Alarm Bahaya dari Kutub: Saat Beruang Kutub Berjuang Melawan Perubahan Iklim

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 04 Juni 2025 | 11:32 WIB
Alarm Bahaya dari Kutub: Saat Beruang Kutub Berjuang Melawan Perubahan Iklim
Beruang kutub. [Shutterstock]

Suara.com - Di ujung utara planet ini, tempat angin berbisik di antara hamparan es dan cahaya aurora menari lembut di langit malam, hidup salah satu makhluk paling megah di dunia: beruang kutub. Dikenal secara ilmiah sebagai Ursus maritimus, hewan ini bukan hanya predator puncak di Arktik, tetapi juga simbol penting dari perubahan iklim yang semakin nyata.

Beruang kutub bukan hewan biasa. Mereka dibekali bulu transparan yang tampak putih, serta lapisan lemak tebal untuk bertahan dalam suhu ekstrem. Tubuh mereka, yang bisa mencapai berat hingga 680 kg, dirancang untuk mengarungi medan beku, memburu anjing laut, dan hidup di atas es laut. Sayangnya, es itu kini cepat mencair.

Perubahan iklim membuat musim dingin menjadi lebih pendek. Es laut, yang dulu kokoh selama sebagian besar tahun, kini datang terlambat dan pergi lebih awal. Artinya, waktu beruang kutub untuk berburu semakin sempit. Makanan sulit didapat. Energi menipis.

Beruang Kutub Dewasa (wikipedia)
Beruang Kutub Dewasa (wikipedia)

Beruang-beruang ini menghabiskan lebih banyak waktu di daratan, di mana sumber makanan mereka sangat terbatas. Penelitian di Manitoba Barat menunjukkan bahwa selama berada di darat, beberapa beruang kehilangan hingga 11% dari berat tubuhnya. Mereka mencoba bertahan dengan mencari tumbuhan atau buah, bahkan berenang jauh. Tapi upaya itu tidak cukup.

Saat ini, populasi global beruang kutub diperkirakan antara 22.000 hingga 31.000 individu. Angka ini terdengar besar. Tapi ketika habitat mereka menyusut tiap tahun, keberadaan mereka benar-benar terancam. Mereka diklasifikasikan sebagai spesies “Rentan” oleh IUCN.

Namun, ini bukan hanya soal kehilangan satu spesies. Ini soal ekosistem yang rapuh dan saling bergantung.

Beruang kutub adalah indikator penting dari kesehatan Arktik. Jika mereka tidak bisa bertahan, itu pertanda ada yang sangat salah dengan sistem planet kita.

Gunung Es Mencair Lebih Cepat, Risiko Global Meningkat

Gunung es di seluruh dunia mencair dengan kecepatan yang belum pernah tercatat sebelumnya.

baca juga

Sebuah studi terbaru yang diterbitkan di jurnal Nature mengungkapkan bahwa sejak tahun 2000, bumi telah kehilangan lebih dari 6.500 miliar ton es—setara dengan sekitar 5% total cadangan es dunia. Penemuan ini berdasarkan lebih dari 230 laporan oleh 35 tim peneliti internasional.

Angka itu setara dengan hilangnya 270 miliar ton es setiap tahun. Untuk membayangkannya: jumlah ini sebanding dengan konsumsi air semua orang di dunia selama tiga dekade, jika tiap orang minum tiga liter per hari.

Mencairnya Gunung Es

Mencairnya es bukan hanya soal perubahan lanskap. Ini soal hidup dan bertahan.

Gunung es menyimpan air tawar yang menjadi tumpuan hidup ratusan juta orang, terutama di wilayah pegunungan dan dataran tinggi. Mereka ibarat “bank air”—melepas cadangan air secara perlahan saat musim panas, ketika kebutuhan melonjak. Jika cadangan ini menghilang, banyak kawasan menghadapi ancaman kekeringan parah.

Ilustrasi gunung es yang mencair. (Photo by Pixabay/Pexels)
Ilustrasi gunung es yang mencair. (Photo by Pixabay/Pexels)

Tak hanya itu. Es yang mencair juga berarti naiknya permukaan laut. Satu sentimeter kenaikan mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya besar. Dua juta orang tambahan berisiko terkena banjir tahunan hanya karena kenaikan setipis itu.

Sejak tahun 1900, permukaan laut dunia telah naik lebih dari 20 sentimeter. Setengah dari kenaikan itu terjadi setelah 1990.

Para ilmuwan sepakat: sekalipun pemanasan global dihentikan hari ini, gunung es tetap akan mencair dalam beberapa dekade ke depan. Tapi kita masih bisa memperlambat lajunya.

Jika dunia berhasil menekan emisi dan mencapai target iklim global, hanya sekitar seperempat volume es gunung yang hilang hingga akhir abad ini. Tapi jika pemanasan terus dibiarkan, hampir separuh dari seluruh es gunung dunia bisa lenyap.

Itu bukan sekadar statistik. Itu berarti hilangnya sumber air, menguatnya risiko bencana, dan lenyapnya keseimbangan ekosistem yang telah menopang kehidupan selama ribuan tahun.

