- Warga di TIM saksikan Gerhana Bulan via streaming akibat cuaca buruk.
- Hujan dan awan tebal hambat pengamatan langsung Gerhana Bulan di Jakarta.
- Panitia HAAJ ajak pengunjung amati objek lain saat bulan tertutup mendung.
Suara.com - Antusiasme masyarakat memadati pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa (3/3/2026) sore. Ratusan orang berkumpul demi menyaksikan fenomena langka Gerhana Bulan Total melalui teropong yang telah disiapkan oleh panitia.
Bagi Airin, salah satu pengunjung asal Jakarta, rasa penasaran menjadi alasan utamanya hadir. Selama ini, ia hanya bisa melihat fenomena astronomi melalui layar ponsel.
“Saya penasaran ingin melihat langsung menggunakan teropong. Sebelumnya, saya juga sempat masuk ke planetarium mini untuk belajar rasi bintang seperti Sagitarius dan Scorpio,” ujarnya.
Semangat serupa ditunjukkan oleh Anis, yang mengaku tidak keberatan harus mengantre panjang demi mendapatkan kesempatan mengintip ke langit malam.
"Pokoknya harus bisa melihat," katanya optimis.
![Antusiasme masyarakat memadati pelataran Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada Selasa (3/3/2026) sore. Ratusan orang berkumpul demi menyaksikan fenomena langka Gerhana Bulan Total melalui teropong yang telah disiapkan oleh panitia. [Suara.com/Dinda]](https://media.suara.com/pictures/original/2026/03/04/93802-gerhana-bulan-total-di-tim.jpg)
Namun, faktor cuaca menjadi kendala utama. Selepas Magrib, langit Jakarta mulai tertutup awan tebal disertai angin kencang. Humaida, anggota Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ), mengakui bahwa pengamatan luar ruangan sangat bergantung pada kondisi alam.
“Meski persiapan sudah matang, kami tetap harus berhadapan dengan alam,” jelasnya.
Ketika bulan sulit terpantau, tim HAAJ sempat mengarahkan teleskop ke objek lain yang lebih terang seperti planet Jupiter dan bintang Sirius. Namun, kondisi kian memburuk saat gerimis mulai turun. Kekecewaan tidak dapat disembunyikan oleh Ibu Rika, yang datang jauh-jauh dari Bogor bersama putranya, Zidan.
"Agak sedih karena saat bulan muncul, sebenarnya sudah masuk fase total. Tapi masalah cuaca memang tidak bisa dikendalikan," tutur Ibu Rika.
Baca Juga: Sediakan 6 Teleskop, Planetarium Jakarta Ajak Warga Amati Gerhana Bulan Total
Zidan pun merasakan hal serupa, apalagi ini merupakan pengalaman pertamanya mencoba melihat gerhana secara langsung. Meski demikian, ia bertekad untuk kembali pada gerhana tahun 2028 mendatang.
Guna mengobati kekecewaan pengunjung, panitia sempat mengarahkan teleskop ke puncak gedung-gedung tinggi di Jakarta. Langkah ini dilakukan agar masyarakat tetap mendapatkan pengalaman membandingkan penglihatan mata telanjang dengan bantuan lensa optik.
"Setidaknya mereka mendapatkan experience, meskipun bukan objek langit langsung," tambah Humaida.
Sekitar pukul 19.30 WIB, hujan turun semakin deras. Petugas dengan sigap mengevakuasi peralatan teleskop ke area yang aman. Karena pengamatan langsung tidak lagi memungkinkan, pada pukul 19.40 WIB, panitia mengarahkan pengunjung masuk ke dalam gedung untuk menyaksikan Gerhana Bulan Total melalui sesi live streaming bersama.
Meski hanya melalui layar digital, kebersamaan di dalam ruangan tetap menjaga antusiasme warga dalam mengagumi fenomena alam tersebut sebagai penawar kekecewaan atas langit yang tertutup mendung.
_____________________________