Dedi Mulyadi dan Willy Bongkar Sisi Gelap Gunung Emas: 70 Ribu Gurandil dan Raup 250 Kg Emas

Andi Ahmad S Suara.Com
Kamis, 15 Januari 2026 | 23:34 WIB
Dedi Mulyadi dan Willy Bongkar Sisi Gelap Gunung Emas: 70 Ribu Gurandil dan Raup 250 Kg Emas
Dedi Mulyadi mewawancarai sosok bernama Willy, seorang "dedengkot" atau tokoh yang sangat disegani di kalangan penambang emas tanpa izin (PETI) alias gurandil.[Youtube Dedi Mulyadi]
Baca 10 detik
  • Peristiwa dugaan kebocoran gas di PT Antam Pongkor memicu ingatan publik akan sejarah kelam pertambangan liar yang melibatkan puluhan ribu pendatang dari berbagai penjuru Nusantara demi mencari peruntungan butiran emas.

  • Willy, mantan tokoh penambang liar, mengungkap bahwa puluhan ribu gurandil dahulu menguasai Gunung Pongkor hingga mampu mengalahkan operasional resmi Antam melalui kekuatan massa yang besar serta konflik fisik yang mencekam.

  • Meskipun meraup penghasilan fantastis hingga ratusan juta rupiah per hari, Willy menyesali masa lalunya karena uang tersebut habis untuk hura-hura tanpa bekas serta telah merusak kelestarian alam Gunung Pongkor.

Suara.com - Peristiwa mencekam dugaan kebocoran gas di area PT Antam Pongkor pada Rabu (14/1) kemarin, seolah membuka kembali kotak pandora tentang sejarah panjang dan kelam di kaki Gunung Halimun Salak.

Di tengah sulitnya akses informasi resmi mengenai nasib para korban di lubang tambang, netizen kembali menyoroti sebuah video lawas yang kini relevan kembali.

Video tersebut berasal dari kanal YouTube Kang Dedi Mulyadi yang diunggah empat tahun silam, jauh sebelum dirinya menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.

Dalam video tersebut, Dedi mewawancarai sosok bernama Willy, seorang "dedengkot" atau tokoh yang sangat disegani di kalangan penambang emas tanpa izin (PETI) alias gurandil.

Percakapan mereka membuka tabir gelap bagaimana ribuan manusia pernah menjajah" kekayaan alam negara di bawah hidung BUMN.

Fakta yang diungkap Willy sangat mencengangkan. Gunung Pongkor bukan hanya sekadar area tambang, melainkan magnet ekonomi yang menyedot puluhan ribu orang dari seluruh penjuru nusantara.

Willy menceritakan bahwa pada masa jayanya, Gunung Pongkor dipadati oleh manusia yang bertaruh nyawa demi kilau emas.

"70 ribu, dari Sabang sampai merauke, (jadi penambang liar itu bukan orang sini saja? ) bukan, warga di sini tidak sebanding dengan pendatang, jumlah pendatang lebih banyak dibanding lokal," ungkap Willy kepada Dedi Mulyadi di akun YouTubenya dilansir Kamis 15 Januari 2026.

Bayangkan, sebuah kota kecil dadakan terbentuk di atas gunung, diisi oleh pendatang yang lebih dominan daripada warga lokal, semuanya berebut remah-remah emas dari perut bumi.

Baca Juga: Buntut Kasus Aurelie Moeremans, Komisi XIII DPR Akan Gelar Rapat Gabungan Bahas 'Child Grooming'

Besarnya jumlah massa membuat para gurandil ini memiliki kekuatan yang menakutkan, bahkan bagi perusahaan negara sekelas PT Antam. Willy blak-blakan menyebut bahwa konflik fisik dan baku hantam adalah makanan sehari-hari di lubang tambang.

"Itu satu lobang itu bisa dibagi banyak, dengan berebutan dulu, ribuan lubang. Satu lubang oleh bersama. Dan tidak terlepas dari keributan, konflik biasa," jelasnya.

Lebih mengejutkan lagi, pada era tersebut, kekuatan massa penambang liar mampu membuat operasional resmi perusahaan terganggu.

"Dulu Antam terkalahkan sama yang liar. Karena ada sedikit gejolak, Antam diserang. Kalau ada oprasi ,antam diserang. Itu dulu," kenang Willy.

Ini menggambarkan betapa liarnya hukum rimba yang berlaku saat itu.

Willy mengungkap data produksi yang bikin geleng-geleng kepala. "Dulu sampai 250 kg per hari," klaimnya mengenai total material atau hasil yang didapat komunitas penambang kala itu.

Secara personal, Willy mengaku bisa mengantongi uang tunai dalam jumlah fantastis. Di era tahun 1997-2002, saat harga emas masih berkisar Rp100.000 per gram, ia sudah menjadi "sultan".

"Di zaman itu tahun 97 sampai 2002 itu emas masih beriisaran 100 ribu. Sehari 20 juta, sama dengan 200 juta per hari (2022)," jelas dia.

Jika dikonversi dengan harga emas hari ini (15 Januari 2026) yang menyentuh angka Rp2.675.000 per gram, nilai kekayaan yang berputar di sana sungguh tak terbayangkan.

Namun, uang panas tidak pernah membawa ketenangan. Willy menutup kisahnya dengan sebuah penyesalan mendalam. Harta yang didapat dengan cara merusak alam dan melawan hukum, habis begitu saja tanpa bekas.

"Hanya hura-hura, yang ga punya arah. Dulu saya perusak, sekarang memperbaiki," tutup dia dengan nada penuh penyesalan.

Kontributor : Egi Abdul Mugni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kamu Tipe Wanita Alpha, Sigma, Beta, Delta, Gamma, atau Omega?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Motor Impian Paling Pas dengan Gaya Hidup, Apakah Sudah Sesuai Isi Dompetmu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Transformasi Geometri dan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Bangun Ruang dan Statistika
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Bisa Ganti Pekerjaan, Apa Profesi Paling Pas Buat Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Tipe Traveler Macam Apa Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Member CORTIS yang Akan Kasih Kamu Cokelat Valentine?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 12 SMA Lengkap dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pilih Satu Warna, Ternyata Ini Kepribadianmu Menurut Psikologi
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 16 Soal Bahasa Indonesia untuk Kelas 9 SMP Beserta Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI