Utang Amerika Serikat Tembus Rp48.900 Triliun, Ini Penyebabnya

Chandra Iswinarno | Rina Anggraeni | Suara.com

Senin, 07 Juli 2025 | 13:32 WIB
Utang Amerika Serikat Tembus Rp48.900 Triliun, Ini Penyebabnya
Presiden Amerika Serikat Donald Trump meluapkan kegembiraannya atas pengesahan RUU Anggaran Besar. (Instagram)

Suara.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut gembira pengesahan RUU Anggaran Besar yang digagasnya sendiri.

Namun, di balik sorakannya, paket kebijakan fiskal itu justru diperkirakan akan mendorong lonjakan utang nasional Amerika Serikat hingga level yang mengkhawatirkan.

Dilansir BBC, Utang Amerika Serikat diprediksi akan bertambah setidaknya 3 triliun dolar AS atau sekitar Rp48.900 triliun.

Lonjakan ini memicu gelombang kritik dari para pengamat ekonomi hingga sejumlah tokoh terkaya di Amerika, yang menyasar langsung pada kebijakan Trump.

Peningkatan utang yang terus terjadi menimbulkan pertanyaan besar di kalangan global: apakah negara lain masih mau terus meminjamkan uang kepada Amerika Serikat?

Kekhawatiran ini mulai tercermin dalam pelemahan nilai dolar dan tingginya suku bunga yang diminta oleh investor untuk meminjamkan dana ke AS.

Amerika harus terus menerbitkan utang guna menutup defisit antara pendapatan dan belanja pemerintah setiap tahunnya.

Sejak awal tahun ini, nilai dolar AS telah melemah 10 persen terhadap pound sterling dan 15 persen terhadap Euro.

Walaupun secara umum biaya pinjaman AS tetap stabil, terdapat peningkatan selisih antara suku bunga pinjaman jangka pendek dan jangka panjang—dikenal sebagai kurva imbal hasil.

Kondisi ini mengindikasikan keraguan pasar atas keberlanjutan utang AS dalam jangka panjang.

Faktor lain yang memperparah kondisi ini adalah sikap The Fed yang lebih lambat dalam menurunkan suku bunga dibandingkan Uni Eropa dan Inggris.

Padahal secara teori, kondisi tersebut seharusnya membuat dolar AS lebih kuat karena imbal hasil simpanan menjadi lebih tinggi.

Pendiri perusahaan hedge fund Bridgewater Associates, Ray Dalio, menyatakan bahwa posisi utang AS saat ini sudah berada di titik genting.

Pada lintasannya saat ini, ia memperkirakan AS akan segera menghabiskan 10 triliun dolar AS per tahun hanya untuk membayar pokok dan bunga utang.

"Saya yakin bahwa kondisi keuangan pemerintah (AS) berada pada titik kritis karena, jika ini tidak ditangani sekarang, utang akan menumpuk ke tingkat yang tidak dapat dikelola tanpa trauma besar," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

AS Beri Diskon Tarif ke Vietnam, Indonesia Gigit Jari! Negosiasi Masih Buntu?

AS Beri Diskon Tarif ke Vietnam, Indonesia Gigit Jari! Negosiasi Masih Buntu?

Bisnis | Kamis, 03 Juli 2025 | 16:55 WIB

Perang Tarif AS-China Dorong RI Jadi Pusat Manufaktur dan Rantai Pasok Global

Perang Tarif AS-China Dorong RI Jadi Pusat Manufaktur dan Rantai Pasok Global

Bisnis | Jum'at, 27 Juni 2025 | 13:38 WIB

China Kasih Peringatan Keras Bagi Negara Lain yang Nego ke AS Soal Tarif Resiprokal

China Kasih Peringatan Keras Bagi Negara Lain yang Nego ke AS Soal Tarif Resiprokal

Bisnis | Senin, 21 April 2025 | 14:32 WIB

Terkini

Dokter Anak Ingatkan Bahaya Jemur Bayi di Bawah Matahari Terik

Dokter Anak Ingatkan Bahaya Jemur Bayi di Bawah Matahari Terik

News | Senin, 13 April 2026 | 19:06 WIB

Tepis Isu Prabowo Antikritik, KSP: Kritik Silakan, Tapi Pakai Data dan Teori

Tepis Isu Prabowo Antikritik, KSP: Kritik Silakan, Tapi Pakai Data dan Teori

News | Senin, 13 April 2026 | 18:45 WIB

Pramono Anung Jamin Aturan Penyediaan Air Tak Akan 'Sandera' Kebutuhan Warga Jakarta

Pramono Anung Jamin Aturan Penyediaan Air Tak Akan 'Sandera' Kebutuhan Warga Jakarta

News | Senin, 13 April 2026 | 18:43 WIB

DPR dan Pemerintah Sepakat Bawa RUU Perlindungan Saksi-Korban ke Paripurna

DPR dan Pemerintah Sepakat Bawa RUU Perlindungan Saksi-Korban ke Paripurna

News | Senin, 13 April 2026 | 18:38 WIB

Survei Poltracking: Prabowo Unggul di Top of Mind Capres 2029, Dedi Mulyadi dan Anies Menyusul

Survei Poltracking: Prabowo Unggul di Top of Mind Capres 2029, Dedi Mulyadi dan Anies Menyusul

News | Senin, 13 April 2026 | 18:36 WIB

Rentetan OTT Kepala Daerah, Tito Sebut Ada Masalah Mendasar dalam Rekrutmen Pilkada

Rentetan OTT Kepala Daerah, Tito Sebut Ada Masalah Mendasar dalam Rekrutmen Pilkada

News | Senin, 13 April 2026 | 18:15 WIB

Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!

Mendagri Sentil Daerah yang Ragu Soal WFH ASN: Ini Bukan Opsional!

News | Senin, 13 April 2026 | 18:09 WIB

Ibu dan Anak Tewas Terlindas Bus AKAP di Depan Terminal Kampung Rambutan

Ibu dan Anak Tewas Terlindas Bus AKAP di Depan Terminal Kampung Rambutan

News | Senin, 13 April 2026 | 18:06 WIB

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

Jubir Buka Peluang JK Dialog soal Laporan Dugaan Penistaan Agama

News | Senin, 13 April 2026 | 18:00 WIB

Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal

Tak Semua Penghijauan Berdampak Positif, Studi Ungkap Ancaman di Balik Penanaman Pohon Massal

News | Senin, 13 April 2026 | 17:55 WIB