Pesan para peneliti jelas: krisis ini bukan tak terhindarkan. Kita punya pilihan. Kita bisa mengurangi emisi, mempercepat transisi energi, dan memperkuat komitmen pada perlindungan lingkungan.

Gunung es mencair diam-diam, tapi dampaknya menggema ke seluruh dunia. Kita tidak bisa menunggu semuanya hilang untuk mulai peduli.

Meski kenyataannya suram, ada harapan. Banyak organisasi dan negara telah mengambil langkah. Perjanjian Beruang Kutub 1973 menyatukan negara-negara Arktik untuk melindungi spesies ini. Saat ini, fokus utama adalah dua hal: mengurangi emisi gas rumah kaca secara global dan mengelola aktivitas manusia di Arktik agar tidak memperburuk situasi.

Beberapa komunitas lokal di wilayah Arktik juga mulai terlibat aktif. Mereka memantau populasi beruang secara langsung, membantu peneliti, dan menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam. Teknologi seperti pelacak satelit kini digunakan untuk mempelajari pola migrasi dan kondisi tubuh beruang kutub secara real-time.

Beruang kutub bukan sekadar korban. Mereka juga simbol ketahanan. Bulu mereka yang memantulkan cahaya, kulit gelap yang menyerap panas, dan kemampuan induk beruang membesarkan anak-anaknya dalam suhu ekstrem adalah bukti bahwa alam selalu mencari cara untuk bertahan.

Tetapi kali ini, mereka tidak bisa melakukannya sendiri.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Terobosan RIPE: Rekayasa Genetika Selamatkan Ketahanan Pangan dari Krisis Iklim?

Terobosan RIPE: Rekayasa Genetika Selamatkan Ketahanan Pangan dari Krisis Iklim?

Your Say | Rabu, 04 Juni 2025 | 11:03 WIB

Kota Masa Depan: Alam, Limbah, dan Aksi Iklim yang Terintegrasi

Kota Masa Depan: Alam, Limbah, dan Aksi Iklim yang Terintegrasi

Your Say | Rabu, 04 Juni 2025 | 09:38 WIB

Curug Kondang, Wisata Air Terjun di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Curug Kondang, Wisata Air Terjun di Taman Nasional Gunung Halimun Salak

Your Say | Rabu, 04 Juni 2025 | 09:29 WIB

Terkini

Umpan Lowongan Kerja: Pria di Tulang Bawang Cekoki Miras dan Cabuli Remaja Lekaki 15 Tahun

Umpan Lowongan Kerja: Pria di Tulang Bawang Cekoki Miras dan Cabuli Remaja Lekaki 15 Tahun

Lampung | Sabtu, 19 September 2026 | 14:47 WIB

Berapa Kapasitas Mesin Cuci untuk Mencuci Bedcover King Size?

Berapa Kapasitas Mesin Cuci untuk Mencuci Bedcover King Size?

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 14:43 WIB

Muhammadiyah Sentil Menkeu Baru, Jangan Biarkan Rupiah Jatuh Terus

Muhammadiyah Sentil Menkeu Baru, Jangan Biarkan Rupiah Jatuh Terus

Jogja | Sabtu, 19 September 2026 | 14:41 WIB

Mengapa Krim Malam Tidak Boleh Digunakan pada Siang Hari Meski di Dalam Ruangan?

Mengapa Krim Malam Tidak Boleh Digunakan pada Siang Hari Meski di Dalam Ruangan?

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 14:31 WIB

Polemik Royalti Musik, Pelaku Usaha Bingung, Pekerja Seni Menunggu Hak

Polemik Royalti Musik, Pelaku Usaha Bingung, Pekerja Seni Menunggu Hak

Jogja | Sabtu, 19 September 2026 | 14:31 WIB

Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah

Pasti Ada Jalan Keluar: Mengubah Cara Pandang dalam Menghadapi Masalah

Your Say | Sabtu, 19 September 2026 | 14:30 WIB

Mengenal BIOSRA Kasihan: Bioskop Rakyat yang Satukan Warga Lewat Film

Mengenal BIOSRA Kasihan: Bioskop Rakyat yang Satukan Warga Lewat Film

Video | Sabtu, 19 September 2026 | 14:30 WIB

Apakah Sheet Mask Boleh Dibawa Tidur Semalaman? Ketahui Risikonya

Apakah Sheet Mask Boleh Dibawa Tidur Semalaman? Ketahui Risikonya

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 14:25 WIB

Bukan Cuma Soal Motif, Ini yang Perlu Dipertimbangkan Saat Memilih Keramik Rumah Agar Lebih Higienis

Bukan Cuma Soal Motif, Ini yang Perlu Dipertimbangkan Saat Memilih Keramik Rumah Agar Lebih Higienis

Lifestyle | Sabtu, 19 September 2026 | 14:24 WIB

Patroli Siber Bongkar Kelompok Remaja Bersenjata di Kudus, Tawuran Dicegah Sebelum Terjadi

Patroli Siber Bongkar Kelompok Remaja Bersenjata di Kudus, Tawuran Dicegah Sebelum Terjadi

Jawa Tengah | Sabtu, 19 September 2026 | 14:23 WIB

×