Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara

Dwi Bowo Raharjo | Lilis Varwati | Suara.com

Rabu, 07 Januari 2026 | 12:20 WIB
Paradoks Kebahagiaan Rakyat: Ketika Tawa Menutupi Pemiskinan yang Diciptakan Negara
Ilustrasi pemukiman padat penduduk di kawasan Kebon Melati, Tanah Abang, Jakarta Pusat. [Suara.com/Alfian Winanto]
  • Survei GFS Harvard menunjukkan Indonesia bahagia meski belum sejahtera, memicu reaksi haru Presiden Prabowo.
  • Sosiolog UGM menilai kebahagiaan adaptif bisa menghambat kesadaran kritis terhadap ketidakadilan struktural oleh oligarki.
  • Kebahagiaan tersebut berpotensi melegitimasi status quo dan menutupi masalah pemiskinan struktural sistematis di masyarakat.

Suara.com - Survei Global Flourishing Study (GFS) dari Universitas Harvard yang menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan masyarakat paling bahagia meski belum sejahtera, sukses bikin Presiden Prabowo Subianto terharu.

Namun, dibalik temuan itu dinilai tersimpan sebuah paradoks sosial yang tidak sederhana.

Kebahagiaan yang muncul di tengah keterbatasan ekonomi, bisa jadi menyimpan risiko serius, yakni melemahnya kesadaran kritis atas ketidakadilan struktural yang dialami masyarakat.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM) BG Widyanta menjelaskan, kebahagiaan adaptif yang tumbuh di tengah masyarakat Indonesia tidak selalu menjadi kekuatan yang membebaskan.

Dalam konteks tertentu, kebahagiaan itu justru bisa menghambat tuntutan perubahan.

"Kebahagiaan adaptif yang muncul di dalam masyarakat itu ternyata justru menghambat kesadaran kritisnya, melemahkan tuntutan perubahan struktural yang diciptakan oleh para oligarki. Saya kira memang paradoksnya disitu," kata Widyanta kepada Suara.com, Selasa (6/1/2026).

Basis solidaritas sosial dan daya juang masyarakat yang selama ini dipuji, seperti sikat gotong royong, mudah menerima, dan ketahanan hidup, bisa berubah fungsi.

Dari kekuatan sosial, beralih menjadi legitimasi atas ketidakadilan.

Widyanta secara kritis juga menyebut kalau rasa haru Presiden Prabowo dalam menanggapi survei itu justru berpotensi berhenti sebagai simbol, bahkan menjadi bagian dari gaya populisme belaka.

"Dalam konteks ini seolah-olah Prabowo merasa terharu, seolah-olah itu sebagai bentuk kepedulian. bagi saya itu lip service, sebuah gaya populisme demagog yang tidak selayaknya untuk dia membanggakan itu," ucapnya.

Ia menilai, ada ironi besar ketika elite merasa terharu atas ketangguhan rakyat, sementara pada saat yang sama struktur ekonomi dan politik justru terus menekan kelompok miskin.

Dalam situasi ini, menurutnya, pemerintah justru melihat ketangguhan rakyat bukan sebagai alarm bahaya, melainkan dijadikan alasan untuk melanggengkan status quo.

"Masyarakat itu bukan miskin, ini adalah pemiskinan, bukan kemiskinan. Itu yang tidak pernah dipikirkan atau tidak menjadi pemikiran dominan di dalam masyarakat Indonesia hari ini," kritik Widyanta.

Ia menekankan, kebahagiaan tidak boleh membuat masyarakat menyangkal hak-hak dasarnya, hak atas pekerjaan layak, pendidikan, kesehatan, dan kehidupan yang bermartabat.

"Makna kebahagiaan itu memang kita otentik muncul dari dalam, dalam situasi sulit pun kita masih bisa mencari makna hidup sehingga bisa survive," kata dia.

"Hanya saja jangan sampai membiarkan para elit oligarki itu semakin menjarah kita, sehingga masyarakat juga harus menuntut haknya. Tidak boleh masyarakat ini menyangkal hak-hak dasar sebagai warga, mereka harus berani nuntut," katanya menambahkan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM

Benarkah Rakyat Indonesia Bahagia Meski Belum Sejahtera? Begini Pandangan Sosiolog UGM

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 11:15 WIB

Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor

Prabowo Agenda Panen Raya di Karawang, Zulhas dan Bobby Naik Motor

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 10:07 WIB

Istana Prihatin Atas Teror Terhadap Influencer, Minta Polisi Lakukan Investigasi

Istana Prihatin Atas Teror Terhadap Influencer, Minta Polisi Lakukan Investigasi

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 07:17 WIB

Percepat Pemulihan Sumatra, Prabowo Bentuk Satgas Khusus Dipimpin Tito Karnavian

Percepat Pemulihan Sumatra, Prabowo Bentuk Satgas Khusus Dipimpin Tito Karnavian

News | Rabu, 07 Januari 2026 | 07:08 WIB

Terkini

Mendagri Tito: Mayoritas Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Berangsur Normal

Mendagri Tito: Mayoritas Wilayah Terdampak Banjir di Sumatera Berangsur Normal

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:56 WIB

Maimon Herawati Ungkap 'Silent Hero' di Balik Bebasnya 428 Relawan Global Sumud Flotilla

Maimon Herawati Ungkap 'Silent Hero' di Balik Bebasnya 428 Relawan Global Sumud Flotilla

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:47 WIB

Janji Humanis Cuma Slogan? Aksi Kasar Satpol PP Usir Tukang Es Krim di CFD Jakarta Panen Kecaman

Janji Humanis Cuma Slogan? Aksi Kasar Satpol PP Usir Tukang Es Krim di CFD Jakarta Panen Kecaman

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 21:22 WIB

Sinyal Hijau Membawa Petaka? Menelusuri Penyebab Tabrakan Argo Bromo vs KRL di Bekasi Timur

Sinyal Hijau Membawa Petaka? Menelusuri Penyebab Tabrakan Argo Bromo vs KRL di Bekasi Timur

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:42 WIB

Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres

Mangkir Dua Kali, Polisi Bakal Jemput Paksa Terduga Pelaku Pemerkosa Siswi SLB Kalideres

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:39 WIB

'Kami Diperlakukan Seperti Hewan!' Kesaksian Relawan Indonesia yang Ditawan Militer Israel

'Kami Diperlakukan Seperti Hewan!' Kesaksian Relawan Indonesia yang Ditawan Militer Israel

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:12 WIB

Duduk Perkara Kakek Mujiran Dipenjara Gegara Laporan PTPN I, BP BUMN Bereaksi

Duduk Perkara Kakek Mujiran Dipenjara Gegara Laporan PTPN I, BP BUMN Bereaksi

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 20:05 WIB

Soroti Rentetan Kasus Kekerasan, Lukman Hakim Saifuddin: Kondisi Saat Ini Sangat Mencemaskan

Soroti Rentetan Kasus Kekerasan, Lukman Hakim Saifuddin: Kondisi Saat Ini Sangat Mencemaskan

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:50 WIB

Listrik Sumatra Utara Sudah Pulih 100 Persen, PLN Minta Warga Waspada Hoaks

Listrik Sumatra Utara Sudah Pulih 100 Persen, PLN Minta Warga Waspada Hoaks

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 19:25 WIB

Penuh Haru! 9 WNI Korban Penyekapan Israel Akhirnya Tiba di Indonesia

Penuh Haru! 9 WNI Korban Penyekapan Israel Akhirnya Tiba di Indonesia

News | Minggu, 24 Mei 2026 | 18:38 WIB