Skin Aqua Tutup Hijau dan Biru Apa? Cek Kecocokannya Sesuai Jenis Kulit

Lifestyle | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:10 WIB

Telkom Raih "SOE In-House of The Year" di ALB Indonesia Law Awards 2026

Telkom Raih "SOE In-House of The Year" di ALB Indonesia Law Awards 2026

Bisnis | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:06 WIB

Mending HP Midrange Baru atau Mantan Flagship Bekas? Ini Analisis Plus Minusnya

Mending HP Midrange Baru atau Mantan Flagship Bekas? Ini Analisis Plus Minusnya

Tekno | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:04 WIB

Kenapa Orang Superkaya Raup Untung Berkali-kali Lipat dari Krisis Iklim?

Kenapa Orang Superkaya Raup Untung Berkali-kali Lipat dari Krisis Iklim?

News | Jum'at, 30 Oktober 2026 | 16:00 WIB

×