- Dosen UGM menyarankan Indonesia keluar dari Board of Peace (BoP) sebab konflik AS-Israel dan Iran menunjukkan kontradiksi.
- BoP dinilai membahayakan perdamaian global dan mempolarisasi negara, bertentangan dengan kebijakan luar negeri bebas aktif Indonesia.
- Bertahan di BoP berisiko merusak reputasi Indonesia yang menganut prinsip antikolonialisme, disarankan beralih ke The Hague Group.
Indonesia yang memegang teguh Dasasila Bandung dan prinsip antikolonialisme dianggap melakukan kesalahan besar jika tetap menjadi bagian dari koalisi yang bersifat agresor ini.
"Harga terbesar saya kira reputasi Indonesia, mungkin tidak langsung untuk saat ini tapi untuk generasi mendatang dan segala macam, sejarah akan mencatat Indonesia menjadi bagian dari agresor, complicit, dan saya kira sebagai warga negara Indonesia saya tidak mau," tandasnya.
Sebagai alternatif, Diah menyarankan Indonesia untuk memperkuat aliansi dengan kelompok yang lebih konsisten membela Palestina, seperti The Hague Group.
Kelompok yang dimotori oleh Afrika Selatan dan Kolombia ini dianggap sebagai sekutu yang lebih setia pada prinsip hukum internasional dan kemerdekaan Palestina dibandingkan Board of Peace.
"Jadi kalau cuman urusan cari teman, cari sekutu, cari aliansi untuk mendukung kemerdekaan Palestina, ada teman-teman yang lebih benar, lebih setia pada perjuangan ini daripada Board of Peace," pungkasnya.