-
Lawrence Wilkerson memperingatkan potensi penggunaan senjata nuklir oleh Benjamin Netanyahu dalam perang Iran.
-
Infrastruktur militer Amerika Serikat di Timur Tengah mengalami kehancuran parah akibat konfrontasi tersebut.
-
Penutupan Selat Bab al-Mandeb oleh Houthi mengancam lumpuhnya stabilitas ekonomi dan pangan global.
Meski ada pernyataan optimis dari Gedung Putih, fakta di lapangan menunjukkan bahwa militer Amerika Serikat sebenarnya sedang mengalami kerugian besar.
Infrastruktur pertahanan radar yang sangat mahal di wilayah Bahrain dilaporkan telah mengalami kerusakan fungsional yang cukup parah akibat serangan.
Kondisi ini diperparah dengan hancurnya fasilitas logistik persenjataan yang memaksa armada laut Amerika harus melakukan perjalanan sangat jauh.
Kapal-kapal perang kini harus menuju Diego Garcia hanya untuk melakukan pengisian ulang amunisi karena pangkalan di dekat area konflik sudah lumpuh.
Situasi di pangkalan Al-Udeid dan Kuwait pun dilaporkan dalam kondisi genting sehingga menghambat rencana operasi darat yang lebih luas.
Wilkerson menilai bahwa Amerika Serikat telah melakukan kesalahan fatal dalam mengukur kekuatan militer dan ketahanan nasional yang dimiliki oleh Iran.
Dengan jumlah penduduk yang sangat besar dan kondisi geografis yang menantang, invasi darat dianggap sebagai kebijakan yang akan menghancurkan ekonomi Amerika.
"Ini adalah awal dari mundurnya kekaisaran Amerika dari Timur Tengah," tegasnya dalam sebuah wawancara yang membedah kondisi geopolitik terkini.
Ia juga menyoroti peran kelompok Houthi yang berpotensi memblokade jalur perdagangan laut paling strategis di wilayah Selat Bab al-Mandeb.
Baca Juga: Kapal Tanker Meledak Kena Serangan Iran, Harga Minyak Kembali 'Mendidih'
Pemutusan jalur logistik internasional ini diprediksi akan memicu krisis ekonomi global yang mempengaruhi ketersediaan energi dan juga bahan pangan dunia.
Terakhir, Wilkerson menyinggung adanya upaya pembatasan informasi yang sangat ketat oleh militer Israel terhadap pemberitaan media-media internasional saat ini.
Sensor ini membuat publik di Amerika Serikat tidak mendapatkan gambaran utuh mengenai tingkat kerusakan yang sebenarnya terjadi di kota besar seperti Tel Aviv.
Rakyat tidak menyadari bahwa kekuatan militer negaranya sedang menghadapi potensi kekalahan taktis yang bisa mengubah sejarah dunia secara permanen.
Tanpa transparansi, publik hanya disuguhi narasi kemenangan sementara ancaman perang nuklir dan kehancuran ekonomi dunia sudah berada di depan mata.
Eskalasi yang terus berlanjut ini menjadi ujian terberat bagi diplomasi internasional dalam upaya mencegah terjadinya bencana kemanusiaan yang lebih mengerikan.